part 12

61 2 0
                                        


Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah suasana kelas yang hening setelah pelajaran yang cukup menguras otak. Para siswa langsung bersorak kecil, beberapa langsung berdiri, mengambil dompet, dan berjalan keluar. Aroma makanan dari kantin mulai menyeruak masuk ke kelas, memanggil mereka yang sudah lapar sejak jam pertama.

Fiat bangkit sambil menepuk bahu Nanon. “Ayo ke kantin, Non. Gue laper parah.”

Nanon tersenyum kecil, memasukkan pulpen dan bukunya ke dalam tas. “Boleh deh. Tapi jangan makan yang pedes ya, nanti perut lo mules lagi kayak kemarin.”

“Heh! Itu kejadian kecil!” sahut Fiat sambil menutup mulut malu.

Mereka pun keluar kelas, berjalan di koridor sekolah yang kini ramai oleh siswa-siswa lain. Obrolan ringan, tawa, dan teriakan dari siswa kelas lain mengisi udara. Semua terasa biasa hingga mereka sampai di depan kantin.

Suasana di depan kantin sedikit berbeda.

Ada suara gaduh.

Terlihat beberapa siswa membentuk kerumunan di sisi kiri kantin. Mereka seperti menonton sesuatu.

Fiat langsung berhenti. “Eh, itu pada ngapain sih?”

Nanon memicingkan mata, mencoba melihat lebih jelas.

Dan saat ia menyadari siapa yang sedang ada di tengah kerumunan itu… jantungnya seolah berhenti berdetak.

“Ohm?!” ucap Nanon panik.

Di tengah kerumunan itu, Ohm sedang terlibat adu mulut panas dengan dua orang dari tongkrongannya. Salah satunya bahkan sudah menarik kerah baju Ohm, dan yang satu lagi terlihat menahan, tapi tidak cukup kuat.

“Lu tuh denger gak sih, Ohm?! Jangan sok suci di depan gue!” bentak salah satu dari mereka.

Ohm mencengkram lengan temannya itu dengan keras. “Lo jangan bawa-bawa Nanon ke dalam masalah ini!”

“Heh! Emang lo pikir dia gak tau siapa lo yang sebenernya?!”

Ceklek!

Tangan Ohm terayun, menepis keras tangan kawannya. Hampir mengenai wajah. Sekeliling langsung heboh. Beberapa anak mulai panik.

Fiat menarik tangan Nanon. “Eh Non, jangan ikut campur deh, itu urusan mereka…”

Tapi Nanon tak mendengar. Ia sudah berlari, menerobos kerumunan.

“BERHENTI!!!” teriak Nanon keras.

Semuanya membeku. Bahkan tangan yang tadinya siap memukul pun langsung diam. Semua mata kini tertuju padanya.

“Ohm… cukup,” ucap Nanon, pelan namun tegas.

Ohm menoleh. Matanya masih penuh emosi. Tapi begitu melihat Nanon, sorot itu berubah. Matanya melembut, walau napasnya masih berat.

“Non… dia yang mulai duluan,” ucap Ohm, tapi suaranya kini menurun.

Nanon menatap tajam ke arah dua teman Ohm. “Kalau kalian punya masalah, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan kayak anak kecil di tempat umum begini. Mau semua guru tahu dan orang tua dipanggil?”kata nanon dengan jelas

Mereka berdua saling pandang. Salah satunya mengumpat pelan, lalu memutar badan, pergi meninggalkan kerumunan. Satu lagi menyusul, sambil menatap Ohm dengan pandangan penuh dendam.

Kerumunan bubar perlahan. Guru piket hampir datang.

Fiat menepuk dada. “Astaga… drama apaan sih barusan…”

Nanon menoleh ke Ohm. Ia melihat luka kecil di tangan Ohm. Kemerahan, bahkan sedikit berdarah.

“Lengan kamu berdarah. Sini ikut aku ke UKS.”kata nanon

“Oh, gak papa, cuma sedikit kok,” kata Ohm mencoba meremehkan.

Tapi Nanon menatapnya tajam. “Ohm.”

Sekali panggil, cukup. Ohm akhirnya menurut.

Di UKS – Sunyi, Hangat, dan Jujur

Ruangan UKS kosong. Tirai jendela setengah tertutup, membiarkan cahaya matahari masuk dengan lembut. Aroma minyak kayu putih dan antiseptik khas tempat ini langsung menyergap hidung mereka.

Ohm duduk di kasur kecil. Nanon mengambil kotak P3K dari lemari dan membuka kasa steril serta cairan antiseptik.

“Tarik lengan bajumu,” ucap Nanon pelan.

Ohm menurut. Ia mengulurkan tangannya. Nanon mulai membersihkan lukanya dengan lembut. Tak ada suara. Hanya detak jantung mereka yang terdengar dalam hening.

“Aku gak suka liat kamu kayak gitu,” kata Nanon akhirnya.

Ohm menunduk. “Maaf…”

“Kenapa kamu bisa sampai segitunya? Apa yang sebenernya mereka bilang tentang aku?” tanya Nanon pelan, tapi dalam.

Ohm terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.

“Mereka pikir aku berubah sejak dekat sama kamu. Mereka gak suka karena aku gak lagi ikut-ikut mereka ‘main’ tiap malam. Aku milih buat pulang cepat, belajar, dan… ya, lebih mikirin masa depan.”kata ohm

Nanon berhenti mengoleskan salep. Ia menatap mata Ohm.

“Kamu berubah karena aku?”tanya nanon

Ohm menggeleng. “Enggak. Aku berubah karena aku sadar. Dan kamu jadi alasan kenapa aku makin yakin sama perubahan itu.”

Kalimat itu membuat Nanon kehilangan kata. Ia hanya bisa memandang Ohm dengan campuran kagum dan iba.

“Aku gak pernah pengin kamu berubah demi aku, Ohm. Tapi kalau kamu berubah demi dirimu sendiri, dan aku ada di samping kamu… itu baru aku setuju.”kata nanon

Ohm tersenyum tipis. Ia menatap Nanon dalam.

“Makanya aku makin yakin. Kamu bukan cuma seseorang yang aku suka… tapi seseorang yang aku butuh.”kata ohm

Nanon mengalihkan pandangan, wajahnya memerah.

“Udah. Beres. Luka kamu gak parah, tapi jangan sok kuat. Kalau sakit, bilang.”kata nanon yang sedang mau beres p3k

Ohm tertawa kecil. “Oke, suster Nanon.”

“Jangan gombal.”kata nanon dengan muka cutek

Mereka tertawa kecil, tapi tawa itu menghapus seluruh tegang yang tadi menggantung di kantin.























Jangan lupa like dan komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang