35 - To Most Beloved, My Promise

2.8K 160 6
                                        

"Grace ... aku gak akan lagi membiarkan kamu berpikir kamu jatuh cinta sendirian. Maafkan aku, aku akan belajar lebih keras lagi untuk bisa menunjukkan perasaanku dan menyampaikannya ke kamu. Terima kasih sudah memilihku."

Grace sedikit terkejut mendengar kata-kata Hadja. Padahal dari tadi mereka hanya diam-diam saja sepanjang perjalanan pulang dari tempat makan, tetapi Hadja tiba-tiba berkata demikian.

"Terima kasih ya, Hadja. Kamu pasti udah ngelakuin banyak hal buat bikin aku bahagia bahkan tanpa aku sadar. Ke depannya, aku juga mau untuk terus dibahagiakan sama kamu." Grace melempar senyum termanisnya kepada Hadja. "Aku juga bakalan melakukan semua yang aku bisa buat bikin kamu bahagia juga," kata Grace.

"Iyakah? Tapi aku rasa akhir-akhir ini ada hal yang bikin kamu sedih atau kepikiran. Apakah itu gara-gara aku waktu itu?" tanya Hadja.

Grace menggeleng cepat, "Sebenarnya nggak. Aku lagi ada masalah keluarga, tapi aku bodohnya malah ngelampiasin ke kamu, makanya aku gak tenang kalau belum minta maaf. Waktu itu aku beneran kepedean karena hampir mengira kalau sama aku. Eh ternyata beneran suka, hehe. Ternyata aku gak kepedean." Grace tekekeh malu.

Hadja ikut tersenyum. Grace itu benar-benar menggemaskan. "Boleh aku tanya masalah apa itu?" tanya Hadja, "tapi kalau kamu keberatan, gak perlu."

Grace terdiam sesaat, mempertimbangkan seberapa banyak ia akan membagikan masalah keluarganya kepada Hadja. Bagi Grace, kondisi keluarga adalah hal yang paling menyedihkan yang ada dalam dirinya, walau tanpa masalah keluarga pun, Grace memang sudah menyedihkan. Jujur saja, Grace tak sanggup membiarkan ada orang lain yang tahu seberapa menyedihkan kondisi keluarganya, betapa menyedihkan kondisi Grace di keluarga.

Grace tak keberatan jika harus menceritakan semua yang ia alami dengan mantan pacarnya, termasuk bahwa ia diselingkuhi, dikatai jelek dan tak berharga. Grace tak keberatan untuk menceritakan bahwa ia disingkirkan dari perusahaan demi kepentingan sang nepo baby padahal Grace sudah loyal selama bertahun-tahun. Grace tak malu bercerita tentang kondisi keuangannya yang tipis dan pembayaran cicilan yang mencekiknya. Intinya, Grace tak masalah menceritakan apa pun kecuali seberapa menyedihkan kondisinya di keluarga. Tak kepada teman, tak kepada sahabat, bahkan tidak kepada pasangan.

Sepertinya, setiap orang memilikinya, satu hal yang tak akan pernah dibagikan kepada siapa pun, sekalipun kepada orang yang paling dipercaya. Sesuatu yang kau anggap terlalu memalukan untuk dibagikan kepada orang lain hingga kau memutuskan untuk membawanya sendirian sampai akhir hayat. Atau sesuatu yang akan membuatmu terlihat menyedihkan di mata orang lain. Bagi Grace, hal itu adalah kondisi keluarganya dan seberapa buruk keluarganya pernah memperlakukan Grace.

Grace tertawa untuk menutupi kebohongannya, "Sebenarnya ibuku itu neleponin aku terus, nanyain aku udah punya pacar belum, mendesak cepet punya pacar. Katanya kalau gak punya-punya pacar, nanti aku bakalan dicariin pacar." Grace mencoba terlihat gembira, agar Hadja tak menyadari kebohongannya.

"Kalau begitu aku yang jadi pacarmu, ya? Gak apa-apa sekalipun sekarang masih terasa aneh," ucap Hadja.

Grace tersipu, "Ini kamu lagi nembak aku, ya? Gak romantis banget, ah." Grace menggoda Hadja.

"Nembak itu apa maksudnya, Grace? Pasti bukan nembak senjata kan? Tapi maaf ya kalau aku belum romantis, I'll work on it," kata Hadja sungguh-sungguh.

Tidak Grace sangka akan ada orang semurni Hadja, sepertinya pergaulan pria ini benar-benar tidak update, tapi itulah yang justru menjadi hal memesona dari Hadja. "Nembak itu artinya minta aku jadi pacarmu. Dan ya, aku mau." Grace tersenyum lebar.

"Terima kasih ya, Grace." Kali ini, Hadja benar-benar tersenyum lebar. "Kalau udah punya pacar, kamu gak akan dicarikan pacar lagi kan oleh keluargamu?" tanya Hadja.

[SS] Before YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang