Sore itu, sinar matahari merambat masuk dari jendela ruang tengah rumah keluarga TayNew. Udara sejuk menyelimuti ruangan yang wangi oleh aroma masakan New dari dapur. Di ruang tengah, Franks duduk bersila di atas karpet, laptop terbuka di hadapannya. Beberapa lembar kertas diagram, pulpen warna, dan catatan kecil bertebaran di sekitarnya.
Sementara itu, Pleum duduk di sofa, memeluk bantal kecil sambil membaca dokumen. Sesekali ia menoleh ke Franks, memperhatikan adiknya yang tampak serius.
“Franks, kamu ngerjain apa sih? Kelihatan ribet banget tuh,” tanya Pleum santai.
Franks menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar, “Ini laporan evaluasi internal. Aku disuruh bikin pembanding dua sistem manajemen untuk laporan akhir magang. Berat sih, tapi seru juga.”
Pleum tersenyum. “Wah… kamu udah kayak profesional beneran.”
“Yah, namanya juga latihan jadi anak kantor,” sahut Franks, lalu tertawa pelan.
Dari arah dapur, suara New terdengar memanggil, “Nanon… sini bantu Mama cuci sayur dulu ya, Mama mau siapin sop ayam kesukaan kamu.”
Nanon, yang baru saja mengganti baju kuliahnya dan mengenakan kaos rumah longgar, langsung menuju dapur dengan rambut setengah basah setelah mandi. Ia mengikat rambutnya ke atas dan mengambil baskom yang berisi sayuran segar.
“Iya, Ma! Biar Nanon yang cuci sayurnya. Mama tinggal potong-potong aja,” kata Nanon sambil tersenyum.
New menatap anak bungsunya dengan penuh kasih. “Wah, tumben kamu semangat bantu Mama?”
Nanon tertawa pelan. “Lagi pengen manis aja hari ini. Tadi sore udah pulang bareng Ohm, ngobrolin banyak hal… jadi mellow gitu deh.”
New ikut tersenyum. “Kalian emang deket banget ya… Mama senang lihat kamu punya tempat cerita.”
Sambil mencuci sayur, Nanon melirik ke arah ruang tengah. “Kak Franks serius banget tuh…”
New ikut menoleh. “Iya, dia lagi kejar target laporan magangnya. Papa kamu juga waktu muda gitu lho, kerjaan dibawa sampai ke rumah.”
Nanon terkekeh. “Pantes ya aku gak bisa santai, keturunan kerja keras.”
Tiba-tiba dari pintu depan terdengar suara Tay masuk.
“Wah, rumahku ramai banget hari ini!” seru Tay sambil melepaskan jaket kerjanya dan menggantung di dekat pintu.
“Papaaa!” Nanon menghampiri Tay dan memeluknya dari samping. “Papa pulang tepat waktu.”
“Harus dong,” jawab Tay sambil mencium kepala anaknya. “Anak Papa udah bantu Mama masak, masa Papanya telat pulang.”
Pleum menurunkan dokumen dari wajahnya. “Pa, tadi aku udah diskusi sama supervisor di kantor. Mereka mau nawarin kontrak jangka panjang setelah aku lulus.”
Tay mendekat dan menepuk bahu sulungnya. “Wah, kabar bagus banget! Papa bangga sama kamu.”
Franks ikut menyahut dari bawah. “Kalau aku selesai magang bulan ini, bisa langsung bantu Pa di proyek kan?”
Tay mengangguk mantap. “Tentu. Kita mulai pelan-pelan ya, kamu ikut rapat dulu. Biar tahu ritmenya.”
New tersenyum puas dari dapur melihat keakraban suami dan anak-anaknya.
Nanon yang sedang mengaduk sop di panci ikut menimpali, “Kalau gitu nanti Nanon bantu Mama terus deh, biar rumah ini tetap seimbang.”
Tay tertawa kecil. “Kamu juga nanti bakal sibuk kuliah. Tapi, jangan lupa, rumah ini tetap tempat pulang.”
Suasana di rumah TayNew sore itu terasa damai, hangat, dan penuh canda tawa. Keluarga yang saling mendukung tanpa harus sempurna, tapi penuh kasih dan pengertian.
Ketika malam turun perlahan, lampu-lampu rumah mulai menyala. Dari ruang makan, suara obrolan dan tawa mengalir seperti alunan lagu yang menenangkan.
Rumah yang sederhana, tapi hati mereka penuh.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Ficțiune adolescențiNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
