Hari-Hari Pertama di Sarang Cinta
Setelah percakapan telepon yang penuh godaan dan janji untuk menghabiskan hari hanya berdua, Ohm dan Nanon benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia luar. Mereka tidak lagi berada di ruang tamu, melainkan kembali ke kamar utama, menjadikan ranjang besar yang tertabur kelopak bunga itu sebagai pusat dunia mereka.
Hari itu berlalu dalam kehangatan yang intim. Mereka tidak hanya berbagi sentuhan, tetapi juga berbagi rahasia kecil yang tersisa kebiasaan tidur aneh Nanon, atau cara Ohm merajuk jika kopi paginya kurang pekat. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan berpelukan di bawah selimut, diselingi tawa dan bisikan janji.
"Aku merasa seperti kita sedang diasingkan di pulau terpencil," bisik Nanon suatu sore, menyandarkan dagunya di dada Ohm.
Ohm membelai lembut rambut Nanon. "Pulau terpencil yang sangat aku sukai. Di sini, aku tidak perlu pakai cufflink atau khawatir tentang deadline. Aku hanya perlu mencintaimu."
"Dan aku tidak perlu khawatir ada panitia yang melompat dari semak-semak," timpal Nanon, tertawa kecil.
Ohm mencium puncak kepala Nanon. "Selamanya aman bersamaku, Sayang. Itu janji yang tidak akan pernah kedaluwarsa."
Transisi ke Kenyataan
Setelah tiga hari 'diasingkan', Ohm dan Nanon akhirnya harus menghadapi kenyataan: mereka harus memulai karier baru mereka minggu depan.
Pada hari Minggu, mereka memutuskan untuk berkeliling kota, berbelanja kebutuhan rumah tangga, dan menikmati kencan santai. Namun, ke mana pun mereka pergi, cincin kawin mereka menjadi pusat perhatian.
Di sebuah kafe kecil, saat mereka berbagi dessert, Nanon menatap cincin di jarinya.
"Rasanya aneh," ujar Nanon. "Dulu, aku hanya takut kamu tahu perasaanku. Sekarang, seluruh dunia tahu kita milik satu sama lain."
Ohm meraih tangan Nanon, memutar-mutar cincin itu dengan ibu jarinya. "Itu bagus. Biar semua orang tahu. Termasuk Chimon."
Nanon mendongak. "Kamu masih memikirkan Chimon?"
Ohm mengangguk jujur. "Bukan karena aku cemburu. Tapi aku tahu dia terluka. Aku menghargai perasaannya. Tapi aku juga harus menghargai hubungan kita. Cincin ini adalah batasan, Sayang. Dan aku tidak akan pernah membiarkan batasan itu kabur."
Nanon tersenyum, lega dengan kejujuran Ohm. "Aku tahu. Tapi aku akan selalu bertanya, bagaimana kalau kita tidak dijodohkan? Apakah kita akan punya keberanian untuk sampai ke titik ini?"
Ohm mencondongkan tubuhnya ke meja, matanya menatap Nanon lekat-lekat. "Kalau kita tidak dijodohkan, aku akan membuat janji di tengah Jurit Malam. Aku akan mencarimu di mana pun kamu hilang, dan setelah aku menemukanmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Perjodohan itu hanya memastikan, tapi perasaan kitalah yang memimpin."
Nanon terdiam sejenak, terharu oleh ketulusan Ohm. "Aku memilih jawabanmu yang kedua."
Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan membayangkan rencana masa depan: liburan, dekorasi kamar kerja, dan bahkan lelucon tentang bagaimana reaksi Tay dan Mew jika mereka menunda untuk punya anak.
Manajer dan Inovator
Senin pagi tiba, membawa realitas baru. Nanon dan Ohm bersiap untuk hari pertama mereka sebagai profesional. Suasana di rumah terasa penuh semangat.
Nanon berdiri di depan cermin, merapikan blazernya. Ia terlihat profesional, tetapi matanya memancarkan rasa gugup.
Ohm menghampirinya dari belakang, memeluknya. "Kamu terlihat sangat cantik dan cerdas, Istriku. Perusahaan Ayahmu sangat beruntung memilikimu."
"Kamu juga, Suamiku," balas Nanon, memutar tubuhnya untuk menghadapi Ohm. "Manajer termuda di perusahaan Ayahmu! Dunia harus bersiap."
Mereka berbagi ciuman singkat dan penuh semangat ciuman perpisahan yang terasa berbeda, tidak lagi menuju kampus, tetapi menuju kantor.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Ohm tenggelam dalam dunia manajemen, rapat, dan strategi. Nanon, di sisi lain, menikmati perannya di Departemen Inovasi Material, di mana ia bisa menerapkan semua ilmu penelitian Tugas Akhir mereka.
Meskipun jadwal mereka padat, mereka selalu memastikan untuk bertemu saat makan siang dan selalu pulang bersama.
Suatu malam, Ohm tiba di rumah sangat larut. Ia masuk ke kamar dan mendapati Nanon sudah tertidur pulas, dikelilingi buku-buku catatan dan laptop yang masih menyala di meja.
Ohm tersenyum. Ia mematikan lampu meja, menutup laptop Nanon, lalu mengangkat Nanon dengan hati-hati ke tempat tidur. Ia melepaskan pakaian kerjanya, berbaring di samping Nanon, dan memeluk Nanon erat.
Nanon bergumam dalam tidurnya, "Ohm... jangan tinggalkan aku..."
Ohm mencium dahi Nanon. "Aku di sini, Sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Rutinitas baru mereka menjadi irama yang manis. Mereka adalah tim yang tangguh di kantor masing-masing, tetapi di rumah, mereka adalah pasangan yang penuh kasih. Cincin kawin mereka menjadi simbol yang kuat: mereka bisa menghadapi tekanan pekerjaan dan tuntutan keluarga karena mereka tahu, di ujung hari, mereka akan selalu kembali ke tempat yang aman, yaitu satu sama lain.
Momen Tak Terlupakan: Ruangan Khusus
Pada hari Sabtu, Ohm memutuskan untuk memberikan Nanon kejutan.
"Tutup matamu," perintah Ohm, menuntun Nanon menaiki tangga.
Ohm membuka sebuah pintu, lalu melepaskan tangan Nanon.
"Buka."
Nanon membuka matanya. Ia terkejut. Ruangan itu telah diubah menjadi ruangan khusus mereka. Di satu sudut, ada meja besar dengan dua set monitor, persis seperti yang mereka gunakan saat mengerjakan Tugas Akhir, namun kini dilengkapi kursi ergonomis. Di sudut lain, ada dinding yang diisi rak buku tinggi, dengan gitar Ohm tergantung di tengahnya.
"Ohm... ini..." Nanon tidak bisa berkata-kata.
"Ini adalah markas kita, Sayang," Ohm tersenyum, memeluk Nanon dari belakang. "Aku tahu kita akan sering bekerja dari rumah, dan aku ingin kita punya ruang di mana kita bisa menjadi diri kita, berdua, tanpa gangguan. Ruang di mana kita bisa mengerjakan proyek, atau aku bisa menyanyikan lagu untukmu tanpa harus memikirkan tamu atau rapat."
Nanon berbalik, memeluk Ohm erat. "Ini hadiah terbaik setelah kompas."
"Belum selesai," Ohm berbisik. "Lihat di dinding."
Di dinding, terpampang bingkai foto besar. Itu adalah foto mereka berdua di altar pernikahan, saat mereka saling bertukar cincin, disandingkan dengan foto selfie buram mereka saat di tengah hutan, di malam Jurit Malam.
"Ini adalah kompas visual kita," kata Ohm, suaranya tulus. "Setiap kali kita merasa hilang atau lelah, kita lihat dua foto ini. Satu foto mengingatkan kita dari mana kita berasal, dan yang satu lagi mengingatkan kita ke mana kita akan pergi."
Nanon meneteskan air mata. "Aku mencintaimu, Ohm. Kamu benar-benar memikirkan segalanya."
Ohm mencium Nanon, ciuman yang menjanjikan masa depan yang penuh keindahan. Mereka berdua tahu, kisah mereka adalah anomali, perpaduan sempurna antara takdir yang diatur dan cinta yang dipilih. Dan di rumah baru mereka, di ruang kerja yang baru, mereka siap menulis sisa kisah mereka, selamanya aman dalam pelukan satu sama lain.
Jangn Lupa Like dan Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
