Detik-Detik Kelahiran Sang Kompas Kecil
Mobil Ohm melaju kencang menuju rumah sakit, diikuti oleh iring-iringan mobil panik dari seluruh keluarga. Di kursi penumpang, Nanon menggenggam tangan Ohm dengan sangat erat, napasnya tersengal menahan rasa sakit kontraksi.
"Ohm... sakit sekali," bisik Nanon, matanya terpejam.
"Aku tahu, Sayang. Tarik napas, buang. Aku di sini. Kita sudah hampir sampai," Ohm berbicara dengan suara tenang, meskipun keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia tidak menghentikan genggaman tangannya, seolah kekuatan fisiknya bisa mengurangi rasa sakit Nanon.
Begitu tiba di rumah sakit, tim medis segera menyambut mereka. Ohm menggendong Nanon, menolak bantuan kursi roda, dan membawanya langsung ke ruang bersalin. The Four Generals dan para kakak mereka sudah menunggu di ruang tunggu, penuh kecemasan.
Ohm tidak melepaskan Nanon. Ia bersikeras untuk mendampingi istrinya, dan setelah berganti pakaian steril, ia berada di sisi Nanon, memegang tangannya.
"Kamu harus fokus pada instruksi dokter, Nanon. Aku di sini, di sampingmu," bisik Ohm, menyentuh kening Nanon.
Proses persalinan terasa panjang dan menyakitkan. Nanon mengerahkan seluruh tenaganya, berjuang melewati rasa sakit yang luar biasa. Ia sering memejamkan mata dan berteriak, dan setiap kali itu terjadi, Ohm akan mendekatkan wajahnya.
"Lihat aku, Sayang. Lihat aku," pinta Ohm. "Ingat Jurit Malam. Kamu berani, kamu kuat. Fokus padaku. Aku adalah kompasmu."
Nanon membuka matanya, menatap wajah Ohm yang pucat namun penuh cinta. Kekuatan di mata Ohm memberinya energi.
"Aku... aku tidak akan menyerah, Ohm," bisik Nanon, lalu ia kembali berjuang.
Saat prosesnya semakin intens, rasa sakit membuat Nanon menjerit dan tanpa sengaja mencengkeram tangan Ohm sangat kuat hingga buku-buku jari Ohm memutih.
"Maafkan aku, Sayang," Nanon menangis.
"Jangan minta maaf. Cengkeram sekuat yang kamu mau. Rasa sakitmu ada padaku," Ohm meyakinkan, matanya tidak pernah lepas dari Nanon. Ia tahu, inilah bentuk posesifnya yang paling tulus ia ingin mengambil rasa sakit Nanon seutuhnya.
Ohm terus memberikan kata-kata penyemangat, mengusap dahi Nanon, dan mengingatkannya pada semua janji mereka: janji di rooftop, janji di skripsi, janji di rumah baru mereka.
Kelahiran Sang Kompas Kecil
Setelah perjuangan yang terasa seperti keabadian, suara tangisan nyaring memecah ketegangan di ruang bersalin.
"Selamat, bayinya perempuan!" seru sang dokter.
Ohm dan Nanon seketika terdiam. Ohm langsung melihat ke arah Nanon. Nanon sudah terengah, namun senyum kemenangan terukir di wajahnya. Air mata haru mengalir deras.
Ohm membungkuk, mencium bibir Nanon dengan penuh rasa syukur. "Kita berhasil, Sayang. Kamu berhasil. Aku sangat bangga padamu."
Tak lama kemudian, perawat membersihkan bayi mungil itu dan meletakkannya di dada Nanon. Nanon memeluk putri kecilnya yang kemerahan dan masih menangis.
"Lihat, Ohm," bisik Nanon, air mata mengalir. "Dia sangat cantik."
Ohm menatap wajah mungil putrinya, yang langsung berhenti menangis saat menyentuh kulit Nanon. Ohm merasakan emosi yang luar biasa. Rasa posesif dan takutnya seketika mencair, digantikan oleh cinta yang murni dan tanpa syarat.
"Dia sempurna, Sayang," kata Ohm, suaranya tercekat. Ia meraih tangan Nanon, lalu menyentuh kepala putri kecil mereka.
Ohm menghabiskan beberapa menit hanya menatap dua wanita terpenting dalam hidupnya, merasa bahwa seluruh dunia dan takdir mereka kini terangkum dalam ruangan ini.
Kebahagiaan di Ruang Tunggu
Setelah Nanon dan bayi mereka dipindahkan ke ruang pemulihan, Ohm keluar menemui keluarganya. Wajahnya yang tegang kini dipenuhi senyum.
Saat Ohm muncul, seluruh keluarga langsung menyerbu.
"Gimana, Ohm? Gimana Nanon?" tanya Mew dan Tay serempak.
Ohm mengangguk, air mata masih menggenang di matanya. "Bayinya perempuan. Sehat. Nanon juga baik-baik saja. Keduanya sangat kuat."
Teriakan kebahagiaan meledak di ruang tunggu. Gulf dan New langsung berpelukan sambil menangis haru.
"Aku akan jadi opa dari Kompas kecil!" seru New, bahagia.
Fiat, AJ, dan JJ menghampiri Ohm.
"Bro, kamu sudah jadi Ayah!" seru Fiat, menepuk bahu Ohm. "Kamu keren sekali! Nanon pasti bangga."
"Aku tidak sekeren Nanon," aku Ohm, tersenyum tulus. "Dia yang terkuat. Aku hanya memegang tangannya."
Ohm lalu bercerita singkat tentang perjuangan Nanon, membuat semua orang merasa bangga. Ia tidak ragu mengakui betapa takutnya ia, dan betapa kuat Nanon.
Janji Baru Tiga Kompas
Ketika Ohm kembali ke kamar rawat Nanon, ia mendapati Nanon sedang memeluk bayi mereka. Suasana di kamar itu sangat tenang.
Ohm mendekat, duduk di samping Nanon, dan meraih tangan Nanon.
"Bagaimana perasaanmu, Mama?" tanya Ohm lembut.
"Lelah, tapi bahagia. Lihat dia, Ohm. Dia adalah kombinasi sempurna dari kita berdua," kata Nanon, menatap putrinya.
"Ya. Dia adalah Kompas kecil kita," bisik Ohm.
Ohm mengeluarkan kalung Kompas perak yang dulu ia berikan saat tunangan. Ia meletakkannya di tangan Nanon.
"Aku posesif karena aku takut," kata Ohm, menatap Nanon. "Tapi sekarang, aku sudah punya tiga kompas. Kamu, Kompas perak ini, dan dia, Kompas kecil yang akan menuntun kita sepanjang hidup."
"Nama siapa yang akan kita berikan padanya?" tanya Nanon.
Ohm tersenyum. "Kita akan menamainya Jemina. Artinya janji kesetiaan. Karena dia lahir dari janji yang kita buat, dan dia akan menjadi pengingat kesetiaan kita."
Nanon setuju, mencintai nama itu. Ohm membungkuk, mencium dahi Nanon.
"Selamat datang di dunia, Jemina," bisik Ohm. "Dan Nanon, terima kasih sudah memberiku segalanya. Petualangan kita baru saja dimulai."
Mereka berpelukan, menyaksikan putri mereka tertidur pulas. Kisah cinta yang dimulai dari takdir, ketakutan, dan perjodohan, kini berlanjut menjadi warisan yang paling indah.
Jnagn Lupa Like dan Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Fiksi RemajaNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
