60 - The Decision

1.5K 131 25
                                        

Di antara dokter-dokter departemen bedah umum, telah terjadi keributan besar. Hadja yang selalu bekerja lebih keras dari dokter PPDS mana pun di departemen itu, tumbang di hadapan begitu banyak orang. Beberapa bulan lalu Hadja memang pernah pingsan, tetapi saat itu ia sedang sendirian, tak di depan orang banyak seperti saat ini.

Yang membuat lebih heboh adalah kehadiran keluarga Hadja, terutama ayahnya. Bagi orang-orang di situ, ayah Hadja adalah sosok yang tak asing. Wajahnya bisa dengan sangat mudah dicari di media, dibahas dan diberitakan dengan begitu masif bahkan di luar keinginannya, mulai dari kekayaannya hingga orang-orang penting lain yang juga berhubungan dengannya. Untuk melihat orang sepenting itu secara langsung, banyak yang bahkan merasa terlalu segan untuk mendekat.

Selama ini, para rekan Hadja sama sekali tak merasa jika Hadja berasal dari keluarga yang begitu penting karena pria itu bekerja begitu keras sebagai seorang dokter dan memiliki gaya hidup yang tampak seperti orang-orang pada umumnya saja. Namun melihat kehadiran Harold, tampaknya mereka tersadar akan pembatas tinggi di antara latar belakang mereka.

Apalagi Dokter Amri sampai datang untuk memeriksa kondisi Hadja yang masih belum sadarkan diri. Padahal para dokter di sini tahu, orang sepenting Dokter Amri, yang merupakan kepala departemen bedah, dekan universitas, sekaligus penasihat penting di organisasi kedokteran, tak akan mungkin sampai mengurusi seorang PPDS yang pingsan ketika bekerja.

"Dokter, ini kenapa Hadja belum sadar juga? Memangnya orang pingsan selama ini, ya?" Ibu Hadja bertanya dengan panik kepada Dokter Amri. Matanya berkaca-kaca.

"Ma, tenang." Harold mengusap punggung Sekar untuk menenangkannya.

"Hadja ...." Mata Sekar tampak berkaca-kaca, tak peduli sekali pun beberapa dokter yang sedang tak sibuk memandanginya dari kejauhan.

"Amri, bagaimana kondisinya?" tanya Harold.

"Saya sudah memeriksanya secara menyeluruh tapi tanda vitalnya baik-baik saja. Kalau seperti ini, saya akan lebih condong untuk mengatakan kalau penyebabnya lebih condong kepada psikologis daripada fisiologis. Apakah ada hal yang membuatnya terguncang?"

Sekar mengernyit, "Bagaimana, ya .... Hadja kan apa pun yang terjadi, ekspresi wajahnya tidak pernah berubah. Sulit untuk tahu kecuali dia bilang sendiri, dan dia tidak pernah bilang apa-apa," katanya, masih panik, "Pa bagaimana ini? Mama khawatir ada hal buruk yang dia alami, tapi Hadja kan tidak akan pernah menceritakan hal-hal seperti itu bahkan ke keluarganya sendiri."

Harold manggut-manggut setuju, kemudian berganti melirik Amri. "Tidak ada masalah di pekerjaannya, kan?"

"Tidak ada."

"Di sini ... tidak ada perundungan, kan?" tanya Sekar hati-hati. Ia bertanya untuk berjaga-jaga, karena dulu Hadja pernah dikucilkan ketika sekolah dasar. Sekar takut hal tersebut terjadi lagi, terlebih ia pernah mendengar berita mengenai senioritas di sekolah kedokteran.

Amri menggeleng cepat, "Tentu tidak ada. Saya rutin mengamati dan mengevaluasi untuk memastikan tidak ada perundungan di departemen ini."

"Kita orang-orang sepuh ini tahu apa tentang kehidupan anak muda, laporannya baik-baik saja pun belum tentu realita lapangannya seperti itu."

"Saya serius, Pak. Saya benar-benar memperhatikan hal itu. Saya pastikan di sini tidak ada yang seperti itu."

"Ya jangan hanya di tempat ini, lah, seharusnya di semua tempat juga tidak ada. Bukannya kamu ini orang penting ya di Ikatan Dokter, harusnya bisa mewujudkannya di semua tempat, kan? Saya pernah mendengar berita yang kurang baik soalnya, tapi menindaknya dengan becus saja tidak mau." Harold berdecak, "kalau itu sampai terjadi ke anak saya, akan pastikan semua yang terlibat membusuk di penjara."

[SS] Before You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang