Babak Baru: Pertunangan dan Tekanan Skripsi
Keputusan untuk menunda pernikahan hingga setelah wisuda memberikan sedikit ruang bernapas bagi Ohm dan Nanon. Namun, itu tidak sepenuhnya menghilangkan tekanan, terutama dari keluarga yang terlanjur antusias.
Mew dan Gulf , bersama Tay dan New, memang menuruti keinginan mereka. Jadwal pertemuan dengan Wedding Organizer dialihkan dari bulanan menjadi tiga bulanan. Tetapi, setiap percakapan telepon selalu berakhir dengan godaan atau perintah halus.
"Nanon, Sayang. Bunda hanya ingin memastikan, kamu sudah memilih motif untuk taplak meja resepsi, kan? Tidak bisa ditunda, nanti trend berubah!" ujar Gulf suatu malam di telepon.
"Ohm, Ayah sudah mengirimimu link toko cufflink terbaik di Eropa. Itu untuk hadiah groomsmen. Tidak ada alasan untuk menundanya!" perintah Mew dengan nada ceria.
Nanon dan Ohm hanya bisa saling pandang di laboratorium, lalu tertawa pasrah.
"Kita tunangan, bukan menikah dengan anggota Royal Family," bisik Nanon sambil menghela napas, menutup buku tebalnya.
"Setidaknya kita punya alasan yang sah untuk berada di sini setiap malam, berdua," Ohm tersenyum jahil, lalu kembali fokus pada layar laptop.
Mereka benar-benar tenggelam dalam Tugas Akhir mereka. Penelitian mereka tentang Inovasi Bahan Ramah Lingkungan untuk Konstruksi adalah proyek ambisius yang menuntut waktu, energi, dan emosi.
Malam-Malam di Lab dan Cincin Janji
Perpustakaan dan laboratorium menjadi rumah kedua mereka. Sering kali, Nanon tertidur di kursi, kepalanya bersandar pada bahu Ohm, sementara Ohm masih bergumul dengan data.
Suatu malam, sekitar pukul dua dini hari, Nanon terbangun dan mendapati Ohm sedang memijat pelipisnya, matanya terlihat merah karena kurang tidur.
"Ohm, kamu harus istirahat," Nanon berbisik, suaranya serak. Ia menggeser duduknya, dan mulai memijat bahu Ohm.
"Tidak bisa, Sayang. Data ini rumit sekali. Kalau kita tidak selesai besok, kita akan terlambat untuk deadline presentasi," jawab Ohm, suaranya penuh frustrasi.
Nanon tahu, tekanan ini juga berat untuk Ohm. Ia menghentikan pijatannya, lalu memeluk Ohm dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Ohm.
"Ingat janji kita?" tanya Nanon. "Kita tidak akan meninggalkan satu sama lain. Bahkan di tengah Tugas Akhir yang menyebalkan ini."
Ohm menghela napas lega, mencium tangan Nanon yang melingkari lehernya. "Janji. Maaf, aku hanya sedikit stres. Aku ingin semua ini selesai, agar kita bisa fokus pada pernikahan kita."
Nanon menarik diri, menyentuh cincin tunangan yang melingkar di jari manis Ohm.
"Lihat ini," kata Nanon lembut. "Cincin ini adalah pengingat. Kita sudah terikat. Tugas Akhir ini hanyalah rintangan kecil yang harus kita lewati sebelum kita benar-benar hidup bersama. You've got this, Sayang."
Ohm menoleh, melihat mata Nanon yang memancarkan kepercayaan penuh. Tatapan itu lebih menenangkan daripada kopi.
"Terima kasih, Tunanganku," Ohm tersenyum. "Kau adalah motivasi terbaikku. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah gila dengan penelitian ini."
Ohm tiba-tiba menutup laptopnya. "Baiklah. Sekarang giliranmu. Ceritakan lagi bagian saat kamu hilang di hutan. Itu selalu berhasil membuatku rileks."
Nanon tertawa kecil. "Aku sudah cerita sepuluh kali! Tapi, oke. Well, saat aku melangkah ke kiri, aku pikir itu jalur baru, tapi ternyata..."
Percakapan ringan itu, yang selalu mereka ulang-ulang, adalah cara mereka untuk melepaskan penat dan kembali ke momen intim yang mengawali segalanya. Itu adalah ritual mereka.
Perjuangan dan Dukungan Sahabat
Sementara itu, Fiat dan AJ juga menjadi pahlawan tak terduga. Mereka tidak lagi menggoda, melainkan menjadi benteng pertahanan Nanon dan Ohm dari gangguan sosial kampus.
Suatu siang, saat Nanon dan Ohm sedang makan siang cepat di kantin yang kini selalu mereka lakukan berdua Chimon terlihat kembali mencoba mendekati meja mereka.
Chimon, yang masih menyimpan luka, berusaha memulai percakapan ramah. "Hai, Nanon. Hai, Ohm. Bagaimana perkembangan penelitian kalian? Aku dengar kalian berhasil menemukan breakthrough pada bab tiga?"
Nanon baru saja akan menjawab dengan ramah, tetapi Fiat muncul tiba-tiba.
"Wah, Chimon! Tumben sekali! Kami sibuk sekali, Bro! Nanon dan Ohm harus buru-buru. Mereka ada progress meeting dengan dosen. Deadline tidak menunggu!" Fiat langsung menarik Nanon dan Ohm menjauh dari meja.
"Fiat! Kenapa kamu kasar begitu?" protes Nanon saat mereka sudah berada di koridor sepi.
Fiat memasang wajah serius. "Nanon, kamu tidak lihat tatapan Chimon? Dia masih hopeless sama kamu. Kalian ini public figure yang sudah bertunangan. Kalian harus menjaga jarak profesional dari siapapun yang punya secret crush! Kami ini manager kalian, tahu!"
AJ menambahkan, "Benar! Fokus kalian adalah skripsi dan tunangan! Biar kami yang urus 'penggemar' kalian."
Ohm menepuk bahu Fiat. "Terima kasih, kawan. Kalian memang bodyguard terbaik."
Nanon tersenyum, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki sahabat-sahabat seperti Fiat dan AJ, yang kini mendukung hubungan tak terduga mereka dengan sepenuh hati.
Titik Terang dan Janji Masa Depan
Waktu berlalu cepat. Berkat disiplin dan dukungan tak terpisahkan, Nanon dan Ohm berhasil menyelesaikan penelitian mereka tepat waktu. Mereka berdua berhasil mempertahankan nilai tertinggi mereka.
Saat malam terakhir mereka di kampus sebagai mahasiswa yang harus mengerjakan Tugas Akhir, Nanon dan Ohm duduk di tangga perpustakaan, menatap langit. Mereka baru saja mengirimkan draft terakhir skripsi mereka.
"Selesai," bisik Nanon, air matanya menetes haru. "Kita berhasil, Ohm. Kita lulus."
Ohm memeluk Nanon erat-erat. "Kita berhasil, Sayang. Tidak ada lagi laboratorium, tidak ada lagi data yang menyebalkan. Hanya ada kita, dan rencana baru."
"Rencana baru?"
Ohm mengambil tangan Nanon, mencium cincin tunangan di sana. "Ya. Sekarang, kita fokus pada rencana pernikahan. Tiga bulan setelah wisuda, kita akan resmi menjadi suami istri. Dan aku janji, setelah ini, yang kita hadapi hanyalah kebahagiaan."
Nanon bersandar di dada Ohm, mendengarkan detak jantungnya yang teratur. Perjalanan mereka dari dua orang yang menyembunyikan perasaan hingga menjadi tunangan yang berhasil menyelesaikan pendidikan bersama, adalah bukti bahwa cinta mereka lebih kuat dari segala rintangan, bahkan dari takdir yang sudah tertulis sekalipun.
Jurit Malam sudah selesai, dan mereka berdua sudah menemukan jalan pulang satu sama lain.
Jangan Lupa Like dan Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
