Matahari pagi bersinar lembut, hangat menyentuh pepohonan yang berjajar rapi di sekitar taman yang kini telah berubah menjadi surga kecil. Tenda putih dengan tirai melambai pelan tertiup angin, bunga mawar dan lilin tersusun cantik di sepanjang lorong, dan kursi tamu berjajar menanti kisah baru yang akan dimulai.
Nut berdiri di balik tirai putih, mengenakan jas putih dengan dasi kupu-kupu yang serasi. Di sebelahnya, Gulf membenarkan kerah jasnya sambil tersenyum bangga.
“Kamu siap, Nak?” tanya Gulf, suaranya tenang namun bergetar sedikit.
Nut mengangguk pelan. “Lebih dari siap. Aku rasa… Peach memang rumah yang selama ini aku cari.”
Mew yang mendengar itu, menepuk bahu Nut dengan lembut. “Daddy bangga sama kamu. Kamu tumbuh jadi pria yang tahu cara mencintai dengan tulus.”
Sementara itu di ruangan berbeda, Peach duduk di depan cermin dengan baju jas putih elegan, rambut lembut, dan riasan natural yang menonjolkan kecantikannya. Di belakangnya, New sedang membetulkan kerah tipisnya, Tay berdiri di samping dengan senyum ayah yang penuh haru.
“Kamu cantik sekali, Peach. Nut pasti nggak akan berkedip pas lihat kamu jalan ke altar nanti,” ucap New sambil menahan air mata.
Peach tersenyum malu. “Aku juga deg-degan banget, Tante.”
“Tenang,” sahut Tay, “Kamu tidak sendiri. Hari ini, seluruh keluarga ada di sini untuk kalian berdua.”
Tamu-tamu mulai berdatangan. Pluem, Franks, Win, Bright, Ohm, dan Nanon tampak sibuk menyambut di pintu masuk. Jimmy dan Gemini bertugas di area photo booth, memastikan semua tamu mendapat dokumentasi indah.
“Eh Nan, kamu udah liat kak Nut belum? Katanya dia udah di pelaminan siap-siap,” kata Ohm yang berdiri di sampingnya.
Nanon tersenyum sambil memegang daftar tamu. “Aku nggak mau lihat dulu. Biar surprise nanti pas Peach masuk.”
Ohm menoleh dan menatap Nanon penuh cinta. “Nanti kita juga begini ya…”
“Hah?” Nanon kaget, wajahnya memerah. “Ohm, fokus ke Nut dulu lah!”
Ohm tertawa kecil, lalu mencubit pelan pipi Nanon. “Oke, oke. Tapi tetap aku catat ya. Udah ngomong ‘ya’ tadi.”
Acara dimulai. Musik lembut dimainkan, dan MC mulai membacakan narasi pembuka. Semua tamu duduk dengan tenang, mata mereka menatap ke lorong panjang yang sudah siap dilintasi sang mempelai wanita.
Kemudian… musik berubah. Peach muncul dari balik tirai, didampingi oleh Tay di kanan dan New di kiri. Gaunnya melambai pelan tertiup angin, dan matanya langsung menatap Nut di ujung altar.
Nut menahan napas. Mulutnya tak sanggup berkata apa-apa, hanya tersenyum, dan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan ke Peach, seolah mengatakan: “Kamu adalah takdirku.”
Ketika Peach sampai di hadapannya, Nut menyambut tangan Peach, lalu menunduk mencium punggung tangannya.
“Terima kasih sudah mau menjalani hidup bersamaku,” bisik Nut lirih.
Peach menjawab dengan senyuman paling tulus. “Mulai hari ini, dan seterusnya.”
Prosesi berjalan lancar. Janji pernikahan dibacakan.
Nut:
“Di hadapan keluarga dan sahabat, aku berjanji akan mencintaimu, menjagamu, dan menua bersamamu. Bahkan saat dunia berubah, kamu akan tetap jadi rumahku.”
Peach:
“Di hadapan semua yang hadir, aku berjanji akan menjadi sahabatmu, pendampingmu, dan tempatmu pulang. Aku ingin hidup kita seperti hari ini penuh cahaya dan cinta.”
Semua mata berkaca-kaca, termasuk Pluem dan Franks yang berdiri sebagai saksi keluarga.
Saat cincin disematkan, Jimmy berbisik ke James, “Nanti kalau aku nikah, kamu jadi saksi ya.”
James nyengir. “Oke. Tapi syaratnya kamu harus siap dipeluk sama semua keluarga besar aku.”
Setelah resmi menjadi suami istri, para tamu bersorak, dan pasangan itu berciuman manis di bawah lengkungan bunga. Tepuk tangan dan pelukan hangat memenuhi udara.
Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama di bawah lampu gantung dan iringan musik akustik. Semua duduk melingkar, tertawa, bercengkrama, mengenang masa lalu dan merayakan masa depan.
Mew dan Gulf berdiri lalu mengangkat gelas.
“Hari ini adalah momen yang luar biasa. Kami bersyukur keluarga kita terus tumbuh, tidak hanya dengan darah, tapi juga dengan cinta.”
Tay dan New ikut berdiri.
“Selamat untuk Nut dan Peach. Semoga kehidupan rumah tangga kalian dipenuhi tawa dan pengertian.”
Bright menambahkan sambil melirik Win. “Dan jangan lupa, cinta itu bukan soal sempurna. Tapi soal memilih untuk tetap bersama setiap hari.”
Nanon menoleh ke Ohm. “Kamu mau ngomong juga?”
Ohm mengangkat gelasnya. “Gelasku kosong. Tapi hatiku penuh. Untuk Nut dan Peach, dan untuk keluarga ini tempat kita semua bertumbuh.”
Semua bersorak, tertawa, dan menikmati malam penuh cinta.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
