part 10

76 2 0
                                        


Setelah keluar dari bioskop, Ohm dan Nanon berjalan perlahan menuju parkiran motor. Malam terasa hangat, tidak terlalu dingin, dan langit malam dihiasi taburan bintang samar yang menggantung malu-malu.

“Ohm, makasih ya. Filmnya bagus, dinner-nya juga enak,” kata Nanon dengan suara pelan namun tulus.

Ohm tersenyum kecil, membuka helm dan memberikannya pada Nanon. “Aku senang kamu suka. Tapi malamnya belum selesai.”

Nanon mengerutkan alis, “Hah? Maksudnya?”

“Aku pengen ajak kamu ke satu tempat. Gak jauh kok, cuma taman kota di pinggir danau. Malam-malam di sana biasanya tenang. Aku sering ke sana kalau lagi pengin nenangin pikiran.”kata ohm

Nanon mengangguk, lalu masuk dalam mobil. “Oke. Aku ikut.”

Mereka pun melaju di jalanan kota yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan berkelip seperti bintang buatan, dan hembusan angin malam terasa lembut di wajah. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah taman kota yang luas. Di sisi taman, ada danau kecil yang memantulkan cahaya lampu sekitar, menciptakan suasana magis yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ohm mematikan mesin, membantu Nanon turun dari mobil, lalu mereka berjalan bersama ke sebuah bangku taman yang menghadap langsung ke danau. Suara jangkrik dan semilir angin menambah hening yang damai.

Mereka duduk diam beberapa saat, menikmati keheningan yang tidak canggung. Hanya suara air dan gemerisik pohon yang menemani mereka.

“Ohm,” kata Nanon pelan, memecah keheningan.

“Hmm?”

“Kamu tahu nggak? Dulu aku gak percaya sama yang namanya cinta beneran. Aku pikir, semua orang itu bakal pergi juga pada akhirnya.”kata nanon

Ohm menoleh, menatap wajah Nanon yang kini serius, matanya menatap danau yang tenang.

“Aku ngerti,” jawab Ohm, pelan.

“Aku juga pernah ngerasa gitu. Banyak hal di hidupku yang bikin aku ngerasa orang itu dateng cuma buat lewat. Tapi... semenjak aku kenal kamu, aku jadi ngerasa ada yang beda.”kata ohm

Nanon menoleh, matanya menatap mata Ohm yang kini terlihat sangat jujur.

“Beda gimana?” tanya Nanon.

“Kayak... akhirnya aku nemuin tempat aku bisa berhenti. Berhenti nyari, berhenti lari, berhenti pura-pura kuat. Sama kamu, aku ngerasa bisa jadi diriku sendiri. Gak ada beban, gak ada kepura-puraan.”saut ohm

Nanon terdiam. Kata-kata itu terlalu indah, terlalu nyata untuk dianggap angin lalu.

“Aku takut,” gumam Nanon akhirnya.

“Takut apa?”tanya ohm

“Takut kehilangan. Takut kamu berubah. Takut semuanya cuma sementara.”kata nanon

Ohm menghela napas panjang. Ia menggenggam tangan Nanon, menggenggam erat.

“Kalau kamu takut, kita hadapin bareng. Aku gak janji kita gak akan nemuin rintangan. Tapi aku janji, selama kamu masih mau aku di samping kamu, aku gak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Sama kamu.”kata ohm

Mata Nanon mulai berkaca-kaca. Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan dan menggenggam tangan Ohm lebih erat.

Malam itu, tanpa pelukan atau ciuman, hanya genggaman tangan yang kuat dan kata-kata yang tulus, cinta di antara mereka terasa nyata. Jauh lebih nyata dari sekadar cerita romantis biasa.

Di Perjalanan Pulang

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas malam. Ohm dan Nanon kembali menaiki mobil, kali ini dengan keheningan yang damai. Tak ada kata-kata, tapi hati mereka bicara banyak. Jalanan sudah sepi, dan lampu-lampu rumah mulai redup satu per satu.

Sesampainya di depan rumah Tay, Ohm mematikan mesin motor.

“Udah sampai,” kata Ohm pelan.

Nanon membuka helmnya, melepaskannya perlahan. Ia menatap Ohm dengan tatapan lembut.

“Makasih ya… untuk malam ini.”

Ohm mengangguk, “Aku yang makasih. Karena kamu mau datang, mau dengerin aku, dan mau jujur sama perasaan kamu.”

Nanon tertawa pelan, “Aneh ya. Kita gak ngelakuin hal-hal besar. Tapi rasanya... kayak malam ini berarti banget.”

“Karena yang bikin spesial itu bukan tempatnya,” balas Ohm. “Tapi kamu.”

Nanon menggigit bibir bawahnya, menahan senyum.

“Ohm...” panggilnya pelan.

“Hmm?”

“Jangan pernah bosan ya... sama aku.”

Ohm menatapnya lama, lalu menjawab pelan dan pasti, “Satu hal yang gak akan pernah terjadi. Aku gak akan pernah bosan sama kamu, Nanon.”

Nanon hanya mengangguk. Ia tak perlu jawaban panjang. Kata-kata Ohm malam itu sudah lebih dari cukup.

Ia pun melangkah masuk ke dalam rumah setelah melambai singkat. Ohm masih berdiri di depan gerbang, menunggu sampai lampu teras mati tanda Nanon sudah aman di dalam.

Kemudian, dengan senyum kecil di wajahnya, Ohm kembali naik ke motornya, membawa pulang sebuah malam yang takkan pernah ia lupakan.






















Jangan lupa like dan komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang