Matahari pagi mulai menyapa lembut dari balik pegunungan. Cahaya keemasan menembus sela-sela pepohonan, menyinari tenda-tenda yang masih basah oleh embun. Udara pagi terasa segar, sedikit dingin, membuat siapa pun enggan keluar dari kantung tidur.
Namun suara burung dan hembusan angin yang menerpa dedaunan membuat Nanon perlahan membuka mata. Ia menguap kecil, lalu duduk sambil merapikan rambut yang sedikit berantakan.
"Pagi yang dingin banget..." gumamnya pelan sambil menggosok kedua tangan.
Tak lama, dari arah tenda sebelah, terdengar suara seseorang menguap keras. Fiat keluar dengan rambut acak-acakan dan wajah masih setengah sadar.
"Duh, siapa yang bilang udara pegunungan itu segar? Ini dingin banget, Non," keluhnya sambil menggigil.
Nanon terkikik. "Makanya, semalam jangan tidur cuma pakai kaus tipis. Kan udah aku bilang bawa jaket."
Fiat menjulurkan lidah. "Ya ampun, aku pikir udaranya bakal biasa aja, bukan kayak freezer alami."
Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul Ohm sambil membawa dua gelas cokelat hangat. "Nah, biar nggak beku, nih. Aku bikin di dapur umum bareng AJ."
Nanon menerima gelas itu dengan senyum lebar. "Wah, makasih, Ohm. Pas banget, tanganku udah kayak es batu."
Ohm duduk di sampingnya, jarak mereka begitu dekat. Begitu Nanon hendak menyeruput cokelatnya, Ohm dengan iseng menyentuh ujung hidung Nanon.
"Dingin banget. Nih, biar hangat," ucapnya sambil mendekat dan tanpa sadar memeluk Nanon sebentar.
Nanon terkejut. "O-Ohm! Kamu ngapain sih?" katanya dengan pipi yang langsung memerah.
Ohm terkekeh kecil, suaranya pelan tapi hangat. "Hehe, maaf. Tapi kamu keliatan kedinginan banget, aku refleks aja."
Fiat yang baru selesai minum langsung berkomentar, "Waduh, pagi-pagi udah ada drama romantis. Aku jadi pengen peluk selimut aja deh."
Nanon menepuk bahu Ohm pelan. "Dasar, bikin deg-degan aja."
Ohm menatapnya lembut. "Kalau deg-degan karena aku, nggak apa-apa kan?"
Nanon menunduk, pura-pura sibuk meneguk cokelatnya. "Hush... nanti kedengeran orang."
Tak lama kemudian, terdengar suara panitia melalui pengeras suara.
"Selamat pagi semua peserta! Silakan berkumpul di lapangan untuk menerima informasi kegiatan hari ini!"
Mereka bertiga langsung berdiri, disusul AJ dan JJ yang baru keluar dari tenda cowok sambil menguap lebar.
Di lapangan, semua peserta sudah berbaris rapi. Panitia menjelaskan bahwa pagi ini akan diadakan kegiatan gotong royong membersihkan area sekitar perkemahan termasuk jalur menuju sungai kecil di bawah lereng.
"Setelah itu, kalian bisa sarapan di dapur umum. Harap kerja sama dengan kelompok masing-masing, ya," jelas panitia.
Usai pengarahan, mereka kembali ke tenda untuk bersiap. Fiat dan Nanon membuka peralatan makan, menyiapkan sarapan roti isi telur dan sosis yang dimasak di wajan portable.
AJ mencium aroma sedap itu dari jauh. "Woi, baunya bikin lapar banget!"
Fiat tertawa. "Sabar, ini juga buat kamu kok. Tapi bantuin dulu Ohm ambil air ke dapur umum."
Setelah sarapan bersama, mereka duduk melingkar di depan tenda sambil bercanda.
JJ bersandar pada tasnya. "Kayak liburan ya, bukan kegiatan kampus."
Fiat menjawab sambil mengunyah roti. "Ya, anggap aja ini liburan yang dibayar tugas."
Nanon menimpali, "Asal jangan sampai kita disuruh lari pagi ke hutan, udah cukup pasang tenda aja."
Semua tertawa, sementara Ohm hanya tersenyum, matanya sesekali melirik Nanon yang tampak ceria.
Menjelang pukul sembilan, panitia kembali memanggil.
"Oke, sekarang waktunya gotong royong! Bawa alat kebersihan masing-masing, kita bersihkan area sekitar sungai."
Mereka segera bergerak. Jalan menuju sungai cukup curam, tapi udara segar membuat semuanya terasa menyenangkan.
Ohm berjalan di samping Nanon yang membawa keranjang kecil berisi kantong sampah.
"Kamu hati-hati ya, jalannya licin," kata Ohm.
"Iya, aku hati-hati kok," jawab Nanon sambil menatap ke bawah.
Namun saat ia melangkah, batu kecil di bawah kakinya bergeser dan hampir membuatnya terpeleset. Ohm dengan cepat menangkap lengannya.
"Eh! Lihat, kan? Aku bilang apa," ujar Ohm sambil menahan tubuhnya agar Nanon tak jatuh.
Nanon mendongak, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Ohm.
"Maaf... aku nggak sengaja," bisiknya.
Ohm tersenyum lembut, masih memegang tangannya. "Nggak apa-apa. Yang penting kamu nggak luka."
Beberapa detik hening berlalu sebelum mereka sama-sama tersenyum malu dan melanjutkan bersih-bersih sambil bercanda ringan.
"Kalau tiap gotong royong begini, aku nggak keberatan," ucap Ohm tiba-tiba.
Nanon menatapnya. "Kenapa?"
"Soalnya ada kamu di sebelah aku."
Nanon tertawa kecil, mencoba menutupi wajahnya yang kembali memerah. "Aduh, kamu tuh, bisa aja."
Selesai gotong royong, matahari mulai meninggi. Semua peserta kembali ke area perkemahan dengan wajah lelah tapi puas.
"Capek tapi seru ya," kata Fiat sambil menggelar alas di depan tenda.
"Oh jelas," jawab AJ, "apalagi lihat Nanon hampir jatuh, Ohm langsung berubah jadi pahlawan romantis."
"Eh! Dih, kalian denger dari mana sih?!" seru Nanon malu-malu.
"Ohm-nya aja yang mukanya bahagia banget waktu itu," tambah JJ menggoda.
Ohm hanya mengangkat bahu dengan senyum lebar. "Nggak salah juga kan nolong temen?"
Siang pun tiba. Nanon dan Fiat segera bergerak ke dapur umum, menyiapkan makan siang. Aroma tumisan bawang dan daging menyebar ke seluruh area kemah.
AJ datang sambil membawa piring. "Koki andalan kita kerja lagi!"
Fiat menjawab, "Yup! Menu siang ini nasi goreng spesial ala Fiat dan Nanon."
Saat semua duduk makan bersama, suasana begitu akrab. Suara tawa, percakapan ringan, dan aroma masakan mengisi udara.
"Ohm, kamu mau tambah?" tanya Nanon sambil menyodorkan sendok.
Ohm tersenyum. "Kalau yang nyuapin kamu, boleh."
Fiat langsung berseru, "Waduh, Ohm! Udah siang masih aja gombal."
Nanon hanya menunduk sambil tersenyum malu. Dalam hati, ia tahu — hari itu mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi baginya, pagi yang dimulai dengan pelukan hangat, gotong royong bersama, dan makan siang buatan sendiri bersama Ohm terasa begitu istimewa.
Matahari siang menggantung tinggi, dan mereka semua duduk santai di bawah pohon besar. Angin berhembus pelan, membawa tawa dan percakapan ringan yang seolah menandakan: kebersamaan mereka baru saja dimulai.
jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Novela JuvenilNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
