Maulana duduk di ruang guru, tubuhnya yang tinggi dan tegap tampak lemah dan lelah. Dia merasakan sakit perut yang menusuk-nusuk, seperti ada yang mengiris-iris hatinya dengan pisau tajam. Setiap kali dia menarik napas, rasa sakit itu semakin meningkat, membuatnya merasa tidak nyaman.
Tiba-tiba, suara ribut dan hiruk pikuk dari halaman sekolah memecahkan keheningan. Para murid kelas 3F yang berbaris di tengah halaman tampak tidak bisa diatur, mereka berteriak dan tertawa dengan bebas, membuat Maulana merasa frustrasi.
Meskipun tubuhnya merasa tidak nyaman, Maulana tidak bisa tinggal diam. Dia tahu bahwa murid-muridnya membutuhkan perhatian dan disiplin yang kuat. Dengan rasa sakit yang semakin meningkat, Maulana bangkit dari tempat duduknya, berusaha untuk mengabaikan ketidaknyamanan yang dirasakannya.
Dia berjalan keluar menuju halaman, langkah-langkahnya yang panjang dan tegap tampak seperti langkah-langkah seorang prajurit yang siap tempur. Namun, di balik penampilan yang kuat itu, Maulana merasakan sakit perut yang semakin menusuk, keringat dingin yang membasahi dahinya, dan napas yang semakin berat.
Saat mencapai halaman, Maulana langsung disambut oleh sorotan mata murid-muridnya yang penuh dengan energi dan kekacauan. Dengan suara yang tegas dan nada yang tinggi, Maulana mulai memberikan instruksi, berusaha untuk menenangkan dan mengatur murid-muridnya yang bandel. Meskipun tubuhnya merasa tidak nyaman, Maulana tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan, dia tetap teguh dan kuat, seperti seorang pemimpin yang tidak pernah menyerah.
Maulana berdiri di depan para murid kelas 3F, matanya yang tajam memandang ke arah mereka dengan intensitas yang kuat.
"Berbaris dengan rapi!" perintahnya, suaranya yang dalam dan tegas terdengar seperti ledakan yang memecahkan keheningan, namun terasa ada nada tersembunyi di balik kata-katanya, seperti benang yang hampir putus.
Meskipun suaranya kuat, Maulana merasakan sakit perut yang tajam, seperti ada yang mengiris-iris hatinya dengan pisau tajam. Keringat dingin membasahi dahinya, dan napasnya yang berat membuat dadanya terasa sesak. Namun, dia tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan, matanya tetap tajam dan suaranya tetap tegas.
Para murid kelas 3F yang sebelumnya ribut dan bandel, langsung terdiam dan berbaris dengan rapi, seperti boneka yang diatur oleh tangan yang kuat. Maulana memandang mereka dengan mata yang tajam, memastikan bahwa mereka semua mengikuti perintahnya dengan patuh. Meskipun tubuhnya merasa tidak nyaman, Maulana tetap teguh dan kuat, seperti batu karang yang tidak tergoyahkan oleh badai.
Maulana membalikkan tubuhnya dengan niat untuk duduk sebentar di teras depan kelas, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang menghantuinya. Namun, dia tidak menyadari bahwa Rangga dan Ian sedang membawa meja bersama-sama, mengangkatnya dengan langkah yang cepat dan tidak terlalu memperhatikan sekitar.
Tiba-tiba, ujung meja yang diangkat oleh Rangga dan Ian membentur perut Maulana dengan keras, tepat di bagian hati yang sudah sakit.
Rasa sakit yang tajam dan menusuk menghantam tubuh Maulana, membuatnya terhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam. "Uggh..." desisnya pelan, suaranya yang dalam terdengar seperti gemuruh yang tertahan.
Maulana merasakan rasa sakit yang luar biasa, seperti gelombang panas yang membakar di dalam tubuhnya. Rasa sakit itu menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa lemah dan tidak berdaya. Keringat dingin membasahi dahinya, dan napasnya menjadi berat. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahan, namun matanya yang tajam terlihat sedikit merapatkan, dan dia mengambil jeda sejenak untuk mengumpulkan kekuatan sebelum melanjutkan.
Rasa tidak nyaman yang dirasakan Maulana semakin meningkat, dan dia berharap bisa duduk sebentar di teras untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun, saat ini dia harus berusaha untuk tetap berdiri tegak dan tidak menunjukkan kelemahan di depan murid-muridnya.
Rangga langsung panik ketika dia menyadari bahwa ujung meja yang dia angkat telah membentur perut Maulana dengan keras. Wajahnya yang semula santai berubah menjadi khawatir, dan dia merasa seperti telah melakukan kesalahan besar.
"Pak, maaf...!" Rangga berteriak dengan nada panik, suaranya yang biasanya keras terdengar lembut dan penuh penyesalan. Dia langsung berhenti mengangkat meja dan berlari ke arah Maulana, mata yang besar penuh dengan kekhawatiran.
Ian yang berada di sebelah Rangga juga terlihat panik, dan dia ikut berhenti mengangkat meja. "Pak, maafkan kami!" Ian menambahkan, suaranya yang biasanya tenang terdengar gugup.
Rangga merasa bersalah dan khawatir bahwa dia telah menyebabkan Maulana cedera parah. Dia berharap Maulana bisa memaafkannya dan tidak terlalu marah. Dengan wajah yang penuh penyesalan, Rangga menunggu reaksi Maulana, berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Maulana berusaha untuk menenangkan Rangga dan Ian dengan senyum lemah, meskipun rasa sakit yang luar biasa masih menghantui tubuhnya. "Tidak apa-apa," katanya dengan suara yang lembut, berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang sebenarnya sangat parah.
Namun, di dalam hatinya, Maulana merasakan rasa sakit yang luar biasa, seperti badai yang mengamuk di dalam tubuhnya. Dia merasa ingin pingsan, dan napasnya menjadi semakin berat. Keringat dingin membasahi dahinya, dan matanya terasa berat, seperti ada beban yang menekan.
Meskipun demikian, Maulana berusaha untuk tetap berdiri tegak dan tidak menunjukkan kelemahan di depan murid-muridnya. Dia tidak ingin mereka khawatir, dan dia berharap bisa menyelesaikan situasi ini dengan tenang. Dengan wajah yang tetap tenang, Maulana berharap bisa mengalihkan perhatian dari rasa sakit yang menghantuinya.
Rangga dan Ian saling menatap sebentar, lalu mereka kembali mengangkat meja dan melanjutkan pekerjaannya. Mereka berjalan dengan langkah yang lebih hati-hati, berusaha untuk tidak menimbulkan gangguan lagi.
Maulana menonton mereka dengan mata yang masih terasa berat, berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk duduk sebentar dan mengurangi rasa sakitnya. Namun, dia tidak ingin menunjukkan kelemahan di depan murid-muridnya, jadi dia tetap berdiri tegak, meskipun rasa sakitnya semakin meningkat.
Dengan wajah yang tetap tenang, Maulana menunggu Rangga dan Ian selesai membawa meja ke gudang, berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk beristirahat sebentar setelah itu.
Rangga kembali ke depan kelas dengan langkah yang mantap, dan Maulana merasa sedikit lega karena Rangga bersedia mengambil alih tugasnya menginstruksi kelas 3F. Maulana memberikan isyarat kepada Rangga untuk mengambil alih, dan Rangga langsung memulai instruksi dengan suara yang keras dan jelas.
Maulana sendiri bisa sedikit beristirahat, meskipun masih berdiri, dia bisa mengurangi intensitas pengawasan terhadap murid-muridnya. Rasa sakitnya masih ada, tapi dengan Rangga yang mengambil alih, Maulana bisa sedikit melepaskan beban pikirannya dan fokus pada mengurangi rasa sakitnya.
Dengan wajah yang masih terlihat tegang, Maulana berharap bisa bertahan sampai pelajaran selesai, dan dia bisa mendapatkan kesempatan untuk beristirahat lebih lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomantikDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
