Satu hari lalu, 20:50 PM, Jakarta.
Akhirnya Hadja dapat membuang handscoon dan apron medis yang ia kenakan berjam-jam lamanya di ruang operasi ke tempat sampah. Tak lupa penutup rambut yang telah melekat berjam-jam membuat rambut Hadja jadi terasa lepek.
Karena kini sudah di ujung tahun ketiga, Hadja telah lebih banyak melakukan pekerjaannya secara mandiri. Ia juga sudah aktif sebagai dokter utama dalam operasi bedah minor dan sudah aktif sebagai asisten pertama bagi pembedahan mayor. Apalagi Hadja yang senang berada di rumah sakit membuatnya secara tidak sengaja sering dilibatkan dalam operasi bedah darurat. Belum lagi ujian-ujian yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu bahkan lebih dari satu bulan. Ditambah Hadja aktif dalam penulisan paper dan penelitian. Dan hal itu akan semakin memburuk ketika Hadja memasuki tahun terakhirnya.
Hadja benar-benar merasa bersalah kepada Grace, tetapi ia juga tak bisa tiba-tiba mengubah pace dan aktivitas di hidupnya, sehingga satu-satunya yang harus menjadi korban adalah waktunya dengan Grace. Hadja bahkan tak lagi memperhatikan dirinya yang sering sekali tidur di bawah lima jam sehari atau tertidur di mana pun ia bisa, contohnya di ruang belajar atau bahkan ruang makan.
Aku mohon tunggu sebentar lagi, Grace. Hanya tiga semester lagi ... tiga semester dan kesibukan gila ini akan mereda.
Dengan langkah terburu-buru, Hadja akhirnya sampai di Glece kafe yang ternyata masih ramai di malam hari. Hadja menghampiri counter kasir ketika matanya tak menangkap sosok Grace yang biasanya duduk di pojokkan kafe atau counter.
"Permisi, apa Grace ada di sini?" tanya Hadja kepada perempuan muda yang menjaga kasir.
"Kak Grace? Maaf sebelumnya saya baru datang tadi sore tapi belum melihat Kak Grace sejak tadi. Ada keperluan apa ya sebelumnya?" tanya perempuan itu.
Sepertinya perempuan itu adalah karyawan baru di kafe karena karyawan yang sudah lebih lama bekerja pasti mengenal sosok Hadja yang sering menghabiskan waktu berduaan dengan Grace di kafe. Lagi pula dengan wajah seperti Hadja, tak sulit untuk mengingatnya.
"Tidak perlu. Saya ingin memesan saja," kata Hadja kemudian memesan segelas air putih dan makanan berat. Hadja juga memesan kopi hitam yang ia minta untuk dibuatkan di akhir saja.
Hadja sedikit kebingungan karena biasanya Grace selalu ada di kafe kecuali sakit atau ada urusan. Apakah Grace sakit karena kelelahan setelah liburan di Kanada waktu itu? Hadja memang belum sempat bertemu Grace sepulang mereka dari Quebec beberapa hari lalu.
Ngomong-ngomong soal Quebec ... Hadja tak henti mendapatkan riak dalam dirinya. Di sela-sela pekerjaannya, Hadja yang biasa sepenuhnya fokus pun kini dengan mudahnya teralihkan pada kenangan-kenangan di tempat tersebut yang terasa sangat baru di kepalanya. Di tempat itu, Hadja merasa bagian otak yang biasa ia gunakan untuk berpikir terputus sementara karena bisa-bisanya ia malah mencium bibir Grace ketika yang wanita itu maksud adalah keningnya.
Hadja tidak menyesal tentunya, meski sedikit—banyak—salah tingkah. Namun ia sama sekali tak menyesali ciuman pertama yang terjadi di bawah langit malam musim dingin kota Quebec. Respons tubuh Hadja begitu luar biasa saat itu, jantungnya berdegup kencang, darahnya mendesir, dan bahkan napasnya terasa berat. Namun kali itu bukan karena panik maupun trauma, tetapi karena rasa manis yang menyetrum dari bibir ke sekujur tubuhnya. Begitu memabukkan padahal Hadja tidak tahu pasti rasanya mabuk.
Sayang, lamunan Hadja harus buyar karena makanannya kini telah disajikan.
"Permisi, Dokter Hadja?"
Suara perempuan dengan ramah menyapa Hadja, membuat pria itu meletakkan sendok di atas piring makan yang sudah hampir habis. Menjadi PPDS super sibuk melatih Hadja untuk makan cepat. Ketika menoleh, Hadja melihat wajah teman Grace yang pernah menjalani operasi transplantasi ginjal beberapa bulan lalu. Hadja pernah sekali dua kali mengobrol dengannya ketika dirinya berada di kafe bersama Grace.
KAMU SEDANG MEMBACA
[SS] Before You
RomancePerkenalkan, The Untouchable Hadja. Dokter konglomerat jenius dari keluarga Saputro. Seorang dokter unik dengan alexithymia. Diam, dingin, datar, tak bisa ditebak, dan tak menunjukkan emosi, Hadja benar-benar tak tersentuh. Jangankan mendekatinya, t...
![[SS] Before You](https://img.wattpad.com/cover/210087644-64-k691754.jpg)