Keraguan
.
.
Malam makin larut saat mereka kembali ke hotel. Langit Bali gelap pekat malam itu, dengan bintang-bintang yang malu-malu bersinar di sela-sela awan. Di dalam kamar, suasana terasa lebih hening dari biasanya. Tidak ada percakapan seru atau candaan seperti malam-malam sebelumnya.
Hera duduk di tepi ranjang sambil membuka sepatunya pelan, pandangannya kosong menatap lantai. Marka meletakkan jaket di gantungan, lalu duduk di sofa dekat jendela. Ia melirik istrinya, mencoba membaca suasana
Ia tak mau menebak, tapi sepertinya kekasihnya itu masih belum puas tentang tadi
Diam. Masih belum ada kata. Marka menunggu, tapi sepertinya Hera tak berniat katakan apapun
Marka membuka mulut duluan "Ra.. kamu masih mikirin tadi?"
Hera tak menjawab. Ia hanya menghela napas pelan. Dan Marka tahu, itu bukan 'napas capek biasa'. Itu napas yang menahan beban kecil dari malam yang tampaknya sederhana. Bagi Marka, tidak bagi ibu hamil ini
Marka bangkit, lalu duduk di sebelah Hera. Ia tidak memaksa Hera menoleh padanya, hanya menggenggam tangannya. Memijatnya lembut dan sesekali mengecupi punggung tangan dan telapak tangannya yang membengkak
"Aku dengerin, kalau kamu siap cerita?" bisiknya lembut
Hera diam sebentar. Lalu akhirnya berkata, pelan, nyaris seperti gumaman. Tatapannya sayu sendu. Marka perlu lagi ingatkan dalam pikirannya bahwa Hera hanya sedang sensitif, dan itu biasa bagi ibu hamil
"Aku tahu kamu udah gak suka sama dia. Aku tahu dia gak berarti apa-apa sekarang. Tapi waktu tadi liat dia.. aku merasa kecil. Seperti aku yang kalah jauh. Dan aku gak suka itu, Ka"
"Aku juga gak mau mikir ini tapi kepikiran terus"
Marka menatapnya, tidak memotong
"Aku tau kamu milih aku. Aku tau kamu cinta aku. Tapi tetap aja, waktu dia berdiri di depan kamu, aku ngerasa takut. Takut kamu lihat dia dan inget bahwa kamu pernah suka dia. Bahwa dia pernah punya sesuatu yang bikin kamu tertarik. Bahkan baru pertama kali lihat pun, aku sendiri paham"
Air mata mulai turun dari sudut mata Hera. Ia cepat-cepat menyekanya
"Dan aku kesel sama diri aku sendiri. Karena kenapa juga aku harus cemburu sama masa lalu. Padahal aku yang kamu nikahi"
"Ini bahkan aku hamil anak kamu. Tapi.. gimana, kenapa gini sih?" Hera bertanya pada dirinya sendiri yang tak bisa mengerti
Marka menunduk, lalu menarik Hera ke pelukannya. Berulang kali wanita itu menyeka pipinya sendiri, Marka kan jadinya mau ikut menangis
"Ra, kamu gak salah. Kamu gak berlebihan. Kamu cuma.. manusia. Kamu cuma istri yang cinta sama suaminya. Dan kamu pengen ngerasa paling cukup. Aku ngerti itu"
"Kamu cinta aku, kan?"
Hera terdiam lalu mengangguk di dadanya
"Dan aku gak nyalahin kamu karena ngerasa kecil tadi. Kamu cuma perlu yakin kalau kamu segalanya buat aku"
Marka menarik wajah Hera pelan agar mereka bisa bertatapan
"Kalau Kaira itu dulu bikin aku kagum. Kamu bikin aku tumbuh. Kalau dia sekadar cantik di mata, kamu cantik di hidupku, semua tentang kamu cantik di mata aku. Kalau dia pernah bikin aku senyum, kamu bikin aku percaya kalau satu orang bisa jadi rumah. Kamu rumah buat aku"
"Aku udah pernah bilang kalau aku tertarik sama kamu sejak kita sekolah dulu kan. Udah ada kamu di hati aku, cuma belum waktunya aja jika ketemu"
Hera mengerjap pelan. Hatinya mulai mencair, perlahan
KAMU SEDANG MEMBACA
Kabur
FanfictionKabur karena dijodohin malah ketemu lagi sama crushnya yang suka sama sahabatnya pas sekolah dulu
