Part 49

49 2 1
                                        

Hari Berikutnya: Menuju Kencan Resmi

Keesokan harinya, Nanon terbangun dengan perasaan yang campur aduk antara lelah setelah kemah dan excited karena kejutan perjodohan. Setelah sarapan di mana Tay dan New tidak berhenti membahas detail pernikahan, Nanon dan Ohm akhirnya bisa melarikan diri ke kamar Nanon untuk bersiap-siap.

"Aku nggak tahu apa yang harus aku pakai," kata Nanon, berdiri di depan lemarinya yang terbuka, Ohm duduk santai di pinggir tempat tidur.

"Pakai saja yang paling kamu suka, Nan," Ohm menyarankan. "Kamu selalu terlihat bagus dengan apa pun."

"Itu karena kamu sudah dijodohkan denganku, jadi kamu wajib bilang begitu," Nanon mencibir, tapi senyumnya tersungging. "Malam ini kita mau ke mana, Tuan Tunangan? Ibuku bilang aku harus pakai baju."

"baju? Tidak perlu," Ohm tertawa. "Kita mau date, bukan ke pesta gala. Tapi kalau mau tahu, aku sudah merencanakan tempat yang sangat romantis, dan tenang. Tempat di mana kita bisa bicara tanpa diganggu para kakak kita yang excited."

Ohm bangkit, menghampiri Nanon, dan memeluknya dari belakang. "Aku ingin tempat di mana kita bisa merasa seperti dua orang yang baru saja saling menemukan, bukan dua orang yang terikat perjanjian pranikah."

Nanon bersandar di dada Ohm. "Aku suka itu. Tapi, Ohm... setelah semalam, aku masih berpikir. Bagaimana kalau, karena kita sudah dijodohkan, perasaan kita jadi berubah? Jadi karena kewajiban?"

Ohm membalikkan tubuh Nanon agar menghadapnya. "Tatap mataku, Nan." Ohm menatapnya lekat. "Perjanjian itu bisa mewajibkan kita menikah, tapi perjanjian itu tidak bisa mewajibkan aku untuk menghabiskan waktu setahun mengumpulkan keberanian untuk menyapamu. Itu cinta. Perjanjian itu tidak bisa mewajibkan jantungku berdetak kencang saat kamu menyanyikan lagu tadi malam. Itu nafsu."

"Nafsu?" Nanon terkekeh.

"Maksudku, passion!" Ohm meralat cepat, membuat Nanon tertawa. "Intinya, aku cinta kamu, Nanon. Perjodohan ini hanyalah surat izin untuk mencintaimu di depan umum."


Kencan Paling Romantis: Di Atas Kota


Saat matahari terbenam, Ohm menjemput Nanon, yang malam itu memilih kemeja lengan panjang dan celana chino yang rapi. Ohm mengenakan kemeja yang serupa, terlihat santai namun elegan.

Ohm membawa Nanon ke sebuah restoran rooftop yang mewah di puncak gedung pencakar langit. Tempat itu hening, dengan pencahayaan lembut dari lilin dan pemandangan kota yang berkilauan di bawah mereka. Musik instrumental klasik mengalun pelan. Ini adalah tempat paling romantis yang pernah dikunjungi Nanon.

"Ohm... ini luar biasa," bisik Nanon, matanya berbinar melihat pemandangan 360 derajat kota di malam hari.

"Aku ingin kencan pertama kita berada di atas segalanya," Ohm tersenyum, menarik kursi untuk Nanon. "Di atas keramaian, di atas kepanikan tadi malam, dan di atas semua keraguan."

Setelah memesan makanan, percakapan mereka mengalir santai, dari Jurit Malam yang konyol, hingga masa depan di kampus. Namun, topik utama tetap tidak terhindarkan: keluarga dan pernikahan.

"Aku sempat bicara dengan phi Jimmy," kata Ohm, menyeruput minumannya. "Dia bilang, orang tua kita sudah memesan gedung pernikahan yang luar biasa. Katanya, setahun dari sekarang."

Nanon terkejut. "Setahun? Cepat sekali!"

"Aku tahu. Tapi mereka sudah merencanakan ini selama bertahun-tahun. Tapi jangan khawatir," Ohm meraih tangan Nanon di atas meja. "Kita punya waktu satu tahun untuk benar-benar mengenal satu sama lain sebagai pasangan."

"Mengenal? Kita sudah saling kenal sejak SMA!"

Ohm menggeleng. "Kita kenal sebagai sahabat dan teman klub. Kita belum kenal bagaimana rasanya bangun tidur di sebelahmu, bagaimana kebiasaanmu kalau sedang marah, atau apa yang kamu butuhkan saat kamu drop."

"Bagaimana kalau aku ternyata menyebalkan kalau sedang marah?" goda Nanon.

"Maka aku akan mempelajari cara menenangkannya," jawab Ohm, matanya tulus. "Aku sudah berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu. Dan itu termasuk saat kamu sedang menyebalkan."

Nanon merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. "Jadi... ini adalah tahun 'Ujian Hubungan Resmi' kita?"

"Tepat. Dan setelah ujian ini selesai, kita menikah, dan hidup bahagia selamanya," Ohm mengedipkan mata, membuat Nanon tertawa.


Ciuman di Bawah Langit Malam


Setelah makan malam selesai, Ohm mengajak Nanon berdiri di balkon rooftop yang hening, memandangi lampu-lampu kota. Pemandangan di bawah mereka tampak seperti hamparan bintang yang berjatuhan.

"Ini tempat yang sempurna," bisik Nanon, merapatkan jaketnya karena angin malam.

Ohm menoleh. Ia menyingkirkan anak rambut Nanon yang diterpa angin. "Aku senang kamu suka. Nanon, ada satu hal lagi yang ingin aku pastikan."

"Apa?"

"Aku sudah mendapatkan izin dari kedua keluarga kita untuk memegang tanganmu, memelukmu, dan menjagamu. Tapi aku ingin izin darimu." Ohm mencondongkan tubuhnya, suaranya sangat rendah. "Bolehkah aku menciummu lagi?"

Nanon menatap mata Ohm yang teduh di bawah cahaya rembulan. Permintaan ini, meskipun konyol karena mereka sudah berciuman tadi malam dan sudah resmi dijodohkan, terasa sangat menghormati dan tulus.

"Kamu sudah melakukannya tadi malam, Ohm," bisik Nanon, wajahnya merona.

"Tapi itu di tengah kepanikan, di bawah pohon, dan dalam status yang tidak jelas," Ohm membalas, senyumnya menyebar. "Aku ingin yang ini jelas, di tempat yang indah, dengan status yang sudah pasti. Sebagai ciuman pertama dari tunanganku."

Nanon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya, melingkarkannya di leher Ohm, dan menarik wajah Ohm mendekat.

Ohm mengerti isyarat itu. Ia tersenyum lega, lalu menangkup pipi Nanon dengan lembut. Di bawah langit malam yang luas dan bertabur bintang, dengan pemandangan kota sebagai saksi bisu, Ohm mencium Nanon.

Ciuman itu jauh lebih lembut dan lambat daripada ciuman yang penuh kejutan di taman perkemahan. Ada kehati-hatian, namun juga keyakinan yang kuat. Mereka membiarkan semua emosi rasa lega, cinta yang bersemi, dan takdir yang manis tercurah di sana.

Setelah beberapa saat, Ohm melepaskan ciumannya, tapi dahinya tetap menempel di dahi Nanon.

"Aku cinta kamu, Nanon," bisik Ohm.

"Aku juga cinta kamu, Ohm," balas Nanon, suaranya penuh haru.

Mereka berdiri di sana, berpelukan di bawah angin malam, menyaksikan kota yang ramai di bawah, namun merasa seolah merekalah satu-satunya yang ada di dunia ini.

Ohm: "Kencan pertama ini... lebih dari yang aku bayangkan."

Nanon: "Aku setuju. Tidak ada hantu, tidak ada panitia menakutkan, hanya ada kejujuran."

Ohm tersenyum. Ia menautkan jemarinya dengan jemari Nanon. "Ayo. Aku harus mengantarmu pulang. Karena besok, kita harus kembali ke realitas kampus dan menghadapi Pluem dan Nut yang pasti sudah siap dengan seribu pertanyaan."

Mereka meninggalkan restoran rooftop itu, meninggalkan semua ketidakpastian di atas sana. Turun ke jalanan kota, dengan satu tangan yang saling menggenggam erat, sebagai bukti nyata bahwa Jurit Malam memang sudah berakhir, dan kisah cinta mereka yang sudah ditakdirkan baru saja dimulai dengan sangat indah.




Jangan Lupa Like dan Komen

Rival Marriage(END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang