50

1K 99 8
                                        

Jalin Kasih








"Kenapa?"


Marka memejamkan matanya bersamaan dengan satu tetes air matanya yang jatuh

Nanda masih bisa bertanya kenapa setelah wanita itu membombardirnya dengan panggilan saat ia ada di kantor tadi


"Lo yang kenapa Nan? Gue telfon dari tadi kenapa gak diangkat!"


Marka mengetukkan kakinya ke lantai dengan gelisah. Pesannya tak kunjung dibalas oleh Nanda. Kemana wanita itu pergi. Apa ia ditinggalkan begitu saja?

Disana memang sudah dini hari, tapi.. Marka hanya mau pastikan istrinya baik baik saja, atau setidaknya ia ingin tau alasan mengapa tiga orang itu menghubunginya di waktu yang bersamaan tadi


"Nanda, lo kenapa diem aja? Jawab gue"


Marka yang tak sabaran pun kembali mengirimkan pesan

Satu menit

Dua menit

Tiga menit

Nanda masih belum membalas pesannya

Menunggu memang menyebalkan. Setiap detiknya pasti terasa menyiksa dan Marka sedang alami itu kali ini

"Nan, bales gue. Hera kenapa? Lo kenapa telfon gue tadi? Jenov juga telfon.  Jangan kayak anjing ya lo berdua. Bales pesan gue!"

Marka bahkan mengucapkan apa yang ia tulis di pesannya itu dengan nada yang meninggi

Lelaki itu geram sekali, kenapa orang-orang menyebalkan sekali hari ini

Marka banting ponselnya ke atas tempat tidur, sementara punggungnya ia sandarkan kasar ke sandaran sofa

Ia tutup wajahnya dengan kedua tangan. Kali ini ia menangis dengan sedikit sesenggukan

Jika Nanda masih belum beritahukan kondisi Hera padanya. Ia tak akan segan ambil penerbangan terdekat untuk antarkan ia pada kekasihnya 

Ia mau pastikan sendiri Hera baik-baik saja

Ia tak peduli dengan tugas kantornya

Ia tak akan hadiri makan malam dengan keluarga Catherine

Biarlah ia dipecat, biarlah Jenov mencapnya tidak profesional dan tidak punya dedikasi

Peduli apa ia pada Jenov

Ia kesal sekali


Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring, ia sempat terjingkat sebelum dengan cepat meraih benda itu dan langsung bergerak cepat duduk di tepi kasur

Kedua matanya ia usap kasar, Nanda melakukan panggilan video padanya

Ya, baguslah. Biar sekalian ia ditunjukkan bagaimana kondisi Hera padanya sekarang

Marka menerima panggilan itu

Nafasnya tercekat sesaat karena begitu panggilan itu tersambung, bukan wajah Nanda yang ia lihat atau Hera dalam kondisi tertidur karena Nanda yang menunjukkan padanya

Melainkan, wajah sang istri. Yang masih terjaga hingga saat ini. Hera menatapnya dengan kedua mata sendu yang tampak sedikit memerah

Marka terdiam, ia reflek menurunkan ponsel menjauh dari wajahnya, hendak mematikan panggilan itu seolah refleknya memang begitu. Namun suara rengekan Hera terdengar, bahkan ia merasa istrinya itu sedikit berteriak

"Jangan dimatiin.. Jangan dimatiin!" Hera menangis di ujung panggilan sana. Marka reflek mengarahkan ponsel itu lagi di depan wajahnya

Menyaksikan sendiri Hera menangis terisak seperti anak kecil. Semakin ia perhatikan, rambut kekasihnya itu sedikit berantakan, sepertinya memang baru bangun tidur

KaburTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang