Rayuan Terselubung dan Kecurigaan yang Tumbuh
Setelah penolakan dingin dari Ohm di ruang konferensi, Jane memang merasa malu, tetapi tidak patah semangat. Baginya, itu hanyalah tantangan. Ia melihat penekanan Ohm pada kata istri saya sebagai pertanda bahwa Ohm hanya berusaha keras mempertahankan citra pernikahannya yang dijodohkan. Jane yakin, jika ia bisa menunjukkan bahwa ia lebih bersemangat, lebih ceria, dan lebih bebas dari Nanon yang terikat pada perjanjian, ia mungkin bisa memenangkan hati sang Manajer tampan.
Jane mulai mengirimkan pesan-pesan singkat di luar jam kerja kepada Ohm, menggunakan alasan-alasan yang sangat tipis terkait pekerjaan.
[Chat Pribadi Jane - Kepada Ohm]
Jane:"Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu jam istirahat Anda. Saya hanya ingin memastikan, data ini sudah benar ya? Saya tidak ingin membuat kesalahan lagi. (Disertai emotikon senyum yang menggoda)."
Ohm:(Membalas singkat, selalu di Whatsapp Web kantor) "Data itu benar. Besok kita bahas di jam kerja. Selamat malam."
Jane:"Baik, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya. Anda benar-benar Manajer yang paling sigap di sini. Semoga mimpi indah, Pak! "
Ohm selalu merespons dengan profesional dan dingin, tetapi Jane tidak peduli. Baginya, mendapatkan respons dari Ohm sudah menjadi kemenangan kecil.
Namun, rayuan Jane semakin berani. Suatu pagi, Jane meletakkan sekantong croissant mahal dan latte di meja Prom, dengan catatan kecil: Untuk Manajer Ohm, energi pagi dari junior yang mengagumi etos kerja Anda.
Prom, yang sudah tahu betul loyalitas Ohm pada istrinya, hanya menggelengkan kepala. Saat Ohm datang, Prom segera memberikannya kepada staf lain.
"Maaf, Pak," kata Prom. "Saya sudah memberikan kopi itu ke Divisi Keuangan. Anda tahu, phi Nanon selalu membawakan Anda kopi sendiri."
Ohm hanya mengangguk, tanpa menunjukkan emosi. Ia menghargai Prom yang menjaga batasnya.
Nanon Menemukan Jejak
Meskipun Ohm menjaga batasnya dengan ketat, ia tidak selalu sehati-hati Nanon.
Suatu malam Minggu, Nanon dan Ohm sedang bersantai di sofa, menonton film. Nanon ingin memesan pizza, jadi ia meraih ponsel Ohm yang tergeletak di meja kopi sejak menikah, mereka tidak lagi memiliki rahasia dan bebas menggunakan ponsel satu sama lain.
Saat Nanon membuka aplikasi pesan, ia melihat badge notifikasi dari Whatsapp. Secara tidak sengaja, ia membuka chat terbaru yang tidak ada di grup. Itu adalah chat pribadi dari Jane.
Nanon melihat seluruh riwayat chat singkat Jane yang diawali dengan alasan pekerjaan, tetapi diakhiri dengan pujian pribadi dan emotikon yang jelas-jelas berniat menggoda. Jantung Nanon berdetak lebih cepat.
Nanon bukan tipe wanita yang langsung meledak marah. Ia membaca chat itu berulang kali, mencerna kata demi kata. Ia melihat respons Ohm: singkat, profesional, dan selalu mengalihkan topik. Ada rasa lega, karena ia tahu suaminya setia. Namun, ada rasa dingin yang menyelimutinya. Wanita ini melintasi batas.
Nanon mematikan ponsel Ohm dan meletakkannya kembali. Ia kembali ke sofa, bersandar di bahu Ohm yang sedang fokus pada film.
"Ohm..." panggil Nanon, suaranya lembut.
"Ya, Sayang?" Ohm menoleh, mencium kening Nanon.
"Apakah ada staf baru yang sangat... ambisius di kantormu?"
Ohm mengerti arah pertanyaan itu. Ia menarik Nanon lebih dekat. "Ada, Nan. Jane. Dia cantik, energik, dan sedikit terlalu antusias. Tapi dia hanya staf. Dia tidak berarti apa-apa."
"Aku tahu, Sayang," Nanon memejamkan mata. "Aku hanya ingin semuanya jelas. Aku ingin wanita itu mengerti, dengan jelas, bahwa kamu adalah milikku."
Nanon lalu mengambil ponselnya sendiri. Dengan keputusan yang dingin dan tenang, ia menyalin nomor Jane dari ponsel Ohm.
Pertemuan di Cafe Eksklusif
Keesokan harinya, saat jam makan siang, Jane sedang duduk sendirian di kafenya yang biasa, menikmati latte. Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
[Pesan dari Nomor Tidak Dikenal]
Nanon:"Saya Nanon. Istri dari Bapak Manajer Ohm. Saya ingin bertemu Anda sekarang, di Cafe Eksklusif] dekat kantor Anda. Saya tunggu 15 menit."
Jane terkejut. Tubuhnya menegang. Ia merasakan adrenalin dan ketakutan bercampur aduk. Istri Manajer Ohm? Jane segera merapikan diri dan berjalan cepat menuju lokasi yang disebutkan Nanon.
Lima belas menit kemudian, Jane memasuki kafe itu dan melihat Nanon duduk di meja sudut, terlihat sangat tenang, mengenakan gaun kerja yang elegan. Di jari manis Nanon, cincin kawinnya bersinar sangat jelas.
Jane mendekat dengan canggung. "Nyonya Nanon?"
"Silakan duduk, Jane," sapa Nanon, suaranya ramah namun tegas, seperti baja yang dilapisi beludru. "Terima kasih sudah datang. Mau pesan apa?"
Jane menggeleng. "Tidak, terima kasih, Nyonya."
Nanon meletakkan cangkirnya. "Baiklah. Mari kita bicara langsung, karena waktu saya terbatas. Saya hanya ingin memastikan semuanya jelas. Saya melihat *chat* Anda kepada suami saya."
Jane langsung merasa panas dan malu. "Nyonya, itu hanya masalah pekerjaan, saya janji"
"Tidak, Jane," Nanon memotongnya, matanya menatap Jane lurus-lurus. "Wanita yang beretika tidak akan mengirim pesan bernada genit di luar jam kerja kepada suami orang lain, meskipun itu berkedok pekerjaan."
"Saya tahu Anda melihat pernikahan kami sebagai perjodohan bisnis yang mudah dipatahkan. Anda melihat Ohm tampan dan sukses. Anda mungkin berpikir saya adalah istri yang pasif yang hanya mendapatkan dia karena koneksi," Nanon melanjutkan, nadanya kini lebih mendalam, penuh keyakinan.
"Tapi saya ingin Anda tahu satu hal: Ohm memilih saya. Dia memilih saya setelah dia tahu kami dijodohkan. Dia memilih saya saat kami hampir gila mengerjakan Tugas Akhir. Dia memilih saya saat dia bisa memilih siapa saja."
Nanon menarik napas. Ia lalu bercerita tentang Jurit Malam, tentang hilangnya dia, tentang lagu, dan tentang janji di tengah hutan. Ia tidak bercerita untuk pamer, tetapi untuk menegaskan fondasi hubungan mereka.
"Setiap kali Ohm melihat saya, dia tidak melihat seorang istri yang terikat perjanjian. Dia melihat Kompas-nya, yang menunjuk pulang. Anda mungkin bisa membelikannya kopi yang mahal, tapi Anda tidak bisa memberinya kenangan ketakutan yang kami bagi di tengah hutan," kata Nanon, suaranya melembut, tetapi pesannya sangat kuat.
"Saya sudah melihat respons chat suami saya kepada Anda. Dia sangat profesional dan menjaga batas. Saya tidak datang ke sini untuk marah. Saya datang untuk menghormati suami saya dan hubungan kami, dengan memastikan Anda memahami kenyataan: Perjodohan ini nyata, dan cintanya lebih nyata lagi."
Jane mendengarkan setiap kata Nanon. Ia melihat bukan lagi istri yang pasif, melainkan seorang wanita yang berani, cerdas, dan dicintai dengan tulus. Kisah Jurit Malam dan Kompas itu menghancurkan semua fantasi dangkalnya. Jane menyadari, ia bukan bersaing dengan Nanon, melainkan bersaing dengan takdir yang kuat.
Air mata Jane mulai menetes karena rasa malu dan menyesal. "Nyonya Nanon... saya minta maaf. Saya sangat menyesal. Saya tidak tahu cerita kalian sedalam itu. Saya hanya... terpesona dan berpikir itu hanya pernikahan formalitas."
"Saya harap Anda mengerti sekarang," kata Nanon, meraih tasnya. "Fokuslah pada karier Anda, Jane. Anda ambisius, gunakan ambisi itu untuk hal yang benar. Dan tinggalkan suami saya sendiri."
Nanon berdiri, memberikan senyum terakhir yang penuh kemenangan. "Selamat siang, Jane."
Nanon berjalan keluar dari kafe itu, meninggalkan Jane yang terduduk sendirian, penuh penyesalan. Jane tahu, ia telah bertemu dengan lawan yang tidak akan pernah bisa ia kalahkan. Mulai hari itu, ia berjanji pada dirinya sendiri: Ia akan menjaga jarak dan menghormati batasan Manajer Ohm dan Nyonya Nanon.
Jangan Lupa Like dan Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
