Part 48

26 1 0
                                        

Reaksi dan Diskusi Keluarga

Suasana di ruang tengah mendadak hening setelah pengakuan Ohm. Bukan hening yang tegang, melainkan hening yang penuh kelegaan dan kegembiraan terpendam.

Gulf dan New  langsung bertepuk tangan pelan, diikuti oleh sorakan dari para kakak mereka, yang sudah lama menantikan drama ini.

"Lihat, 'kan? Insting kami benar!" seru Mew bangga, menoleh ke Tay. "Mereka bahkan tidak perlu dijodohkan. Mereka sudah saling suka duluan!"

"Tentu saja insting kita benar, Mew," balas Tay, tertawa. "Tapi perjanjian ini perlu, agar mereka tidak lari ke mana-mana."

Nanon menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih menggila. Ia menoleh ke Ohm.

"Jadi... semua itu... sudah diatur?" tanya Nanon, suaranya masih tidak percaya.

Ohm memiringkan kepalanya, senyumnya kini menunjukkan rasa geli. "Sepertinya Jurit Malam yang kita lewati semalam hanyalah pemanasan, Nan. Ujian sesungguhnya adalah bagaimana kita menjalani takdir yang sudah disiapkan nenek moyang kita ini."

Gulf menanggapi. "Kami tidak bermaksud membuat kalian terkejut. Tapi Tay dan saya ingin memastikan bahwa kalian akan menikah dengan orang yang kami percaya dan cintai, bukan sekadar teman biasa. Kami sudah melihat chemistry kalian dari jauh, tapi kami ingin menunggu kalian siap."

"Jadi, bagaimana?" tanya New, melembutkan suaranya. "Apakah kalian merasa keberatan? Kami akan mundur kalau kalian benar-benar tidak suka. Perasaan kalian yang utama."

Nanon dan Ohm saling pandang lagi. Semua keraguan, semua ketakutan akan cinta bertepuk sebelah tangan yang mereka rasakan tadi malam, kini sirna. Mereka baru saja berjuang untuk mengakui perasaan mereka; sekarang, seluruh dunia—dan keluarga—mendukung mereka.

Ohm menggenggam tangan Nanon lebih erat, mengangkatnya sedikit agar terlihat oleh semua orang.

"Kami tidak keberatan, Bunda, Ayah," kata Ohm dengan tegas. "Kami baru saja berjanji untuk bersama tadi malam, dan ini hanya mengukuhkan janji itu di mata keluarga. Kami... kami bersedia."

Nanon mengangguk, wajahnya kini berseri. "Kami bersedia. Terima kasih sudah merencanakan takdir yang seindah ini."

Seketika, ruang tengah pecah oleh sorakan gembira. Para kakak mereka langsung menyerbu.

"Yes! Akhirnya aku punya adik ipar yang bisa diandalkan untuk main PlayStation!"kata pluem

 "Ohm, tanggung jawabmu sekarang lebih besar. Jangan macam-macam, Nanon ini kesayangan keluarga!"kata nut

"Aku harus segera siapkan kostum terbaikku untuk jadi groomsmen!"kata franks

"Aku sudah siapkan speech paling mengharukan untuk di resepsi nanti!"kata jimmy 

Di tengah kekacauan yang bahagia itu, Tay dan Gulf mendekati mereka.

Tay berbisik kepada Nanon. "Ayah sudah tahu kamu ngarep sama Ohm sejak lama. Jangan malu!"

"Ayah!" protes Nanon, wajahnya memerah.

Gulf menepuk bahu Ohm. "Jangan lupa date yang kamu rencanakan besok malam itu tetap wajib. Itu kencan pertama resmi kalian. Rencana keluarga hanyalah bonus."


Momen Berdua: Memproses Takdir


Setelah pesta kecil dadakan dan semua keluarga besar pulang, meninggalkan janji-janji untuk pertemuan tunangan, rumah Nanon kembali tenang. Hanya tersisa Tay, New, Nanon, dan Ohm, yang diminta menginap.

Malam itu, Ohm dan Nanon memutuskan untuk duduk di taman belakang yang sejuk, jauh dari pengawasan (meski Nanon tahu Ayahnya pasti sedang mengintip dari jendela dapur).

"Aku masih merasa ini prank," bisik Nanon, bersandar di pilar taman.

Ohm duduk di sebelahnya, menyandarkan gitar akustiknya di lantai. "Aku juga. Kita bertarung melawan rasa takut kita untuk mengaku cinta, dan ternyata, kita sudah dijodohkan sejak SD."

"Bayangkan, semua rasa cemburu, semua keraguan, itu semua nggak perlu," kata Nanon sambil tertawa pelan. "Aku bahkan takut kamu menganggapku mengganggu, padahal Ibumu sudah menjadwalkan kita untuk menikah."

Ohm mengambil tangan Nanon, menggenggamnya dan mencium punggung tangan itu. "Tapi, Nan, justru karena kita melalui itu semua, pengakuan tadi malam jadi begitu spesial. Kalau kita tahu dari awal, mungkin kita nggak akan merasakan thrill dan kepanikan yang sesungguhnya."

"Benar juga," Nanon mengangguk. "Jurit malam itu adalah pembuktian kalau kita memang serius. Bahwa perasaan kita bukan karena dijodohkan, tapi karena kita memang memilih satu sama lain."

Ohm tersenyum. "Aku senang kamu bilang begitu. Meskipun takdir sudah memilih kita, aku ingin kamu tahu, aku juga memilihmu, Nanon. Tidak peduli ada perjanjian nikah atau tidak."

Mereka terdiam sejenak. Angin malam membawa aroma melati dari taman.

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan date kita besok?" tanya Nanon. "Masih berlaku?"

"Tentu saja. Besok malam adalah kencan pertama kita sebagai pasangan yang sudah resmi dijodohkan," Ohm mengoreksi sambil tersenyum geli. "Aku sudah reservasi tempat yang romantis. Aku akan membawakanmu bunga dan cokelat. Aku ingin memperlakukanmu seperti pacarku, bukan hanya tunanganku."

Nanon tertawa. "Aku suka itu. Tunggu, kamu bilang 'tunangan'? Kapan kita tunangan?"

"Sepertinya Ibu dan Ayah sudah merencanakan upacara kecil segera. Katanya biar dunia tahu," Ohm mengangkat bahu. "Tapi jangan khawatir, aku akan memastikan semua ini berjalan sesuai keinginanmu juga. Kita lakukan ini pelan-pelan, seperti dua orang yang baru saja jatuh cinta."

Nanon menyandarkan kepalanya ke bahu Ohm. "Aku nggak sabar untuk jatuh cinta denganmu, Ohm. Meskipun kita sudah berteman lama, rasanya seperti petualangan baru."

Ohm memeluk Nanon dari samping, mencium puncak kepalanya. "Aku juga, Sayang. Aku janji, tidak akan ada lagi rahasia. Kita mulai hari ini, dengan jujur dan terbuka."

Tiba-tiba, Ohm meraih gitar yang ada di lantai.

"Sebagai penutup malam yang penuh kejutan ini," kata Ohm. "Aku mau memainkan lagu yang sama persis dengan yang kita mainkan di panggung tadi malam. Tapi kali ini, penontonnya hanya ada satu."

Ohm memetik gitar. Alunan melodi yang tenang dan lembut, yang tadi malam menjadi soundtrack pengakuan mereka di panggung, kembali mengalun. Nanon menutup mata, mendengarkan. Ia tahu, meskipun takdir telah menuliskan kisah mereka sejak lama, melodi hati mereka baru saja dimulai.

Malam itu, di bawah pengawasan bulan, mereka duduk berdua, menikmati kenyataan indah bahwa petualangan cinta mereka tidak berisiko, melainkan adalah takdir yang selama ini mereka tunggu.







Jangan Lupa Like dan Komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang