Haloo semuanya^^
Sebenernya sabtu kemarin aku mau up, tapi karena ada urusan mendadak jadi gak bisa nyelesain tinjauan ulang partnya. L
Sebagai gantinya, aku bakal double up, part satunya malam ini ya.
Selamat membaca^^
***
Grace merebahkan punggung kakunya di atas kasur empuk berukuran sedang di apartemen tipe studio yang masih harus ia cicil beberapa tahun ke depan. Malam ini Grace diantar pulang oleh sopir keluarga Hadja dengan mobil mewahnya. Sejujurnya Grace lebih nyaman pulang seorang diri menggunakan kendaraan umum atau ojek online, tetapi ia tak sampai hati melihat sorot mata Hadja yang jelas sekali menyorotkan sedih terhadap penolakan Grace. Jarang-jarang Hadja berbicara dengan matanya seperti itu.
Dering ponsel Grace berbunyi ketika mendapati pesan masuk yang ternyata tak lain adalah Tara. Melalui pesan tersebut, Tara menyampaikan bahwa esok hari ia akan mulai bekerja kembali.
Grace tiba-tiba saja penasaran mengenai bagaimana kelanjutan cerita antara Tara dan Leo. Sepertinya Tara belum memberikan jawaban apa pun.
Sejujurnya Grace benar-benar berharap ada kabar baik dari hubungan Tara dan Leo. Bagi Grace, Tara sudah seperti keluarga dan Leo adalah sahabat terbaiknya. Grace tahu betul seberapa beratnya hidup yang dijalani oleh Tara selama ini, sehingga ia benar-benar berharap Tara bisa menemukan kenyamanan bersama Leo
Dering ponsel Grace membuyarkan tatap mata kosongnya ke langit-langit kamar. Lenguh napas Grace sontak keluar ketika melihat nama yang muncul di layar. Padahal baru saja Grace merasa jika dunianya baik-baik saja. Setelah ini, Grace yakin ia harus kembali menghadapi realita hidupnya.
"Halo, Ma." Grace memanggil lirih. Ia menyalakan pengeras suara dan meletakkan ponselnya di dekat telinga kemudian lanjut menatap langit-langit kamar.
"Grace, itu benar-benar pacarmu?" Suara Erin—ibu Grace—membuka percakapan. Suara Erin menyiratkan rasa terkejut dan tak percaya.
Siang tadi Grace memang mengirimkan fotonya bersama Hadja ketika mereka pergi ke pantai tempo hari. Grace sama sekali tak heran dengan reaksi sang ibu.
Sekali pun pun Hadja benar-benar tak bisa berpose di depan kamera dan keindahan parasnya tak mampu terabadikan dengan sempurna melalui foto, tetapi seorang Hadja tetaplah Hadja, ia tak akan kehilangan pesona di wajah indahnya. Sejak awal Grace yakin bahwa ibunya pun pasti akan merasa jika dirinya tak akan pantas bersanding dengan Hadja.
"Iya Ma." Suara Grace dalam percakapan ini benar-benar tak bertenaga. Seluruh rasa bahagia yang ia dapat sebelumnya mendadak terkuras saking takutnya Grace dengan apa yang akan dibicarakan oleh ibunya melalui telepon.
"Gak mungkin, yang bener saja kamu. Orang seganteng ini mah spek pacarnya udah bukan kamu lagi tapi artis papan atas," ucap Erin. "Ini dia sama Gresa saja mama gak bisa membayangkan, apalagi sama kamu. Jangan-jangan itu efek kamera ya? Dia bule? Atau blasteran? Memangnya apa yang kamu tawarkan sampai bisa berpacaran dengannya?"
Grace lagi-lagi menghela napasnya. Dua menit saja belum berlalu sejak percakapan ini dimulai tetapi Grace sudah merasakan kelelahan emosional. Jika Grace menceritakan hal ini kepada orang lain, mungkin tak akan ada yang percaya jika ibunya benar-benar melontarkan kata-kata seperti itu.
Faktanya, Grace memang sudah sangat terbiasa mendapatkan kata-kata seperti itu. Keluarganya terlalu nyaman mengecilkan diri Grace seolah itu bukanlah hal yang menyayat dengan begitu tajam setiap kali Grace mendengarnya.
"Kalau begitu mama lihat saja langsung nanti," kata Grace.
"Apa? Apakah mungkin dia pelit? Atau kelakuannya jelek? Atau keluarganya miskin? Atau sikapnya semena-mena terhadapmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[SS] Before You
RomancePerkenalkan, The Untouchable Hadja. Dokter konglomerat jenius dari keluarga Saputro. Seorang dokter unik dengan alexithymia. Diam, dingin, datar, tak bisa ditebak, dan tak menunjukkan emosi, Hadja benar-benar tak tersentuh. Jangankan mendekatinya, t...
![[SS] Before You](https://img.wattpad.com/cover/210087644-64-k691754.jpg)