Part 44

34 1 0
                                        

Dengan senter di tangan, dan tangan Nanon erat dalam genggaman Ohm, mereka melangkah maju, menuju kegelapan pekat yang menelan pohon-pohon pinus. Suara api unggun perlahan meredup di belakang. Mereka memasuki hutan, di mana satu-satunya yang menemani mereka hanyalah suara jangkrik, hembusan angin, dan detak jantung yang berpacu.

Nanon berjalan sambil menunduk, fokus menatap senter yang bergerak-gerak di tanah, memastikan ia tidak tersandung akar atau batu. Genggaman tangannya pada Ohm begitu kuat, menunjukkan ketakutan yang nyata.

Pos 1 mereka lewati dengan cukup lancar. Di pos itu, seorang panitia berpakaian serba hitam menyambut mereka dengan wajah datar.

"Sebutkan tiga janji yang kalian pegang teguh dalam persahabatan," kata panitia dengan suara rendah yang dibuat seram.

Ohm dengan cepat menjawab, "Kejujuran, saling mendukung, dan tidak meninggalkan."

"Bagus," kata panitia itu sambil mencatat sesuatu. "Lanjut."

Mereka kembali berjalan. Jalan setapak di antara pohon-pohon semakin sempit. Sesaat setelah melewati Pos 1, Nanon merasakan ada ranting yang menyentuh pipinya. Ia refleks menjerit kecil, tangannya spontan terlepas dari genggaman Ohm.

"Ohm!" Nanon panik.

Ohm segera menoleh. "Ada apa?"

"K-kayaknya ada yang kena aku," bisik Nanon, suaranya tercekat. Ia melompat mundur sedikit, menjauhi ranting itu.

Ohm memutar senternya ke arah ranting yang dimaksud. "Cuma ranting pinus, Nan. Tenang." Ia mengulurkan tangan lagi. "Sini, pegang lagi."

Namun, Nanon, karena masih kaget dan sedikit terdisorientasi dalam gelap, tidak menyambut uluran tangan Ohm. Alih-alih melangkah ke depan, ia justru tanpa sadar melangkah agak ke kiri, sedikit keluar dari jalur setapak yang sempit.

"Sssttt!" Tiba-tiba terdengar desisan pelan dari balik semak-semak yang hanya berjarak beberapa meter di sebelah kanan mereka.

Nanon membeku. Kali ini ia tidak bisa memproses apakah itu suara panitia atau bukan. Ia merasa dingin menjalar dari tengkuknya.

"Suara apa itu, Ohm?" Nanon berbisik, panik yang sudah di ubun-ubun membuatnya tidak memperhatikan bahwa ia sudah berada sedikit jauh dari Ohm.

Ohm memutar senternya, menyinari area desisan itu. "Jangan takut, itu pasti panitia. Mereka bilang ada 'penjaga malam' yang bertugas menakut-nakuti."

"Tapi—"

Sebelum Nanon selesai bicara, dari sisi yang disinari senter Ohm, sebuah bayangan hitam melompat cepat dari semak, berkelebat, tepat di depan senter Ohm.

Ohm terkejut. "Astaga!"

Saat Ohm refleks mengayunkan senter ke arah bayangan—yang ternyata hanya panitia—ia kehilangan fokus pada Nanon sejenak. Ketika Ohm kembali menoleh ke tempat Nanon berdiri tadi, Nanon sudah tidak ada.

Ohm menegang. "Nanon? Nanon, kamu di mana?"

Hanya ada keheningan. Bayangan yang tadi melompat ternyata adalah panitia yang bertugas sebagai jumpscare dan kini sudah menghilang.

"Nanon!" panggil Ohm lebih keras, kali ini ada nada panik dalam suaranya. Ia segera mengarahkan senter ke sekeliling, bergerak cepat ke area tempat Nanon terakhir berdiri, yang ternyata berada di mulut jalur kecil yang samar dan tertutup rimbun daun.

"Nanon, ini nggak lucu! Balik!"

Ohm sadar. Kepanikan Nanon tadi pasti membuatnya tersesat ke jalur yang salah, atau mungkin Nanon berjalan lurus karena mengira ia mengikuti Ohm.

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang