54 - Her Birthday's Gift: Him

2.4K 218 44
                                        

Untuk pertama kalinya, Hadja menginjakkan kaki di apartemen tipe studio milik Grace yang masih dalam masa cicilan. Selayaknya tipe studio, begitu menginjakkan kaki, Hadja dapat melihat seisi apartemen. Kamar mandi di dekat pintu masuk dan di depannya terdapat lemari. Lalu di sampingnya terdapat kulkas satu pintu serta wastafel dan kompor listrik kecil. Terdapat sebuah kasur untuk dua orang yang berhadapan dengan sebuah meja rias, tak lupa dengan televisi yang menempel di dinding.

Sofa yang cukup untuk merebahkan badan satu orang berdekatan dengan jendela yang menghadap ke sebuah balkon kecil untuk menjemur pakaian berada di dekat kasuk. Benar-benar tempat tinggal yang compact dan fungsional.

Di kepala Hadja ada yang lebih genting dari sekadar bentuk kamar Grace. Sinyal di otak Hadja kacau begitu kakinya melangkah masuk ke apartemen Grace dan semakin kacau lagi ketika mendengar suara klik pintu terkunci. Yang menimpanya saat ini jelas-jelas bukan sesuatu yang logis dan dapat Hadja kendalikan secara sadar. Sinyal otaknya tak keruan, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya terasa kaku dan berat ... apalagi kalau bukan respons fisiologis.

Pertama kalinya Hadja merasakan respons fisiologis sekacau ini! Tidak bahkan ketika ujian OSCE pertamanya, tidak bahkan ketika operasi pertamanya. Hadja merasa saat ini pengaturan dirinya tengah konslet.

"Kenapa diem? Katanya mau meriksa kondisiku?" Grace duduk di sofa dekat jendela kamarnya.

Kata-kata Grace menyentak Hadja, buru-buru ia melepaskan sepatunya dan berjalan mendekat kepada Grace. Hadja berlutut tepat di hadapan Grace sembari meletakkan tasnya yang sangat penuh di lantai. Pria itu benar-benar membawa sebanyak mungkin peralatan tempur yang bisa ia bawa saking khawatirnya dengan kondisi Grace. Hadja bahkan membawa infus jaga-jaga Grace membutuhkannya. Pantas saja tasnya seolah akan meledak..

Untungnya respons fisiologis yang aneh dan tak Hadja pahami alasannya itu secara alami terlupakan ketika pikirannya teralihkan karena Hadja fokus kepada kondisi Grace. Hadja ingin cepat-cepat memastikan bahwa kekasihnya tak mengalami sakit yang.

"K-kamu kenapa posisinya begitu?" Tampaknya posisi seperti ini terasa mendebarkan bagi Grace. "Terus itu bawaanmu kenapa banyak banget? Aku kan cuma ... sakit demam biasa?" Grace menautkan pelipisnya.

"Seingatku aku sudah memasukkan yang inframerah juga, kenapa tidak ada." Hadja bergumam sendiri dengan begitu pelan hingga tak didengar oleh Grace. Tangan Hadja masih tetap sibuk mencari benda di dalam tasnya.

"Untuk bisa dikatakan demam biasa kan perlu diperiksa terlebih dahulu. Sekarang coba buka mulutmu," ujar Hadja.

Dengan postur tubuh Hadja yang tinggi, bahkan dalam posisi bersimpuh pun ia tetap bisa menjangkau bagian kepala Grace hanya dengan menjinjitkan kakinya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah memeriksa suhu tubuh Grace dengan termometer. Hadja tampak begitu berhati-hati dalam memperlakukan Grace hingga tangannya bahkan terulur untuk menahan tengkuk Grace.

Sementara Hadja tampak fokus dengan pengukuran termometer di bawah lidah, Grace yang sedikit mendongak justru salah fokus dengan posisi mereka saat ini. Apalagi dengan tangah Hadja di tengkuknya. Grace heran, memangnya memeriksa suhu tubuh bisa terasa seintim ini, ya? Hadja tidak begini kepada pasien lain, kan?

Dalam waktu periksa yang singkat itu, Grace dapat melihat wajah menawan Hadja dari jarak yang begitu dekat. Sepertinya Hadja sangat rajin mengurus rambut di wajahnya hingga tampak begitu mulus. Tak pernah sedikit pun Grace kehilangan kekagumannya atas keindahan seorang Hadja. Namun kali ini, pandangan Grace tiba-tiba terfokus kepada bibir merah muda Hadja yang sedikit pun tak pernah menyentuh lintingan tembakau.

Dengan jarak sedekat ini dan posisi tangan di tengkuk, biasanya kalau dalam film-film yang Grace tonton, tokohnya sembilan puluh persen pasti akan berciuman. Sayangnya, Grace dan Hadja masuk ke dalam golongan sepuluh persen yang gagal. Bahkan disebut gagal saja tidak tepat karena Hadja sama sekali tak memikirkan hal seperti itu. Ia terlalu fokus merawat Grace. Wanita itu sedikit merasa bersalah karena tiba-tiba terbesit pikiran seperti itu di saat Hadja tampak begitu tulus mengurusnya.

[SS] Before You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang