50 - Decision

2.3K 169 14
                                        

Grace terentak ketika ponsel yang berada tepat di samping telinganya berdering kencang, membangunkannya dari tidur. Grace benar-benar terkejut ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul lima pagi padahal posisinya sama sekali belum berubah dari terakhir kali Grace ingat matanya masih menitikkan air mata.

Ternyata Grace menangis sampai dirinya tertidur. Benar-benar menyedihkan. Oh tunggu, teleponnya! Grace bertanya-tanya apa yang membuat Hadja menelepon sepagi ini.

"Halo Hadja," sapa Grace, suaranya masih terdengar sengau.

"Aku membuatmu terbangun ya Grace? Maaf."

"Enggak enggak, aku udah tidur lama kok." Grace menampik perkataan Hadja. Umm ... sepertinya? Grace tak ingat betul sampai jam berapa ia menangis. "Ada apa?"

"Aku ingin mengajakmu sarapan bersama."

"Eh ... kerjaanmu udah selesai memangnya?"

"Sudah. Sebenarnya sekarang aku sudah parkir di depan apartemenmu."

Grace membulatkan matanya kaget, "S-sekarang?" Bukan apa-apa, tetapi penampilan Grace saat ini benar-benar masih kacau pasca menangis semalam suntuk.

"Kalau kamu butuh waktu untuk bersiap-siap, aku tidak masalah menunggu."

Grace berpikir sesaat, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk memikirkan bagaimana penampilannya. Hadja pasti benar-benar lelah saat ini, sebaiknya Grace cepat-cepat agar Hadja pun dapat segera beristirahat se elahnya. "Enggak, aku habis ini turun. Ganti baju sama sikat gigi sebentar aja paling ya."

"Oke Grace."

Dengan tergesa-gesa, Grace langsung bangkit dari posisi tidur dan bersiap-siap seadanya. Ketika hendak memoleskan pewarna bibir, Grace melihat kembali penampilannya di kaca. Matanya benar-benar masih sembab, bahkan untuk melihat saja tidak nyaman. Kalau tahu pagi ini akan diajak Hadja keluar, Grace tak akan menangis sebegitunya semalam.

Mobil Hadja terparkir di depan gerbang apartemen, di posisi yang selalu sama. Matahari masih samar-samar menyambut, lalu lalang pun begitu sepi. Kota Jakarta belum terbangun sepenuhnya saat ini.

"Makasih ya udah nunggu aku," kata Grace segera setelah duduk di kursi penumpang mobil Hadja. "Kamu baru selesai operasi banget? Kerja lagi gak nanti hari ini?" Grace lanjut bertanya.

"Iya, seharusnya aku ada tugas lain tapi karena operasinya selesai lebih akhir dan setengah pekerjaanku sudah dibantu residen lain, aku bisa segera pulang. Nanti setelah jam makan siang harus ke rumah sakit lagi."

"Ya ampun ... kamu pasti capek ...." Grace tak mampu membayangkan dirinya berada di posisi Hadja. "Beneran gak apa-apa ini ngajak aku sarapan di luar? Gak buat istirahat aja waktunya?"

Hadja menggeleng. "Sebenarnya sewaktu memantau hemostasis di ruang operasi tadi, aku benar-benar terus memikirkan kamu, Grace."

Grace tersipu, "Jadi itu alasannya kamu ngajak aku keluar sepagi ini?"

"Iya."

"Kenapa aku tiba-tiba muncul di pikiranmu? Kukira kalau sedang bekerja apalagi operasi kamu hanya fokus ke situ." Grace mencoba menggoda Hadja dengan pertanyaan walau ia sudah yakin Hadja akan menjawabnya dengan serius dan penuh kejujuran.

"Hemostasis itu kan tidak terlalu lama, aku hanya memantau sambil sesekali melakukan suction. Jadi di sela-sela waktu itu aku terus memikirkanmu. Aku juga tidak tahu alasannya, tapi aku tiba-tiba merasa kalau aku harus menemui sesegera mungkin."

Kata-kata Hadja membuat Grace terkesiap. Beberapa jam lalu tepatnya ketika Grace menangis, ia memang memikirkan Hadja. Grace merasa dirinya saat itu begitu rapuh dan benar-benar membutuhkan Hadja hingga Grace berharap Hadja bisa tiba-tiba muncul di hadapannya. Dan kini ternyata Hadja benar-benar muncul—walau tak seketika itu juga.

[SS] Before You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang