Di bawah sinar rembulan yang semakin tinggi, ciuman itu terasa sebagai penutup yang sempurna untuk malam yang penuh kejutan dan pengakuan. Ketika Ohm menarik diri, Nanon menyandarkan dahinya di dada Ohm, jantungnya masih berdebar kencang, namun kini bukan karena takut, melainkan karena bahagia.
"Kita harus masuk, Nan," bisik Ohm, suaranya sedikit serak, setelah beberapa saat menikmati keheningan yang nyaman itu. "Besok pagi kita harus beres-beres dan pulang. Kamu butuh tidur."
Nanon mendongak. "Aku nggak yakin bisa tidur nyenyak setelah ini."
Ohm tertawa pelan. "Aku juga. Tapi setidaknya kita bisa coba."
Mereka bangkit dari pohon dan berjalan pelan menuju tenda. Tenda mereka terletak agak terpisah dari tenda-tenda lain yang berdekatan. Sebelum masuk, mereka berdiri sebentar di depan ritsleting tenda.
"Ohm..." panggil Nanon, menahan lengan Ohm. "Makasih untuk hari ini. Untuk lagunya, untuk janjinya, dan untuk..." Ia menunjuk ke arah hutan dengan dagunya.
Ohm menyentuh pipi Nanon dengan punggung tangannya. "Makasih juga sudah berani jujur. Kalau kamu tidak tersesat, mungkin kita masih menjadi dua orang bodoh yang saling memendam perasaan."
"Mungkin," Nanon tersenyum. "Jadi, kita... apa sekarang?"
Ohm tersenyum penuh arti. "Kita? Kita adalah dua orang yang baru saja menemukan bahwa jurit malam ternyata adalah kencan pertama yang sangat intens. Kita adalah dua orang yang sudah berjanji tidak akan saling meninggalkan."
"Dan akan ambil risiko," timpal Nanon, mengulang jawaban Ohm di Pos 2.
"Tentu saja. Tapi, karena kita masih di tengah hutan dan besok harus kembali ke realitas kampus," Ohm melanjutkan, "bagaimana kalau kita resmi menjadikan ini awal yang serius setelah kita tiba di kampus besok? Agar tidak terburu-buru dan lebih jelas."
Nanon mengangguk setuju. "Aku suka itu. Janji, jangan lari saat di kampus?"
Ohm pura-pura terkejut. "Lari? Aku baru saja hampir gila mencarimu di hutan, kenapa aku harus lari?" Ia mencubit hidung Nanon pelan. "Tidur yang nyenyak. Mimpiin aku."
"Kamu juga," balas Nanon. "Sampai jumpa besok pagi."
Ohm tersenyum, mengangguk, lalu masuk ke tendanya sendiri, yang bersebelahan dengan tenda Nanon.
Nanon masuk ke tendanya. Suasana di dalam gelap, hanya cahaya rembulan yang samar masuk dari celah. Fiat dan AJ sudah tidur dengan posisi acak. Nanon berbaring di sleeping bag-nya, tapi matanya tidak bisa terpejam. Semua momen, dari duet manis hingga panik di hutan dan pengakuan di Pos 4, berputar di kepalanya. Ia tahu, hidupnya baru saja berubah.
Pagi dan Perjalanan Pulang
Pagi hari di perkemahan selalu terasa dingin dan berembun. Nanon bangun dan mendapati Ohm sudah rapi, sedang membantu JJ melipat tenda.
"Selamat pagi, Tuan Yang Berani Ambil Risiko," sapa Nanon saat ia keluar tenda.
Ohm melirik, senyumnya langsung mengembang. "Selamat pagi juga, Tuan Yang Mulai Berani Jujur."
Sapaan ringan mereka terasa berbeda, ada keintiman baru di dalamnya yang hanya mereka berdua pahami. Mereka sarapan seadanya dengan diselingi ejekan dari Fiat dan AJ yang mengaku "nyenyak banget tanpa gangguan drama romantis semalam."
Setelah penutupan resmi dari panitia, semua peserta mulai menaiki bus yang akan membawa mereka kembali ke kampus. Nanon, Ohm, Fiat, AJ, dan JJ memilih kursi paling belakang.
Saat bus mulai berjalan, suasana masih ramai oleh peserta lain yang bercerita tentang kehororan Jurit Malam mereka. Namun, di kursi belakang, Ohm dan Nanon lebih banyak diam, membiarkan Fiat dan AJ menguasai percakapan.
Nanon bersandar ke jendela, melihat pemandangan hutan pinus yang perlahan menjauh. Ohm duduk tepat di sebelahnya.
"Kamu ingat nggak, waktu kita pertama kali kenalan?" Ohm tiba-tiba berbisik, memiringkan badannya mendekati Nanon.
Nanon tersenyum. "Waktu kamu sok sibuk main gitar di cafetaria sekolah , padahal nggak ada yang dengar."
Ohm tertawa kecil. "Aku nggak sok sibuk, aku nervous mau nyapa kamu. Aku lihat kamu lagi baca buku di sudut. Aku tahu itu kesempatan terakhirku sebelum semester berakhir."
"Padahal aku sering banget ke sana, kenapa baru nyapa pas mau liburan semester?" Nanon membalas, suaranya juga berbisik.
"Aku butuh waktu setahun untuk mengumpulkan keberanian, Nanon," Ohm mengaku, ada kejujuran yang manis. "Aku takut ditolak, atau kamu menganggapku mengganggu."
"Aduh, Ohm..." Nanon menyentuh lengan Ohm. "Kalau kamu tahu, setiap kali kita ketemu, aku selalu mikir: kapan dia bakal menyadari aku di sini?"
"Aku sudah sadar kamu di sana, dari hari pertama," Ohm memotong. "Hanya saja... aku belum yakin kamu sadar aku di sini. Sampai kemarin malam."
Nanon menatap Ohm. "Aku senang aku tersesat di hutan."
Ohm menggeleng. "Jangan pernah bilang itu lagi. Aku tidak akan pernah ingin kamu hilang lagi." Ohm meraih tangan Nanon dari pangkuan, menggenggamnya dan menyembunyikannya di antara paha mereka agar tidak terlihat oleh yang lain.
"Kamu mau kita mulai dari mana?" tanya Nanon.
"Mulai dari mana?"
"Iya, setelah sampai kampus nanti. Kamu mau kita ngedate? Mau kita..." Nanon berhenti sejenak, wajahnya merona.
"Tentu saja aku mau ngedate," jawab Ohm, suaranya hangat. "Tapi aku ingin lebih dari itu. Aku mau ini jelas, Nanon. Aku mau orang tahu, kamu milikku. Dan aku milikmu."
Nanon merasakan gejolak bahagia di dadanya. "Aku juga mau itu, Ohm. Aku lelah dengan kode-kodean dan pura-pura."
"Bagus," kata Ohm. Ia memajukan kepalanya sedikit, mendekati telinga Nanon. "Aku akan menjemputmu besok malam, di depan asrama. Kita makan malam, terus aku akan minta izin untuk menggandeng tanganmu setiap kali kita jalan di kampus."
Nanon tertawa, tawa kecil yang hanya didengar Ohm. "Aku izinkan, dengan syarat kamu bawakan aku kopi paling enak."
"Deal," jawab Ohm mantap. "Aku akan jadi driver pribadimu, gitaris pribadi, dan... seseorang yang akan memegang tanganmu di saat kamu ketakutan."
Mereka terdiam, menikmati kehangatan genggaman tangan di bawah selimut bisu yang tak terlihat. Jalanan mulai ramai. Pohon-pohon besar perlahan berganti menjadi rumah-rumah dan bangunan. Kota kembali menyambut mereka.
Beberapa jam kemudian, bus besar itu memasuki gerbang kampus. Suasana langsung berubah riuh. Semua buru-buru mengambil tas, saling mengucapkan selamat tinggal dengan janji akan bertemu lagi di kelas.
Saat Ohm, Nanon, dan yang lainnya turun dari bus, matahari sudah tinggi. Kampus terlihat familier, namun kini terasa berbeda bagi Nanon. Setiap sudut yang ia lewati bersama Ohm terasa punya makna baru.
Fiat menepuk bahu Nanon. "Oke, bro, sampai ketemu di kantin besok! Aku mau tidur seharian!"
"Aku juga!" timpal AJ dan JJ.
Ohm dan Nanon hanya mengangguk, lalu berpisah dari teman-temannya. Mereka berjalan bersama menuju area asrama.
"Sampai di sini, Tuan," kata Nanon sambil berhenti di depan gerbang asramanya.
Ohm juga berhenti. Ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nanon. Detik ini terasa seperti batasan yang mereka sepakati.
"Sampai di sini," Ohm mengulang. Ia memegang kedua bahu Nanon lagi. "Tapi ini hanya jeda beberapa jam. Ingat, aku jemput kamu besok malam."
"Aku akan ingat. Jangan terlambat."
Nanon melangkah mundur, tersenyum lebar. Ohm membalas senyum itu, senyum yang menunjukkan betapa lega dan bahagianya ia. Ia berdiri di sana, mengawasi Nanon hingga Nanon menghilang di balik pintu asrama.
Jurit Malam telah selesai. Perkemahan telah usai. Tapi bagi Ohm dan Nanon, babak baru kisah mereka baru saja dimulai.
Jangan Lupa Like dan Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Ficção AdolescenteNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
