48 - How He Was

1.8K 156 12
                                        

"Hadja? Kamu lagi ngapain? Kamu ... kamu jangan-jangan punya pacar?!"

Tentu saja Hadja sendiri dapat langsung mengenali suara tersebut. Itu adalah suara Calyn, satu-satunya teman dekat yang dimiliki oleh Hadja. Sementara itu, Grace yang mendengar kata-kata itu langsung membuat sedikit jarak dengan Hadja dan sontak menoleh.

Grace menatap wanita yang tengah berjalan ke arah dirinya dan Hadja. Grace ingat betul wajahnya, dia adalah seseorang yang Hadja katakan sebagai temannya.

"Bener ya?" tanya Calyn ketika ia sudah berdiri di hadapan Hadja dan Grace yang masih dalam posisi duduk.

Berbeda dengan Grace yang kaku, Hadja tampak sangat santai dan tak peduli dengan kehadiran Calyn. "Iya." jawab Hadja singkat.

Calyn ternganga hingga ia harus menutupinya dengan telapak tangan, bola matanya membesar. "Seorang Hadja ... punya cewek? Ya Tuhan .... Ternyata bisa ya batu seperti kamu suka sama seseorang .... Sejak kapan? Kenapa gak bilang-bilang?" tanyanya heboh sendiri.

"Kamu gak bertanya." Hadja tampak tak acuh.

Grace menahan tawanya ketika mendengar jawaban yang sangat ... Hadja sekali. Di dalam hatinya, Grace tak lagi merasakan rasa tak percaya diri untuk menjadi kekasih seorang seperti Hadja setelah melihat bagaimana pria itu tak pernah sekali pun ragu untuk mengakuinya.

Calyn melengos tak percaya mendengar jawaban Hadja dan pada akhirnya memilih untuk mengalihkan pandangannya kepada wanita yang saat ini belum ia ketahui namanya tersebut—karena percuma saja berbicara dengan batu seperti Hadja. "Halo ... kenalin aku Calyn."

"Grace," ujar Grace sembari menyunggingkan senyumnya.

"Eh, tapi kenapa kamu kelihatan gak asing ya? Mungkin kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Calyn.

"Kalau pernah mampir ke kafe di depan rumah sakit, mungkin akan pernah bertemu saya," jawab Grace dengan ramah.

"Ah iya benar ...." Calyn menepuk tangannya sekali. "Oh ... ternyata karena itu beberapa bulan ini kayaknya Hadja sering pergi ke kafe itu, padahal dia ini jangankan nongkrong di kafe, makan di kantin rumah sakit aja jarang, seringnya minta beliin ke Gerva. Tapi dia tiba-tiba jadi sering ke kafe, sedangkan dia gak pernah duduk-duduk di tempat ramai kecuali perpustakaan atau tempat makan. Jadi ternyata karena di kafe itu ada cewe yang dia suka." Calyn mengalihkan pandangannya kepada Hadja, "Ternyata kamu bisa begitu juga ya."

"Bisa," jawab Hadja, membenarkan apa yang Calyn katakan. Biasanya ia memang jarang sekali ke kantin kecuali dipaksa oleh Calyn. Sehari-hari, Hadja lebih banyak menitip makanan kepada juniornya, Gerva—tentunya Hadja juga memberi bonus kepada Gerva.

Awalnya, Hadja hanya kebetulan mampir ke kafe yang baru dibuka tersebut, tetapi bahkan sebelum sempat mencoba makanan yang ia pesan, Hadja mendapatkan telepon darurat untuk segera kembali ke rumah sakit, saat itu dompetnya bahkan tertinggal. Kemudian ketika Hadja kembali untuk mencoba menu di Glece Kafe, ia justru bertemu dengan sosok wanita yang mengembalikan dompetnya tempo hari.

Wanita yang bersikap begitu ramah, dengan senyuman manisnya dan tatap mata binarnya. Hingga tanpa Hadja sadari, ada sisi di luar kesadaran penuhnya yang ingin terus mendatangi tempat tersebut.

"Wah next time aku ke kafemu, boleh gak kita ngobrol-ngobrol?" tanya Calyn.

"Tentu, silahkan datang kapan saja." Grace tersenyum.

"Ngomong-ngomong kamu sekarang udah punya pacar, gimana kalau kamu datang ke acara pertunanganku nanti?" tanya Calyn.

Perkataan Calyn sontak membuat Grace langsung merasa tak enak karena sempat berpikir macam-macam tentang Calyn. Bahkan Grace dapat merasakan betapa ramahnya Calyn, ia tampak seperti seseorang yang akan menyenangkan untuk dijadikan teman.

[SS] Before You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang