Part 61

30 3 0
                                        

Kedamaian dan Langkah Besar

Setelah pertemuan di kafe, suasana di kantor Departemen Pengembangan Bisnis perusahaan Mew berubah drastis. Jane, yang kini diliputi rasa malu dan penyesalan mendalam, kembali fokus sepenuhnya pada pekerjaannya. Ia menjaga jarak profesional yang sangat ketat dari Manajer Ohm, tidak ada lagi chat genit, tidak ada lagi kopi di luar jam kerja.

Ohm menyadari perubahan ini, dan diam-diam merasa lega. Ia tahu Nanon pasti telah melakukan sesuatu yang elegan namun efektif. Ia memutuskan untuk tidak bertanya, menghormati cara istrinya menangani masalah.

Suatu malam, Ohm dan Nanon sedang memasak makan malam bersama di dapur rumah baru mereka. Ohm memeluk Nanon dari belakang saat Nanon mengaduk sup.

"Kantorku terasa sangat tenang hari ini," bisik Ohm, mencium leher Nanon. "Junior yang ambisius itu tiba-tiba menjadi sangat fokus pada analisis data."

Nanon tertawa kecil, bersandar pada suaminya. "Mungkin dia hanya kehabisan ide untuk breakthrough inovatif. Anak muda memang harus dibimbing, Tuan Manajer."

"Aku rasa kamu sudah memberinya bimbingan yang sangat efektif," Ohm membalas, membalikkan badan Nanon agar menghadapnya. Ia menatap mata Nanon dengan kekaguman. "Terima kasih, Sayang. Kamu adalah istri yang paling hebat. Aku mencintaimu."

"Aku tahu," Nanon tersenyum tulus. "Aku adalah kompas visualmu, ingat? Aku harus memastikan jarumnya tidak berbelok ke arah yang salah."

Ohm mencium Nanon, ciuman yang menjanjikan rasa aman dan kepercayaan yang tak tergoyahkan.

Tuntutan Karier dan Proyek Baru

Beberapa bulan berlalu, dan karier Ohm serta Nanon semakin menanjak. Nanon, di Departemen Inovasi Material perusahaan Tay , mendapat kepercayaan besar untuk memimpin proyek pengembangan material ramah lingkungan baru persis seperti yang ia teliti di skripsi.

Sementara itu, Ohm, di perusahaannya, harus terbang ke luar kota dan bahkan luar negeri untuk serangkaian rapat penting dengan klien baru.

Perpisahan pertama mereka terasa berat. Di bandara, Nanon memeluk Ohm erat-erat.

"Jangan pernah matikan ponselmu," bisik Nanon, matanya berkaca-kaca. "Dan jangan pernah lupa Kompas kecilmu."

Ohm mengeluarkan kalung Kompas perak itu dari balik kemejanya, menciumnya, lalu menyentuhkan liontin itu ke dahi Nanon. "Aku tidak akan pernah, Sayang. Ini hanya beberapa hari. Aku akan segera kembali ke rumah."

Perpisahan ini mengajarkan mereka pentingnya komunikasi. Mereka selalu menyempatkan diri melakukan panggilan video setiap malam, di mana Nanon akan menceritakan progres proyek inovasinya, dan Ohm akan menceritakan detail rapatnya, sambil memamerkan view hotelnya.

"Aku merindukanmu," bisik Ohm suatu malam di panggilan video.

"Aku juga merindukanmu," balas Nanon, yang malam itu tidur sambil memeluk kemeja kerja Ohm. "Cepat pulang. Aku tidak suka tidur sendirian di ranjang besar ini."

Rencana Paling Penting: Membahas Keturunan

Setelah Ohm kembali dari perjalanan dinasnya, ia menyambut Nanon dengan buket bunga besar dan makan malam romantis di rumah.

Saat mereka makan malam, suasananya kembali intim dan tenang.

"Aku punya satu hal lagi yang harus kita diskusikan," kata Ohm, meraih tangan Nanon di meja.

"Apa?"

"Mengenai janji pada Ayah dan Bundaku... soal cucu." Ohm tersenyum geli. "Mereka mulai bertanya-tanya. Tapi aku tidak ingin melakukan apa pun kecuali kamu yang memintanya."

Nanon menatap Ohm. Topik ini memang sudah mereka hindari. Kini, setelah mereka aman dalam pernikahan dan karier mereka stabil, ini adalah saatnya.

"Aku sudah memikirkannya, Ohm," kata Nanon, nadanya tenang namun penuh keyakinan. "Aku mencintai pekerjaanku. Kamu juga mencintai pekerjaanmu. Tapi aku juga mencintai gagasan kita memiliki keluarga kecil sendiri."

Nanon meraih tangan Ohm. "Aku siap, Sayang. Aku siap untuk menjadi seorang Ibu, dan aku siap melihatmu menjadi seorang Ayah. Kita tidak akan menunda ini lagi. Aku ingin kita memiliki rumah ini yang penuh tawa anak-anak kita."

Mata Ohm langsung bersinar. Itu adalah jawaban yang ia harapkan, tetapi ia menunggu Nanon yang mengambil keputusan itu sepenuhnya.

Ohm berdiri, berjalan mengitari meja, dan berlutut di depan Nanon. Ia memegang kedua tangan Nanon.

"Nanon, aku mencintaimu. Terima kasih. Terima kasih karena kamu selalu menjadi pemimpin di setiap keputusan besar kita. Aku janji, kita akan menjadi orang tua terbaik. Kita akan menjadi keluarga yang sempurna," bisik Ohm, lalu ia mencium tangan Nanon.

Nanon membungkuk, mencium bibir Ohm. "Ayo kita berikan mereka kejutan, Suamiku."

Kejutan Manis untuk Keluarga

Keesokan harinya, Ohm dan Nanon mengadakan acara makan malam di rumah mereka, mengundang The Four Generals Tay, New, Mew, dan Gulf serta para kakak mereka.

Suasana makan malam itu ramai dan hangat. Saat hidangan penutup disajikan, Ohm berdeham, menarik perhatian semua orang.

"Ayah, Bunda, Om Gulf, Tante Mew, Abang-Abang sekalian," Ohm memulai, berdiri dan memegang tangan Nanon. "Kami punya pengumuman penting."

Semua orang terdiam, menatap mereka dengan penuh harap.

"Kami tahu, selama ini kalian terus bertanya-tanya kapan kami akan melanjutkan tradisi keluarga," kata Nanon, tersenyum geli.

"Kami sudah menunda pernikahan demi karier," lanjut Ohm. "Dan kami sudah memastikan fondasi rumah tangga kami kuat."

Ohm menatap Nanon, matanya penuh cinta. "Hari ini, kami mengumumkan bahwa kami sudah siap. Kami sudah memutuskan bahwa kami ingin memiliki anak. Kami siap untuk hamil, dan kami siap untuk menjadi orang tua."

Keheningan melanda selama satu detik, sebelum ruang makan itu meledak dalam sorakan dan kegembiraan histeris. Mew dan Gulf langsung berdiri, menghampiri Ohm dan Nanon dengan mata berkaca-kaca.

"Ya Tuhan! Terima kasih!" Mew memeluk Ohm dan Nanon erat-erat. "Aku akan menjadi Kakek!"

"Nanon! Bunda akan segera membeli semua perlengkapan bayi!" seru New, tak kalah heboh.

Para kakak mereka Pluem, Frank, Nut, peach, Jimmy, dan Win bersorak dan bertepuk tangan, saling menepuk punggung.

Malam itu berakhir dengan rencana heboh dari keluarga besar, yang kini beralih dari wedding organizer menjadi baby organizer. Nanon dan Ohm hanya bisa saling pandang dan tersenyum. Mereka tahu, ini adalah babak baru yang mereka mulai dengan penuh kesadaran dan cinta. Mereka telah melampaui perjodohan, melampaui skripsi, dan melampaui rayuan di kantor.

Kini, mereka siap untuk tantangan terbesar dan terindah dalam takdir cinta mereka.










Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang