Di rumah Ohm, suasana menjelang malam mulai terasa tenang. Lampu ruang tamu menyala temaram, aroma tumisan Gulf memenuhi udara. Mew, yang duduk santai di sofa sambil membaca dokumen kerjaan, sesekali melirik ke dapur.
“Gulf, jangan lupa tambahin sedikit kecapnya. Biar lebih gurih,” ujar Mew tanpa menoleh.
“Udah aku atur kok, tenang aja,” jawab Gulf dari balik apron-nya. Wajahnya terlihat sibuk tapi tetap lembut, seperti biasa.
Tak lama, Win masuk dari kamar dengan rambut sedikit basah. Sepertinya baru selesai mandi.
“Wah, bau masakan bunda Gulf dari tadi bikin laper banget,” kata Win sambil duduk di samping ayahnya.
Gulf menoleh, tersenyum lebar, “Tunggu lima menit lagi, kak. Udah hampir siap semua.”
“Ohm belum pulang ya?” tanya Mew sembari melirik jam dinding.
Win menjawab sambil membuka HP-nya, “Dia tadi bilang mau pulang lebih cepat. Katanya ada janji.”
Mew mendesah pelan, “Janji sama siapa ya? Jangan-jangan…”
Belum sempat Mew menyelesaikan ucapannya, suara mesin motor berhenti di depan rumah. Tak lama Ohm masuk ke rumah dengan wajah sedikit tergesa.
“ohm pulang” serunya sambil melepas jaket dan sepatu.
"Tuh baru pulang ,” jawab mereka bertiga hampir bersamaan.
“Ohm, kamu buru-buru banget?” tanya Gulf sambil meletakkan piring ke meja makan.
“Iya, Bun. Aku ada janji dinner sama Nanon. Aku cuma mau ganti baju, terus langsung jalan,” jawab Ohm dengan senyum kecil.
Win mendekat sambil menepuk bahunya, “Wah, dinner romantis nih ceritanya. Jangan lupa bawa bunga.”
“Gak lebay, Kak,” sahut Ohm cepat, pipinya sedikit memerah.
Mew ikut menggoda, “Kamu serius sama Nanon?”
Ohm menatap ayahnya, kali ini dengan mata yang serius, “Iya, Yah. Aku serius.”
Gulf hanya tersenyum tipis, bangga, dan diam-diam berharap hubungan mereka berjalan lancar. “Ya udah, kamu ganti baju dulu sana. Nanti keburu malam.”
“Oh iya, makasih Bun, Yah, Kak Win,” ujar Ohm sambil masuk ke kamarnya.
Setelah Maghrib – Di Rumah Tay
Nanon sedang berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan kemeja putih oversize yang dipadukan dengan celana kain abu gelap. Rambutnya ditata sederhana, tapi rapi. Wajahnya tampak sedikit gugup.
“Udah cantik belum, Non?” gumamnya pada bayangan sendiri.
Ketukan pintu memecah lamunannya. Itu suara Franks.
“Non, ada cowok ganteng nunggu di ruang tamu tuh. Bawa mobil, kayaknya mau ngajak kabur,” goda Franks dari luar.
“Abang bisa aja!” teriak Nanon. Ia buru-buru mengambil tote bag-nya dan turun ke bawah.
Ohm sedang berdiri di depan sofa, mengenakan jaket denim gelap dan kaos hitam. Tatapannya melembut saat melihat Nanon.
“Wah, kamu cantik banget malam ini,” ucap Ohm jujur.
Nanon mengulum senyum, “Makasih. Kamu juga keliatan keren.”
Tay dan New keluar dari dapur, melihat mereka berdua berdiri di ruang tamu.
“Hati-hati di jalan ya, jangan pulang larut,” kata Tay sambil menepuk bahu Ohm.
“Iya Om, siap,” jawab Ohm sopan.
New mendekat, merapikan sedikit kerah baju Nanon. “Nikmatin malam kalian, tapi tetap ingat waktu, ya.”
“Iya Bun,” jawab Nanon manis.
Malam di Restoran dan Bioskop
Restoran yang dipilih Ohm tidak terlalu ramai. Lampunya temaram, dengan dekorasi minimalis yang nyaman. Mereka duduk di sudut ruangan, berhadapan, dengan lilin kecil menyala di atas meja.
“Jujur, ini kali pertama aku diajak dinner kayak gini,” kata Nanon sambil memainkan sendoknya.
Ohm tersenyum lembut, “Aku pengin bikin malam ini spesial. Mungkin gak mewah, tapi… aku pengin kita punya kenangan yang manis.”
Nanon menatap Ohm dalam diam, merasa hangat di dalam dadanya.
“Ohm,” katanya pelan. “Kamu yakin sama hubungan kita?”
Ohm menatap matanya, tak ragu. “Aku gak main-main, Non. Dari awal aku deket sama kamu, aku udah niat serius. Aku tahu kamu bukan sekadar singgahan.”
Nanon mengangguk pelan. “Makasih ya udah terus ada. Aku juga pengin terus jalanin ini bareng kamu.”
Setelah makan malam, mereka berjalan kaki ke bioskop yang hanya berjarak dua blok. Film yang mereka tonton adalah drama romantis ringan, tapi Nanon lebih banyak mencuri pandang ke arah Ohm daripada layar.
Ohm menyadarinya, lalu menggenggam tangan Nanon di dalam gelap.
“Kenapa liatin aku?” bisik Ohm.
“Gak papa. Cuma pengin pastiin ini semua nyata,” jawab Nanon lirih.
Ohm mencium tangan Nanon pelan. “Ini nyata. Dan akan terus nyata, selama kamu masih mau aku ada di samping kamu.”
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
