Kamu cantik sekali.
Kamu pintar ya bisa masuk kedokteran.
Hebat banget, waktu SMA dapat akselerasi, masuk FK UGM sekarang spesialinya di UI
Kamu benar-benar pandai memanfaatkan privilege keluargamu ya sampai bisa jadi anak hebat seperti ini.
Orang tua kamu pasti bangga sekali denganmu. Coba anak saya seperti kamu, pasti senang sekali.
Sudah pinter, cantik, dari keluarga baik-baik lagi, tinggal cari pasangan yang sama hebatnya saja dan hidupmu beneran perfect deh
Dan banyak lainnya. Pujian-pujian itu, kata-kata itu sering diterima oleh Shika. Sejak kecil bahkan ketika ia sudah dewasa. Shika tumbuh dengan pujian-pujian yang mengirinya.
Satu kali, rasanya sangat luar biasa ketika mendengarnya.
Dua kali, rasanya masih sangat menyenangkan ketika mendengarnya.
Tiga kali, empat kali, masih senang mendengarnya, tetapi euforia itu mulai memudar.
Lima kali, enam kali, terasa nyaman mendengarnya, tetapi kini euforia itu sudah hilang.
Tujuh kali, delapan kali, sembilan kali, dan seterusnya... pujian-pujian itu mulai terasa biasa saja. Tidak ada kesenangan ketika merimanya. Rasanya, tidak menerimanya pun tak akan ada perbedaan berarti bagi hidupnya.
Terserah mau ada yang memuji lagi atau tidak. Karena pujian-pujian itu rasanya sudah hambar. Seperti nasi, yang sebenarnya terasa manis ketika dikunyah, tetapi karena sudah sering memakannya, rasa manisnya sudah tak istimewa lagi.
Itu bahkan baru puluhan atau ratusan kali.
Lantas bagaimana kalau sudah lebih dari itu? Tepatnya ketika tumbuh dengan pujian yang terus-terusan diberikan padamu? Dari kecil hingga dewasa, kamu tumbuh dengan hal itu seolah makanan sehari-hari.
Ketika menerimanya, rasanya tidak menggembirakan, tetapi juga tidak hambar. Lalu apa itu?
Kamu mulai merasa itu adalah kebutuhan. Tidak peduli kamu sedang menginginkannya atau tidak, kamu merasa tidak lengkap kalau lama menerimanya—pujian-pujian itu. Deja vu? Ya, kurang lebih mirip seperti kebutuhan masyarakat Asia terhadap nasi.
Kamu? Ya, kamu yang di maksud adalah Shika. Tak tahu apakah ada orang yang juga merasakan perasaan yang sama, tapi bagi Shika, itu adalah penggambaran sempurna tentang bagaimana selama ini ia menjalani kehidupannya.
Pujian datang diikuti dengan ekspektasi. Begitu pula dengan pujian yang diberikan bertubi-tubi, pasti juga akan diiringi dengan ekspektasi yang tinggi. Tidak boleh mengecewakan, tidak boleh menjatuhkan ekspektasi orang tentangnya. Apalagi bagi Shika, satu-satunya cara untuk menjadi istimewa di mata kedua orang tuanya adalah dengan menjadi istimewa di mata orang lain. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata Shika memang mendambakan semua validasi itu.
Tidak peduli harus saling menginjak, mendorong, atau menjatuhkan. Tidak peduli sekalipun harus saling mencurangi. Terserah, asalkan bisa terlihat sempurna.
Berpendidikan tinggi, karier yang menjanjikan, populer dan memiliki banyak relasi, berasal keluarga terpandang, paras yang cantik. Sekarang butuh apa lagi bukan pasangan yang juga sempurna?
Sayangnya, pria-pria yang dikenal Shika tak ada satu pun yang mampu memenuhi ekspektasinya. Tidak ada yang sepaket. Yang kepintarannya, ketampanannya, dan kekayaannya semua lengkap dalam satu sosok. Namun hal itu berubah ketika Shika bertemu dengan Hadja.
Dari sudut pandang Shika, Hadja adalah sosok pria yang lama ia idamkan. Sosok yang menurutnya lebih dari pantas untuk bersanding dengan dirinya. Hadja berasal dari keluarga konglomerat ternama, wajahnya sangat tampan, dia juga tinggi, jenius, berprestasi, pendiam tapi percaya diri, serta tidak pernah terdengar terlibat dalam konflik atau rumor buruk lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[SS] Before You
RomancePerkenalkan, The Untouchable Hadja. Dokter konglomerat jenius dari keluarga Saputro. Seorang dokter unik dengan alexithymia. Diam, dingin, datar, tak bisa ditebak, dan tak menunjukkan emosi, Hadja benar-benar tak tersentuh. Jangankan mendekatinya, t...
![[SS] Before You](https://img.wattpad.com/cover/210087644-64-k691754.jpg)