Kembali ke Kampus dan Perpisahan Singkat
Bus besar itu akhirnya tiba di gerbang utama kampus. Suasana yang tadinya tenang di tengah hutan kini kembali riuh oleh suara mesin, klakson, dan tawa lega para mahasiswa.
Saat Nanon, Ohm, Fiat, AJ, dan JJ turun, mereka langsung merasakan perbedaan udara kota yang lebih padat dan panas.
"Astaga, akhirnya!" seru Fiat sambil meregangkan tubuh. "Aku sumpah, punggungku terasa seperti habis jadi alas sleeping bag selama tiga hari."
AJ menimpali, "Dan aku harus mandi air hangat setidaknya tiga kali. Aroma daun pinus memang enak, tapi tiga hari tanpa sabun wangi itu penyiksaan."
JJ tertawa. "Drama banget kalian! Untung tenda kita nggak bau. Oke, guys, aku duluan ya! Supirku sudah di sana." JJ menunjuk sebuah mobil sedan hitam yang sudah menunggunya. "Sampai ketemu besok di kelas!"
Setelah JJ pergi, Fiat melirik arlojinya. "Mobilku juga sudah hampir sampai. Ohm, Nanon, kalian dijemput atau gimana?"
Ohm menjawab sambil merapikan tasnya. "Aku bawa mobil sendiri ke sini, Fiat. Nanti aku yang antar Nanon pulang."
Nanon sedikit terkejut, namun senyumnya melebar. Tadi pagi Ohm hanya bilang ia akan mengantar, Nanon mengira itu berarti naik taksi.
"Wah, asik! Udah punya driver pribadi nih, Nanon," goda AJ sambil menyenggol bahu Nanon. "Oke deh, aku juga sudah dijemput! See you!"
Fiat menepuk bahu Ohm dan Nanon bergantian. "Jaga diri kalian, ya. Dan Nanon, jangan sampai hilang lagi di jalanan kota. Enggak ada Ohm yang akan nyariin di tengah kemacetan Jakarta, bro!"
Mereka tertawa. Setelah AJ dan Fiat dijemput, akhirnya hanya tersisa Ohm dan Nanon.
Ohm mengambil koper Nanon. "Ayo. Mobilku parkir agak jauh, di belakang gedung rektorat."
"Kenapa nggak bilang kamu bawa mobil?" tanya Nanon saat mereka berjalan beriringan.
"Supaya ada alasan buat mengantarmu tanpa diinterogasi sama anak-anak," Ohm berbisik sambil tersenyum misterius. "Aku nggak mau moment kita hilang setelah kembali ke kota."
Mereka berjalan dalam keheningan yang nyaman. Saat sampai di mobil Ohm – sebuah SUV hitam yang elegan – Ohm membukakan pintu untuk Nanon.
"Silakan, Tuan Putri," kata Ohm.
Nanon tertawa. "Sejak kapan kamu jadi se-formal ini?"
"Sejak aku memutuskan kalau kamu bukan lagi teman biasa," jawab Ohm sambil menutup pintu.
Perjalanan dan Keheningan yang Penuh Arti
Ohm menjalankan mobilnya keluar dari area kampus. Nanon menyandarkan kepalanya ke jendela, melihat kota yang bergerak cepat.
"Gimana perasaanmu sekarang?" tanya Ohm tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
Nanon menoleh ke Ohm. "Perasaan apa?"
"Setelah semua yang kita bicarakan tadi malam. Rasanya... seperti mimpi yang akhirnya jadi nyata."
Nanon tersenyum. "Rasanya tenang. Aku nggak perlu mikirin lagi bagaimana caranya berpura-pura nggak peduli kalau kamu dekat-dekat. Dan... aku nggak sabar untuk date kita besok malam."
"Aku juga," Ohm mengakui. "Tapi ada yang harus aku bilang. Ada hal yang kita nggak perlu ambil risiko untuk jujur, karena itu sudah jadi kenyataan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
