58 - Final Conversation

2.7K 162 33
                                        

Di malam hari, menggunakan ponsel Gresa dan akun media sosial Sueny yang pernah Grace ikuti, ia bisa kembali berbicara dengan Hadja. Kata Sueny, kakaknya baru pulang ke rumah pukul sebelas malam ini setelah kemarin tak pulang sama sekali dari rumah sakit. Pertama-tama, tentu Grace berterima kasih kepada Sueny yang mau diganggu sampai selarut ini. Grace juga berkata kalau mungkin ia akan mengobrol lama dengan Hadja, tetapi satu-satunya adik Hadja itu tak keberatan sama sekali.

Oh, benar-benar adik yang pengertian. Mengapa hubungannya dengan Gresa tak pernah sebaik itu? Apakah karena mereka berdua lahir di keluarga yang begitu kacau ini?

Grace bertanya-tanya, jika saja dirinya dan Gresa dilahirkan di keluarga berbeda, bisakah mereka akur dan saling menyayangi sepenuh hati?

"Hadja ...." Grace memanggil Hadja lirih di atas kasur kamarnya. Ia sudah memastikan pintu terkunci.

"Halo, Grace. Maaf karena aku baru pulang. Ada apa dengan hpmu? Kenapa kamu menghubungi aku lewat Sueny?"

Hari ini begitu panjang bagi Grace. Benar-benar melelahkan dan memuakkan. Rasa getir masih menyelimuti pipinya yang sempat ditampar sang ayah. Namun hatinya menghangat ketika mendengar suara lembut Hadja menyapa telinga.

"Iya, hp aku rusak. Dibanting."

"Rusak? Aku akan berikan kamu hp baru, ya."

"Bukan Hadja, bukan itu masalahnya. Tapi aku gak diizinkan berkomunikasi sama semua yang di Jakarta. Kartu simku bahkan diambil. Kalau ketahuan beli yang baru pun, pasti bakalan langsung dirusak lagi."

"Siapa yang melakukannya? Kenapa?"

Grace menarik napasnya dalam-dalam. Setelah ini pasti akan menjadi kisah yang panjang. "Aku mau cerita. Tentang kenapa aku tiba-tiba pulang. Tentang keluargaku. Kamu mau mendengarkan nggak? Gak capek? Kamu kan baru pulang kerja."

"Ambil semua waktuku, Grace. Lagi pula sebenarnya aku sudah sangat merindukanmu, jadi aku senang bisa mendengar suaramu selama mungkin."

Grace tertawa kecil. "Sebenarnya aku pulang karena adik aku hamil, Hadja. Dan di keluargaku, itu benar-benar aib yang luar biasa. Makanya, mama dan papaku ingin segera menikahkan adikku dengan pacarnya. Masalahnya itu gimana caranya mereka bisa menikah tanpa ketahuan kalau Gresa sudah hamil duluan."

"Lalu bagaimana, Grace?" Hadja tak menunjukkan keterkejutan sama sekali. Tenang seperti biasanya.

"Papaku marah banget. Dia marah ke Gresa, juga marah ke aku. Makanya hpku dirusak papa. Mungkin supaya aku fokus nyelesain masalah di sini dulu."

"Kenapa kamu dimarahi? Kamu kan tidak salah?"

Grace tersenyum getir. Bahkan seseorang yang tak ikut sumbangsih memberi kehidupan kepada Grace saja mengerti kalau tak seharusnya ia ikut terseret.

"Iya, tapi buat papaku gak begitu, Hadja .... Aku mau cerita tentang keluargaku. Jadi, papaku itu punya temperamen yang buruk, dia suka merendahkan mama, menganggap anak-anaknya payah dan tak berguna, terutama aku. Papa juga kayaknya memang benci kenyataan bahwa dia gak punya anak laki-laki. Lalu keluarga papa juga gak jauh beda, apalagi mereka dari awal memang gak menerima mama. Tapi waktu papa masih di atas, setidaknya keluarga kita masih dihargai, sayangnya waktu jatuh, semuanya berbalik menyerang dan merendahkan.

"Kalau kamu tahu, adikku itu jauh ... jauh lebih cantik, gak seperti aku. Dia bahkan disebut cucu paling cantik. Jadi seenggaknya adikku masih disukai sebagai cucu sama nenek dan kakekku, makanya mama dan papa sayang banget sama adikku."

Cerita Grace terhenti sesaat. Benar-benar konyol. Padahal mukanya ini juga kan tercipta karena keluarganya, kenapa mereka malah benci dengan hasil kolaborasi mereka sendiri? Tunggu, kini Grace bahkan sadar bahwa dirinya tidak jelek, hanya tak cantik sesuai standar saja?

[SS] Before You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang