Sunyi di UKS belum juga pergi.
Cahaya mentari masuk perlahan dari sela-sela tirai, menerpa wajah Nanon yang kini duduk di sisi tempat tidur, menyimpan kembali perban dan salep ke kotak P3K. Ia tidak banyak bicara, hanya fokus menyusun kembali isi kotak itu.
Ohm menatapnya dalam diam. Pandangannya tak pernah lepas. Bukan karena luka di tangannya, bukan karena rasa sakit yang baru saja ditangani... tapi karena Nanon di depannya itu yang dengan tenang datang di tengah kekacauan, dan memilih tinggal.
“Non...” bisik Ohm, pelan.
Nanon menoleh. “Hm?”
Namun belum sempat Nanon berkata lebih, Ohm tiba-tiba memeluknya erat. Lengan Ohm melingkar di punggungnya, kuat, penuh makna, seolah memeluk satu-satunya hal yang membuat hidupnya terasa utuh.
Nanon terkejut sejenak, namun tak berusaha melepaskan. Ia hanya terdiam dalam pelukan itu, bisa merasakan napas Ohm di dekat telinganya berat, gelisah, dan... penuh rasa.
“Aku takut kehilangan kamu,” kata Ohm pelan.
Nanon mengerutkan kening. “Kenapa ngomong gitu?”
“Karena tadi aku ngerasa... kalau kamu gak datang, mungkin aku akan benar-benar hilang kendali,” ucap Ohm. Ia menarik napas dalam, lalu menambahkan,
“Kamu jadi penyeimbang buat aku, Non. Kamu bikin aku ngerasa gak sendirian.”saut ohm
Pelukan itu bertahan beberapa detik lagi, sebelum Ohm perlahan melepaskan diri, menatap wajah Nanon dari jarak yang sangat dekat. Mata mereka saling menatap, lama... hingga akhirnya Ohm mendekatkan wajahnya.
Dan saat jarak itu habis…
bibir Ohm menyentuh bibir Nanon.
Lembut.
Hangat.
Lama.
Ciuman itu bukan sekadar sentuhan, tapi seolah sebuah pengakuan bahwa mereka saling butuh, saling merasa, saling memilih. Tak ada kata, tak ada suara. Hanya degup jantung mereka yang saling berpaut dalam diam.
Bibir Ohm bergerak perlahan, memadu bibir Nanon dengan penuh perasaan. Nanon membalas dengan ragu di awal, tapi kemudian membiarkan dirinya larut.
Sampai akhirnya mereka saling menarik diri.
Nanon menunduk, wajahnya memerah. Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari.
“Ohm…” bisiknya pelan.
Ohm menggenggam tangannya. “Maaf kalau itu terlalu tiba-tiba. Tapi aku udah gak bisa tahan. Aku pengin kamu tahu… betapa berartinya kamu buat aku.”
Nanon menatapnya lagi. Matanya bening, penuh perasaan.
“Gak perlu minta maaf. Aku cuma… gak nyangka kamu segitu seriusnya.”kata nanon dengan lembut
“Aku gak main-main,” kata Ohm pelan tapi pasti.
“Dan aku gak akan pernah main-main soal kamu.”saut ohm
Sunyi kembali menyelimuti ruangan. Tapi kali ini bukan sunyi yang canggung, melainkan sunyi yang nyaman seperti dua hati yang akhirnya selaras dalam irama yang sama.
Beberapa Menit Kemudian Menuju Kelas
Setelah merapikan diri, mereka keluar dari UKS. Tak banyak kata yang diucapkan. Nanon hanya menunduk sedikit, masih bisa merasakan sisa hangat ciuman tadi di bibirnya. Ohm berjalan di sebelahnya, menggenggam tangan Nanon sebentar sebelum melepasnya saat hampir mendekati koridor ramai.
“Ohm,” kata Nanon lirih.
“Hm?”ucap ohm
“Kalau nanti semua orang tahu… kita ini… kita...”tanya nanon
“Kamu takut?” Ohm menatapnya.
Nanon mengangguk kecil.
Ohm tersenyum, hangat. “Selama kamu genggam tanganku, aku gak takut.”
Mereka pun melangkah ke kelas masing-masing.
Fiat yang melihat Nanon dari jauh langsung melambaikan tangan dari pintu kelas, lalu mendekat dengan wajah penuh rasa penasaran. “Waduh, lama banget di UKS. Jangan-jangan…”
Nanon cepat menyikut lengan Fiat. “Jangan mulai!”
Fiat tertawa, tapi langsung bisik, “Kamu senyum-senyum sendiri, padahal luka bukan di kamu.”
Nanon menoleh. Di kejauhan, Ohm juga menatapnya, lalu tersenyum singkat sebelum masuk ke kelasnya sendiri.
Fiat menggeleng. “Oke deh. Fix. Cinta makin dalam.”
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
TeenfikceNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
