Setelah motor Ohm menghilang di tikungan kecil, Nanon masih berdiri di balik pintu, wajahnya panas karena malu, namun ada senyum yang tak bisa ia tahan. Malam itu... sempurna. Ia tahu, hatinya mulai terlalu dalam.
Sementara itu…
Di Rumah Ohm
Ohm baru saja memarkir mobilnya di depan rumah. Ia membuka gerbang pelan, melangkah masuk dengan tubuh yang masih dipenuhi rasa hangat. Langkahnya ringan, seperti tak menginjak tanah. Ia masih memikirkan momen singkat tadi di depan rumah Nanon ciuman pertama mereka.
Begitu membuka pintu rumah, suara tawa kecil terdengar dari ruang tengah.
“Oh, sudah pulang?” sapa Gulf dari dapur, masih membersihkan sisa makan malam.
Win sedang selonjoran di sofa, memainkan game di ponsel, tapi langsung menoleh. “Wah, tampangnya beda nih. Kayaknya ada sesuatu yang manis terjadi malam ini.”
Mew muncul dari balik pintu kamar, menyilangkan tangan sambil menaikkan alis. “Gimana dinner-nya? Makanannya enak atau suasananya yang bikin kenyang?”
Ohm hanya tertawa kecil, melepas jaketnya dan meletakkannya di sandaran kursi.
“Dua-duanya,” jawabnya sambil duduk sebentar, lalu berdiri lagi. “Aku ke kamar dulu, ya.”
Gulf hanya mengangguk, senyumnya tak hilang. Ia tahu, anaknya sedang menyimpan sesuatu yang besar malam ini.
Kamar Ohm Tengah Malam
Begitu pintu kamar tertutup, Ohm menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu gantung kecil.
Tapi yang ia lihat bukanlah langit-langit… melainkan wajah Nanon.
Tatapan itu.
Langkah pelan mendekat.
Ciuman hangat yang begitu singkat tapi membekas seperti cap api di dadanya.
“Oh Tuhan…” gumamnya sambil menutup mata. Ia tersenyum kecil, membalik badan, memeluk bantal.
Matanya terbuka lagi, menatap dinding kamar yang dulu kosong… tapi malam ini terasa penuh.
“Oh iya…” bisiknya pelan, bangkit dari tempat tidur dan membuka laci meja kecil di sebelah kasur.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan bingkai foto kosong, yang selama ini belum sempat terisi.
“Kayaknya ini tempat yang tepat buat naro foto pertama kita nanti.”
Lalu, ia mengambil post-it kecil dan menuliskan dengan spidol hitam:
“Tempat ini buat kamu — Nanon.”
Ditempelkannya catatan kecil itu ke dinding, tepat di atas bingkai kosong. Ia tahu, hari-hari berikutnya akan berubah.
Keesokan Paginya – Di Sekolah
Langit mendung menggantung tipis di atas sekolah. Tapi di ruang kelas XII-A, suasana tidak sekelam langitnya. Para siswa sudah duduk, beberapa mengobrol, yang lain masih menguap karena kurang tidur.
Di barisan belakang, Nanon dan Fiat duduk berdampingan seperti biasa. Fiat membuka bekalnya dua roti isi dan satu kotak susu cokelat.
“Lu kayaknya glowing deh, Non,” kata Fiat sambil mengunyah.
“Malam mingguan sama Pangeran Ohm ya semalam?”saut fiat
Nanon hanya menyeringai, mencoba menahan senyum. “Ah lu lebay.”kata nanon
“Ngaku aja. Pasti ada yang spesial kan?” bisik Fiat sambil menyenggol pelan lengan Nanon.
Nanon menggigit bibirnya, lalu menoleh cepat ke Fiat. “Cium pertama,” bisiknya cepat.
Fiat terdiam, lalu… “APA?!”kata Fiat dengan kaget
“Woy jangan kenceng!” bisik Nanon panik sambil menutupi mulut Fiat.
Fiat menahan tawa sampai badannya gemetar. “Gila sih! Akhirnya juga tuh bibir kerja!”
Belum sempat mereka melanjutkan godaan, pintu kelas terbuka. Guru wali kelas mereka masuk, membawa map tebal dan wajah serius.
“Selamat pagi, semuanya.”kata guru
“Pagi, Bu…” jawab murid-murid.
Ibu guru itu meletakkan map di mejanya, lalu berdiri di depan papan tulis.
“Saya tahu beberapa dari kalian sudah bisa menebak isi pengumuman hari ini. Jadi, saya akan langsung saja.”kata guru
Semua langsung fokus. Tak ada lagi suara. Bahkan Fiat berhenti mengunyah rotinya.
“Ujian kelulusan kalian akan dilaksanakan minggu depan.”
Beberapa anak mengeluh pelan, beberapa langsung panik membuka buku catatan.
“Tidak perlu panik. Materi yang diujikan sudah kalian pelajari semua. Tapi ingat, nilai kalian di ujian akhir ini menentukan langkah kalian berikutnya. Kampus, beasiswa, bahkan pekerjaan.”kata gury
Nanon menatap papan tulis dengan mata serius. Di sampingnya, Fiat berbisik,
“Kayaknya malam minggu kita berikutnya bakal diisi sama kopi dan contekan ya.”
Nanon terkekeh pelan. “Iya. Tapi semoga gak kehilangan momen indah juga…”
Fiat melirik temannya. “Masih keinget semalam, ya?”
Nanon hanya diam. Tapi dari matanya… jelas sekali: bayangan semalam itu belum pergi. Bahkan mungkin takkan pernah.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Fiksi RemajaNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
