Setelah hari yang cukup padat dengan kegiatan sekolah dan belajar di kafe, Ohm pun mengajak Nanon untuk mampir ke rumahnya. Langit mulai menggelap, tapi malam terasa hangat dengan lampu-lampu jalan yang temaram, mengiringi perjalanan mereka berdua dengan motor.
“Ohm, yakin nih nggak ganggu keluarga kamu?” tanya Nanon sambil membetulkan jaketnya karena angin malam sedikit menusuk.
“Enggak lah. Justru mama sama papa seneng banget kalo kamu main. Phi Nut sama phi Jimmy juga kangen, katanya terakhir kamu dateng mereka ketawa terus,” jawab Ohm dengan senyum kecil di wajahnya.
Mereka pun tiba di rumah Ohm. Rumah itu hangat, dengan cahaya kuning keemasan dari dalam menyambut kedatangan mereka. Begitu pintu dibuka, suara riuh kecil langsung terdengar.
“Nanon!!!” teriak Jimmy, anak bungsu Mew dan Gulf, sambil lari menghampiri dan memeluk kaki Nanon erat-erat. Phi Nut pun menyusul dari arah dapur sambil membawa mainan.
“Wah, udah kayak diserbu penggemar,” celetuk Ohm sambil tertawa kecil.
“Hehehe, aku kangen juga sih sama mereka,” Nanon membelai kepala Jimmy dan Nut.
Di ruang tengah, Mew yang sedang duduk bersama Gulf langsung berdiri, menyambut hangat.
“Nanon, akhirnya mampir juga! Tadi Papa Gulf masak banyak lho, kamu pas banget,” ujar Mew.
“Iya, tante Mew, om Gulf, makasih ya,” ucap Nanon sopan.
Win yang sedang video call dengan Bright dari ruang sebelah menyadari kehadiran adiknya. Ia menghampiri sambil tersenyum.
“Wah, pasangan sejoli kita dateng juga. Eh, Phi Bright mau ngomong nih,” kata Win sambil menyodorkan ponsel.
“Hi Nanon, hi Ohm! Belajar keras ya buat ujian minggu depan, nanti aku traktir kalo kalian lulus ranking lima besar!” ujar Bright dari layar, sambil tertawa.
“Deal!” jawab Nanon antusias.
Tak lama, mereka semua makan malam bersama. Suasana penuh canda dan tawa. Nut yang masih kecil duduk di pangkuan Gulf, sementara Jimmy sibuk menyuapi Nanon dengan potongan buah kecil.
Setelah makan, Mew menyentuh bahu Ohm dengan senyum hangat.
“Kalo udah selesai makan, temenin Nanon belajar ya di ruang tamu atau taman belakang. Biar anak-anak juga bisa liat gimana belajar yang bener,” kata Mew.
“Iya, Pa,” jawab Ohm.
Nanon dan Ohm pun pindah ke taman belakang rumah. Mereka membawa buku dan beberapa lembar soal latihan. Lampu taman yang redup dan suara jangkrik menjadi latar malam yang tenang. Jimmy dan Nut duduk tidak jauh, menggambar dengan krayon.
“Lihat deh mereka,” kata Nanon sambil menatap dua adik kecil itu.
“Lucu banget, kayak nggak punya beban hidup.”kata nanon
“Iya,” kata Ohm sambil tertawa kecil. “Mereka jadi pengingat aku juga… buat terus semangat.”
Kemudian, Ohm menatap Nanon cukup lama. Wajahnya serius, tapi tenang.
“Nanon, makasih ya… udah terus ada buat aku, dari dulu sampai sekarang.”Kata ohm
Nanon mengerjapkan mata, terkejut dengan nada suara Ohm yang tiba-tiba berubah hangat.
“Kamu juga, Ohm. Aku ngerasa nyaman banget kalo bareng kamu. Kita belajar bareng, ketawa bareng… rasanya kayak rumah.”Kata nanon
Ohm tersenyum, lalu meraih tangan Nanon dan menggenggamnya.
“Semoga kita lulus bareng ya. Sama-sama ngejar impian, sama-sama terus ada…”Kata ohm
Nanon menatap Ohm, tersenyum dan mengangguk pelan. Tak ada kata lebih tepat, hanya saling percaya dan saling mendukung.
Dari balik jendela, Gulf memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil.
“Liat tuh, Ohm makin dewasa ya,” gumam Gulf pada Mew yang sedang membereskan piring.
“Ya, mungkin cinta bikin anak-anak ini tumbuh cepat,” jawab Mew sambil memeluk Gulf dari samping.
Malam pun terus berjalan, damai dan penuh kebersamaan. Tak ada konflik, hanya cinta yang tumbuh pelan-pelan dalam kehangatan keluarga yang saling mendukung.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
