Part 57

49 3 0
                                        

Pagi Pertama: Bangun Bersama Sang Suami


Cahaya subuh yang lembut menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari kamar baru Ohm dan Nanon. Perlahan, Nanon mengerjap. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan luar biasa yang melingkupinya. Ia menoleh, dan melihat wajah Ohm yang tidur nyenyak, tangannya melingkari pinggang Nanon dengan posesif, dan napasnya terasa hangat di tengkuk Nanon.

Nanon tersenyum tipis. Ia menggerakkan tangannya, menyentuh lembut rahang Ohm yang tampak kokoh. Senyumnya melebar. Semua yang terjadi tadi malam terasa seperti mimpi paling indah, namun sentuhan kulit mereka yang bersentuhan membuktikan bahwa itu adalah kenyataan.

Ia ingat semua janji yang mereka ukir dalam gairah dan kelembutan. Malam itu adalah penutup sempurna dari babak keraguan dan pembuka dari babak kepastian.

Nanon berusaha melepaskan diri perlahan agar tidak membangunkan Ohm. Ia ingin mandi dan menyiapkan sarapan sederhana. Ia berhasil keluar dari pelukan Ohm dan duduk di tepi ranjang. Ia meraih baju  tidurnya, tetapi pandangannya terhenti pada tubuh Ohm yang polos di bawah selimut. Otot bisep dan dadanya yang bidang terlihat jelas, mengingatkannya pada kekuatan yang semalam ia rasakan.

Wajah Nanon memerah. Ia bergegas masuk ke kamar mandi, mengunci pintunya dengan senyum malu-malu.

Air hangat dari shower terasa menenangkan, menghilangkan sisa-sisa kelelahan dan gairah malam. Setelah selesai dan berpakaian rapi dengan pakaian santai, Nanon keluar.

Kamar itu masih sunyi. Ohm masih tertidur lelap, selimut hanya menutupi pinggangnya. Nanon berjalan mendekat, mengambil ponselnya di nakas. Pukul 07.00 pagi.

Nanon mengirim pesan singkat ke grup chat keluarga mereka, mengabarkan bahwa mereka baik-baik saja dan akan menelepon nanti. Ia tidak bisa menahan diri untuk memotret Ohm yang sedang tidur pulas, senyum kecil mengembang di wajahnya.

Nanon memutuskan untuk turun ke dapur. Ia ingin membuat sarapan pertamanya untuk suaminya.

Dapur di rumah baru mereka sangat lengkap. Nanon menemukan semua yang ia butuhkan untuk membuat toast sederhana, scramble eggs, dan kopi hitam pekat kopi favorit Ohm. Aroma kopi segera memenuhi udara.

Saat Nanon sedang menata piring di meja makan, ia merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya dari belakang.

"Selamat pagi, Istriku," suara Ohm terdengar serak dan dalam, baru bangun tidur.

Nanon berjengit kaget, namun segera tersenyum. "Selamat pagi, Suamiku. Aku kira kamu masih tidur sampai siang."

Ohm menyandarkan dagunya di bahu Nanon, mencium aroma shampoo Nanon yang segar. "Bagaimana mungkin aku bisa tidur lama, saat pria paling cantik di dunia sedang membuatkan kopi untukku?"

"Merayuku, ya?" goda Nanon, mencoba melepaskan diri untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Ohm mengeratkan pelukannya. "Tidak. Ini hanya fakta. Dan omong-omong, kamu lari terlalu cepat tadi. Aku ingin mengucapkan selamat pagi yang lebih baik dari ini."

"Lebih baik bagaimana?"

Ohm membalikkan tubuh Nanon agar menghadapnya. Nanon mendapati Ohm hanya mengenakan celana tidur yang longgar, memperlihatkan dada bidangnya yang atletis.

"Seperti ini," Ohm berbisik. Ia menunduk, mencium Nanon dengan lembut dan dalam. Ciuman pagi itu terasa manis dan penuh keintiman, tidak lagi diburu-buru oleh gairah seperti semalam, melainkan penuh kasih sayang dan kepemilikan.

Setelah ciuman itu terlepas, Nanon tersipu malu lagi. "Itu... itu baru ucapan selamat pagi yang baik."

"Bagus," Ohm tersenyum puas. Ia menyentuh lembut bibir Nanon. "Tapi, lain kali, jangan lari saat bangun, Sayang. Aku ingin bangun dan melihatmu ada di sana, di sampingku."

"Aku hanya ingin menyiapkan sarapan pertama kita," jelas Nanon.

Ohm memandangi meja makan. "Ini luar biasa, Sayang. Tapi aku juga lapar dengan hal lain."

"Lapar apa?"

Ohm menyeringai jahil. "Lapar dengan janji yang sudah kita buat tadi malam."

Nanon memukul pelan dada Ohm. "Mandi! Lalu kita sarapan! Hari ini kita harus menelepon The Four Generals sebelum mereka menyerbu ke sini."

Ohm tertawa, melepaskan Nanon. "Baik, My Manager. Aku akan mandi. Tapi jangan harap kita akan sarapan dengan tenang, karena aku akan terus memegang tanganmu di bawah meja."

Ohm berjalan kembali ke atas, dan Nanon hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Rumah baru mereka terasa sempurna. Mereka tidak hanya berbagi ruang, tetapi juga berbagi setiap inci kehidupan baru mereka.

Nanon kembali ke meja makan, melihat dua piring sarapan dan dua cangkir kopi. Di salah satu sudut meja, Nanon melihat cincin kawin di jarinya bersinar di bawah sinar matahari pagi. Ia meraih ponselnya, menemukan foto Ohm yang tidur nyenyak, dan tersenyum lagi.

Ini adalah pagi pertama kami. Pagi pertama kami sebagai suami istri. Pagi yang berawal dari kepanikan di hutan, dan kini berlabuh dalam janji dan kehangatan.

Nanon mengirim pesan singkat ke Ohm: "Aku cinta kamu. Cepat turun, kopi kamu dingin."

Ohm membalas dengan emoticon hati merah, dan Nanon tahu, petualangan hidup mereka baru saja dimulai dengan sangat indah.












Jangan Lupa Like dan Komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang