Udara malam masih terasa lembut saat Nanon berdiri di depan pagar rumahnya, tepat di bawah cahaya lampu teras yang temaram. Ohm masih berdiri beberapa langkah darinya, seolah belum ingin benar-benar pulang. Wajah mereka masih sama-sama dibalut kehangatan percakapan tadi di taman, masih ada sisa gemetar di dada mereka bukan karena dingin, tapi karena perasaan yang belum sempat sepenuhnya diungkapkan.
Nanon melangkah sedikit mendekat, menatap wajah Ohm yang kini begitu dekat, hanya sejengkal dari wajahnya. Ohm diam. Ia tidak bergerak, tidak menoleh ke mana pun, hanya menatap Nanon dalam-dalam, dengan mata yang begitu jujur dan teduh.
“Nanon…” bisiknya pelan.
Tapi sebelum Ohm bisa menyelesaikan kalimatnya, Nanon lebih dulu mendekat, dan dengan lembut… mencium bibir Ohm.
Ciuman itu tidak panjang. Hanya beberapa detik. Tapi waktu seolah berhenti. Semua suara malam menghilang. Tidak ada motor lewat, tidak ada jangkrik, tidak ada angin. Hanya degup jantung mereka berdua yang terasa begitu keras di dalam dada.
Saat Nanon menjauhkan diri sedikit, wajahnya memerah. Ia menunduk, merasa gugup.
“Maaf ya… aku..."kata nanon
Ohm menggenggam tangannya dan tersenyum pelan.
“Jangan minta maaf. Itu... ciuman paling manis yang pernah aku terima.”sambung ohm
Mereka saling menatap beberapa detik, sebelum akhirnya Ohm melangkah mundur ke mobilnya.
“Aku pulang dulu ya. Mimpi indah,” ucap Ohm.
Nanon mengangguk pelan. “Kamu juga. Hati-hati di jalan.”
Ohm pun melaju pergi, dan Nanon masih berdiri di tempat, mengusap bibirnya yang masih terasa hangat.
Namun yang tidak mereka tahu…
Dari balik jendela lantai dua rumah Tay, tepat di sisi ruang tengah yang menghadap ke teras, empat pasang mata sedang mengintip diam-diam.
“Wuih…,” desis Franks sambil membuka tirai sedikit lebih lebar.
“Ciuman tuh! Serius itu ciuman!” tambah Pluem dengan suara nyaris tertahan tawa.
New yang berdiri di samping mereka hanya bisa memegangi dada, separuh antara gemas dan deg-degan.
“Ya ampun… anakku,” gumam New. “Baru tadi sore ngomongin Ohm, malamnya udah...”
Tay yang paling belakang, menyilangkan tangan di dada, menahan senyum.
“Udah cukup,” ucapnya.
“Kasihan anak itu kalo tahu kita nontonin dari tadi.”kata Tay
Pluem langsung menarik tirai, tapi tidak bisa menyembunyikan senyum geli di wajahnya. Franks sudah tertawa kecil sambil memukul-mukul bahu Pluem. New menggeleng pelan, tapi matanya masih berbinar.
Beberapa Menit Kemudian Nanon Masuk Rumah
Begitu membuka pintu, Nanon sempat tertegun. Rumah terlihat sepi, lampu ruang tengah menyala lembut, tidak ada suara. Ia meletakkan tasnya di kursi dekat pintu dan bersiap naik ke kamar.
Tapi saat melangkah ke tangga...
“Gimana rasanya?” suara Franks terdengar dari arah ruang makan, membuat Nanon kaget bukan main.
“Astaga abang!” pekik Nanon. Ia menoleh dan melihat Pluem, Franks, New, dan Tay sudah duduk dengan ekspresi seperti menunggu berita besar.
“Anak muda… itu tadi ciuman beneran?” tanya Pluem sambil menopang dagu.
“Eh! Kalian semua… ngintip ya?” Nanon menutup wajahnya dengan kedua tangan, wajahnya sudah merah sampai ke telinga.
New tertawa pelan, lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri anak bungsunya. “Kita gak sengaja lihat kok, cuma... ya, jendelanya pas ke arah teras.”
“Bunda!” Nanon makin malu, hampir tidak sanggup menatap siapa pun.
Tay hanya tersenyum tipis, matanya menatap Nanon lembut. “Kamu udah besar, Non. Kita tahu perasaan itu wajar. Tapi ingat ya... perasaan besar itu juga butuh tanggung jawab yang besar.”
Nanon mengangguk pelan. “Iya Yah... Nanon ngerti kok. Maaf kalau tadi bikin malu…”
“Enggak,” jawab New, memeluk Nanon.
“Kami cuma... kaget aja. Tapi kalau kamu bahagia dan tahu apa yang kamu jalani, kami akan dukung.”kata New
Franks berdiri sambil mengangkat tangan, “Tapi tetep ya, next time bilang dulu kalau mau syuting drama romantis di teras rumah. Biar kami siapin popcorn.”
“ABANG!!!” jerit Nanon sambil melempar bantal ke arah Franks.
Semua pun tertawa. Malam itu, rumah kecil keluarga Tay dipenuhi suara kehangatan dan tawa. Dan Nanon tahu, betapa beruntungnya ia, punya cinta yang besar dari Ohm dan keluarga yang tak kalah besar cinta dan dukungannya.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Roman pour AdolescentsNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
