Pagi itu kampus terasa lebih hidup dari biasanya. Sinar matahari menembus celah dedaunan rindang di halaman depan, memantulkan kilau keemasan di aspal yang sedikit basah akibat hujan semalam. Angin pagi membawa aroma segar rerumputan, membuat suasana terasa hangat sekaligus menenangkan.
Ohm sudah tiba lebih dulu di halaman depan kampus. Ia mengenakan jaket tipis berwarna biru tua, ransel tersampir di satu bahu. Senyumnya langsung mengembang saat melihat Nanon berjalan dari arah gerbang, menenteng tas besar yang tampak sedikit lebih berat dari tubuh mungilnya.
“Nanon! Sini,” seru Ohm sambil melambaikan tangan.
Nanon melangkah cepat, sedikit terengah tapi tetap tersenyum. “Hehe, maaf ya, aku telat sedikit. Barangnya agak banyak.”
Fiat, AJ, dan JJ juga muncul dari arah parkiran, membawa tas masing-masing. Mereka bertiga terlihat semangat, wajahnya cerah, dan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
Fiat menepuk bahu Nanon. “Wih, ini kayaknya kamu bawa isi rumah, Non.”
Nanon nyengir. “Namanya juga persiapan kemping, siapa tau perlu semua.”
AJ ikut menyahut sambil tertawa kecil. “Kalau isinya bantal sama boneka sih, nggak heran.”
“Eh, itu penting untuk tidur nyenyak,” Nanon membela diri, membuat mereka semua tertawa bersama.
Tak lama kemudian, suara pengeras terdengar dari depan halaman. Rektor kampus, dengan senyum ramahnya, berdiri di podium. Mahasiswa mulai diarahkan untuk berkumpul rapi sesuai kelompok masing-masing.
Rektor membuka sambutan dengan suara tenang namun penuh semangat.
“Selamat pagi semuanya. Hari ini kita memulai kegiatan perkemahan tahunan, di mana mahasiswa baru dan mahasiswa lama akan saling mengenal, bekerja sama, dan belajar dari pengalaman satu sama lain. Saya harap kalian semua bisa mengikuti dengan penuh semangat, menjaga kekompakan, dan tentu saja menjaga nama baik kampus kita.”
Suaranya bergema di halaman, diikuti tepuk tangan meriah.
Setelah sambutan, beliau mulai menjelaskan peraturan dan tata tertib perkemahan: waktu bangun, kegiatan yang harus diikuti, dan hal-hal yang dilarang. Suasana terasa khidmat, tapi tetap santai karena sesekali rektor menyelipkan humor yang membuat mahasiswa tertawa.
Selesai amanat, mahasiswa bubar untuk mencari kelompok masing-masing.
Kelompok Nanon ternyata berisi orang-orang yang sudah akrab: Nanon, Ohm, Fiat, AJ, dan JJ. Mereka berkumpul di sudut halaman sambil menunggu bus yang akan membawa mereka ke lokasi kemping.
Fiat menghela napas panjang. “Semoga busnya nyaman, soalnya perjalanan katanya lumayan jauh.”
JJ menjawab sambil merapikan topinya. “Yang penting bukan bus tanpa AC. Bisa lepek semua nanti.”
Ohm melirik Nanon yang sedang duduk di bangku panjang dekat halte kampus. “Kamu duduk sini aja, biar nggak capek berdiri.”
Nanon tersenyum tipis. “Makasih, Ohm. Kamu nggak duduk?”
“Aku duduk di sini aja, biar bisa jagain tas kita,” jawab Ohm sambil duduk di sebelahnya, jarak mereka begitu dekat sehingga Nanon bisa merasakan hangatnya jaket Ohm di bahunya.
Tak lama, suara klakson bus terdengar. Bus biru besar itu perlahan berhenti di depan mereka. Mahasiswa mulai berbaris untuk naik.
Fiat memilih duduk bersama Dreka, temannya dari kelas lain. AJ dan JJ duduk berdua, sudah sibuk membicarakan makanan apa yang akan mereka masak di kemping nanti.
Sementara itu, Ohm dan Nanon duduk berdampingan di kursi dekat jendela.
Ohm melirik keluar, lalu berkata pelan, “Pemandangannya nanti bakal indah banget kalau udah keluar dari kota. Kamu pasti suka.”
Nanon menoleh, matanya sedikit berbinar. “Aku udah nggak sabar. Semoga kita bisa lihat langit yang penuh bintang.”
Ohm tersenyum hangat, suaranya lembut. “Kalau bintangnya kurang, aku bisa pinjamin satu…”
Nanon mengernyit sambil tertawa kecil. “Pinjamin satu bintang? Kamu nggak takut kosmos marah?”
“Biarin, yang penting kamu senyum,” jawab Ohm, membuat pipi Nanon terasa panas walaupun angin dari AC bus berhembus lembut.
Bus pun mulai melaju perlahan, meninggalkan halaman kampus. Perjalanan panjang menuju perkemahan pun dimulai, diiringi tawa, percakapan ringan, dan pandangan yang sesekali bertemu di antara dua hati yang mulai semakin dekat.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
