52 - Unexpected Plan

1.4K 129 11
                                        

Hadja menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan Dokter Heddy yang hendak keluar dari ruangannya. Saat ini Hadja telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya dan telah kembali dengan pakaian santainya. Ia berniat untuk pergi menuju Glece kafe dan menemui Grace.

Sudah beberapa bulan setelah Hadja dan Grace menjadi sepasang kekasih, tetapi waktu yang bisa Hadja berikan kepada Grace benar-benar terbatas. Mereka hanya bisa bertemu di kafe atau sesekali keluar mencari makanan untuk mengisi perut.

Terakhir mereka berkencan dalam durasi lama adalah minggu lalu, dan itu pun masih di Jakarta. Parahnya lagi, beberapa jam setelah Hadja dan Grace berkencan di Sea World, Hadja mendapatkan telepon yang mengharuskannya untuk segera kembali ke rumah sakit. Benar-benar kehidupan percintaan yang sangat sulit bagi dokter PPDS tahun ketiga. Hadja tak berhenti bersyukur Grace tidak lelah untuk memakluminya.

"Selamat siang, Dokter Heddy." Hadja menyapa dokter konsulen yang sekaligus merupakan supervisornya.

"Oh benar Hadja, kebetulan sekali kita berpapasan. Bukankah lusa kamu akan menjadi speaker di ELSA Congress untuk paper-mu yang menang di ASC?" tanya Heddy yang langsung menghentikan langkahnya meskipun sebelumnya ia tampak terburu-buru. Tumpukan kertas yang Hadja tenteng di tangannya mengingatkan Heddy untuk menanyakan perihal tersebut.

"Benar, Dokter," jawab Hadja.

"Siapa yang akan ikut bersamamu?"

Sekitar dua bulan lalu Hadja memenangkan kategori best case review yang diselenggarakan American College of Surgeons, salah satu asosiasi kedokteran paling bergengsi di kancah internasional. Oleh sebab itu ia diundang untuk menjadi pembicara di simposium internasional.

Semua prestasi di tengah sibuknya pekerjaan Hadja di rumah sakit. Hal tersebut hanya mungkin jika kamu memang sangat pintar atau sangat pekerja keras dan berdedikasi dengan pekerjaanmu, tetapi Hadja memiliki keduanya.

"Dokter Amri, tetapi kalau beliau tiba-tiba berhalangan sepertinya Dokter Fira," jawab Hadja.

Heddy manggut-manggut menanggapi jawaban Hadja, kemudian terdiam sesaat untuk berpikir. Tampaknya ada hal lain yang juga ingin ia bahas. "Tahun depan kamu sudah masuk tahun terakhir masa residensi. Apakah kamu sudah memikirkan apa yang akan kamu lakukan ke depannya? Seperti mengambil fellowship?"

"Sebenarnya saya belum memikirkan sampai sejauh itu Dok. Namun sepertinya saya ingin bekerja dahulu satu atau dua tahun sebelum fellowship. Saya juga masih belum memutuskan apa bidang yang ingin saya perdalam ke depannya."

"Apakah kamu ada niatan untuk mengambil fellowship di luar negeri?"

Hadja berpikir sejenak, "Untuk itu saya juga belum bisa memutuskan karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan saya ke depannya, Dok."

"Benar .... Saya pribadi hanya merasa kalau tempat ini sudah terlalu sesak untukmu. Kamu pasti akan bersinar lebih terang lagi jika berada di tempat lain yang bisa mendukungmu lebih baik. Tapi kembali lagi semua tergantung keputusanmu."

"Tidak juga Dok. Saya merasa bersyukur karena di sini saya bertemu dengan guru-guru yang membimbing dan mendukung saya dengan sangat baik. Jadi di mana pun itu, saya tetap bisa berkembang," ucap Hadja sembari menyunggingkan senyum yang begitu tipis.

"Loh?" Heddy tampak sedikit terkejut. "Sekarang kamu jadi lebih pandai dengan kata-katamu, ya? Kamu juga terasa berbeda, sepertinya tidak sekaku biasanya?" tanya Heddy.

Sebenarnya di kalangan para dokter muda, Heddy terkenal sebagai seorang dokter sekaligus dosen yang benar-benar kaku, ketat, dan perfeksionis. Namun bagi seseorang yang memiliki citra seperti itu pun, menurut Heddy, Hadja merupakan sosok yang jauh lebih kaku lagi.

[SS] Before You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang