Setelah perjalanan sore yang menyenangkan dari kampus, Ohm dan Nanon pun tiba di rumah Ohm. Langit sudah mulai memudar dari jingga ke biru tua, sementara cahaya lampu halaman rumah mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat yang menyambut siapa saja yang datang.
Mobil Ohm berhenti pelan di depan garasi. Nanon menoleh ke arah rumah sambil tersenyum, “Rumah kamu selalu terasa adem banget deh, Ohm. Kayak... nyaman gitu.”
Ohm menoleh sambil tersenyum santai, “Ya, soalnya kamu datang, jadi makin hangat suasananya.”
Nanon tertawa kecil. “Gombal terus.”
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Begitu pintu utama dibuka, aroma masakan lezat langsung menyambut. Dari dapur terdengar suara Mama New sedang menata piring dibantu oleh Gulf, sementara Peach dengan cekatan menambahkan garnish ke atas makanan yang sudah matang.
“Ohm, Nanon! Sudah datang, Nak?” sapa Mama New dengan senyum ramah.
“Iya, Ma,” jawab Ohm sambil menggandeng tangan Nanon masuk. “Wangi banget masakannya, bikin laper.”
Mama Gulf ikut keluar dari dapur sambil mengelap tangannya dengan lap kecil. “Ayo duduk dulu, makan malamnya hampir siap. Kalian pasti lapar habis kuliah.”
Nanon tersenyum sopan, “Iya, Tante. Terima kasih sudah repot-repot masak.”
“Oh enggak dong. Kamu itu sudah kayak anak sendiri,” jawab Gulf sambil mengedipkan mata hangat.
Sementara itu, di ruang tengah, Win dan Franks sedang sibuk bermain game dengan PS mereka. Suara dari joystick dan tawa renyah mereka terdengar bersahut-sahutan.
“Franks, cepat dong, aku udah mau menang nih!” teriak Win sambil tertawa.
Franks membalas sambil menggerakkan stik, “Jangan harap! Kali ini aku nggak bakal kasih kamu menang semudah itu.”
Ohm dan Nanon melongok sebentar dan tersenyum melihat kehebohan kakak-kakaknya. Di sisi lain ruang, Pluem, Nut, dan Jimmy duduk melingkar di meja kecil dengan laptop terbuka dan catatan bisnis berserakan rapi.
“Kalau kita kembangkan unit distribusi ke daerah timur, kita bisa gandeng perusahaan lokal buat efisiensi logistik,” kata Nut sambil menunjukkan grafik di layar laptop.
“Setuju. Tapi kita perlu tim audit yang bisa kontrol kualitas juga. Jangan cuma kejar kuantitas,” timpal Pluem.
Jimmy menambahkan sambil menggulir data di ponselnya, “Aku bisa urus koneksi supplier-nya. Kayaknya ada relasi yang bisa bantu.”
Di ruang kerja kecil dekat taman belakang, Tay dan Mew duduk berdua dengan map dokumen terbuka di meja. Mereka tampak serius, tapi tetap santai.
“Aku pikir bisnis kita di Jepang bisa kita genjot dengan produk lokal dari sini. Tapi butuh strategi promosi yang beda,” kata Daddy Tay sambil menyimak catatan.
Daddy Mew mengangguk, “Iya, kita bisa gandeng content creator Jepang buat promosi soft-sell. Biarkan brand kita masuk lewat kultur.”
“Aku suka ide itu,” balas Tay.
Tak lama kemudian, suara Mama New terdengar dari dapur, “Makan malam sudah siap!”
Semua anggota keluarga mulai berkumpul di meja makan. Makanan tersaji lengkap dari ayam panggang, sup krim, hingga salad segar buatan Peach.
Nanon duduk di samping Ohm, bersebelahan dengan Gulf dan New. Pluem dan Nut duduk berdampingan di ujung meja, sementara Jimmy dan Win duduk saling berseberangan, masih tertawa dari obrolan sebelumnya.
Saat makan malam berlangsung, suasana penuh kehangatan dan candaan.
“Nanon, kamu paling suka masakan siapa di rumah ini?” tanya Peach sambil menyodorkan jus.
Nanon tertawa kecil, lalu berpikir sebentar, “Hmm... semuanya enak. Tapi aku suka sup krim buatan Tante Gulf. Creamy banget!”
Gulf tersenyum puas, “Wah, berarti Tante menang hari ini.”
“Besok aku masak rendang, kita lihat siapa yang menang,” celetuk New disambut tawa semua orang.
Ohm hanya tersenyum sambil mencolek pipi Nanon pelan, “Besok kamu nginep aja sini, sekalian jadi juri.”
Nanon memutar mata, “Nanti dibilang betah banget di rumah orang.”
“Lah, kamu ‘kan udah bagian dari rumah ini,” sahut Franks sambil ikut tertawa.
Makan malam itu berakhir dengan gelak tawa, cerita ringan, dan rencana untuk hari esok. Tidak ada yang tergesa, semua mengalir alami dan hangat.
Dan di antara kebersamaan itu, Ohm dan Nanon hanya saling menatap... dalam hati mereka tahu, rumah bukan sekadar bangunan rumah adalah tempat di mana ada tawa, cinta, dan orang-orang yang saling peduli.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Ficção AdolescenteNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
