part 14

68 3 0
                                        


Bel sekolah berbunyi nyaring, menggema di seluruh penjuru gedung.

Suara kursi bergeser, buku-buku masuk ke tas, dan tawa siswa-siswi yang lega akhirnya bisa pulang terdengar di mana-mana. Suasana kelas jadi ramai dan sedikit kacau, tapi dalam keramaian itu, Nanon hanya duduk tenang di kursinya, menatap keluar jendela.

Fiat di sebelahnya sedang sibuk membereskan isi tasnya yang berantakan, lalu nyeletuk.

“Gila, otak gue udah panas banget hari ini. Apalagi tadi pas guru ngomong soal ujian minggu depan. Kayaknya gue harus mulai puasa main game.”kata Fiat

Nanon tertawa kecil. “Ya bagus dong, akhirnya sadar juga.”

“Oh, bukan sadar. Lebih ke takut gak lulus.”saut Fiat

Saat mereka berdua bersiap berdiri, suara yang sudah dikenal itu terdengar di depan kelas.

“Nanon!” panggil Ohm, berdiri di depan pintu dengan jaket sekolah setengah dikenakan dan tas selempang menyilang di dada. Wajahnya tenang tapi senyumnya selalu hangat kalau sedang menatap Nanon.

Fiat langsung melirik cepat. “Tuh, pacar kamu jemput.”

Nanon menghela napas, berdiri sambil merapikan tali tasnya. “Jangan bilang gitu keras-keras.”

Ohm melambaikan tangan kecil. “Mau bareng pulang?”

Fiat memotong, “Eh ikut ya! Mampirin rumah gue dulu.”

Nanon langsung menunjuk Fiat. “Nah, itu sekalian. Lo ikut ya, Ohm. Sekalian nganterin Fiat juga. Kasihan, dia gak bisa jalan sendiri kayaknya.”

Ohm hanya tertawa kecil. “Oke, ayo. Kita bareng.”

Dalam Perjalanan Pulang Di Mobil

Mobil Ohm melaju santai di jalanan sore yang sudah mulai ramai. Angin menerpa wajah mereka, dan langit sudah memerah di ufuk barat. Fiat duduk di tengah, sementara Nanon di belakang, memegang erat pinggang Fiat agar tak jatuh. Sepanjang perjalanan mereka ngobrol ngalor-ngidul, tawa tak pernah berhenti.

“Ohm, pelan dikit dong. Perut gue kerasa keangkat tiap lewat polisi tidur,” keluh Fiat sambil meringis.

“Makanya jangan makan kebanyakan di kantin tadi,” kata Ohm sambil cekikikan.

Nanon menimpali, “Fiat makan kayak orang gak ketemu nasi seminggu. Pantesan ngeluh.”

Fiat pura-pura marah. “Dasar kalian pasangan toxic!”

Mereka tertawa bertiga.

Di Rumah Fiat

Setelah mobil berhenti di depan pagar rumah sederhana dua lantai milik Fiat, cowok itu langsung turun dan menoleh sambil mengangkat dua jarinya membentuk peace.

“Thanks udah anter. Hati-hati kalian di jalan. Jangan pacaran terus ya!” godanya.

Nanon menyodorkan sandal Fiat yang hampir ketinggalan. “Nih, lo lupa.”

Fiat menjulurkan lidah dan berlari masuk ke dalam rumah. Tak lama, ibunya sempat muncul dari pintu dan melambaikan tangan.

“Terima kasih ya, Ohm, Nanon!”kat krist

“Oh iya, tante. Sama-sama!” jawab mereka bersamaan sebelum kembali melaju.

Sampai di Rumah Nanon

Langit sudah mulai gelap ketika motor Ohm berhenti di halaman rumah Nanon. Lampu-lampu taman depan sudah menyala, dan dari jendela terlihat bayangan Tay sedang berbincang dengan Franks di ruang tengah.

Nanon turun, Ohm ikut memarkirkan mobilnya perlahan.

Saat mereka berdua akan berpamitan, pintu depan rumah terbuka dan New muncul dari balik pintu dengan senyum yang langsung menghangatkan hati.

“Oh, kalian pulang bareng, ya? Masuk dulu yuk, Ohm. Makan malam bareng aja. Bunda masak ayam kecap favorit kamu,” tawarnya lembut.

Ohm yang semula berniat pamit jadi terdiam sejenak.

“Iya dong, masuk dulu!” seru Franks dari ruang tengah, melongok ke luar.

Pluem juga ikut menyahut dari dapur, “Mumpung makanan masih panas!”

Nanon menoleh ke Ohm, mengangkat alis. “Mau?”

Ohm tersenyum pelan. “Kalau gitu... boleh, Bun. Makasih banyak.”

---

Di Ruang Makan Makan Malam Hangat

Meja makan dipenuhi aroma lezat ayam kecap, sayur bening bayam, tempe goreng, dan sambal buatan New yang khas. Tay duduk di ujung meja, menyendok nasi dengan wajah tenang. Pluem duduk di sebelahnya, sementara Franks sibuk nambah ayam.

Nanon duduk di samping Ohm, sedikit canggung karena seluruh keluarganya memperhatikan mereka diam-diam.

“Jadi Ohm suka pedas?” tanya New sambil menyodorkan sambal.

“Suka, Bun. Tapi gak sepedas kalau dimarahi Nanon,” jawab Ohm santai.

Semua tertawa.

Tay ikut angkat bicara. “Saya lihat kamu anaknya tenang, Ohm. Tapi bisa jaga Nanon gak?”

Ohm menatap Tay serius, lalu berkata dengan mantap, “Saya akan selalu berusaha, Om. Saya tahu Nanon berharga buat keluarga ini.”

Tay mengangguk. “Bagus.”

Pluem nyeletuk sambil kunyah tempe, “Jaga juga jangan sampai kalian ribut cuma karena masalah kecil. Adik gue sensitif.”

Nanon langsung menatap tajam kakaknya. “Bang!”

Makan malam terus berlanjut dengan tawa kecil dan obrolan hangat. Tak ada ketegangan, tak ada jarak. Hanya satu keluarga, dan satu anak muda yang mulai diterima masuk perlahan.

Setelah Makan  Di Teras Depan

Ohm berdiri di teras, bersiap pulang. Nanon mengantarnya sampai depan pagar.

“Makasih udah makan bareng,” kata Ohm.

Nanon mengangguk, senyum manis tersungging. “Sama-sama. Bunda suka kamu. Papa juga kayaknya mulai suka.”

“Bagus dong. Berarti jalan gue mulus.”

Nanon mendekat sedikit. “Ohm…”

“Ya?”

Nanon menggenggam tangan Ohm sebentar. “Terima kasih. Udah sabar sama aku. Udah selalu ada.”

Ohm menatap mata Nanon dalam-dalam. “Aku gak akan pergi ke mana-mana.”

Mereka terdiam, hanya suara jangkrik yang terdengar. Ohm lalu melepas tangan Nanon dengan pelan, lalu naik ke motor.

“Good night, Non.”

“Good night, Ohm. Hati-hati di jalan.”

Dan mobil itu pun melaju perlahan menjauh, meninggalkan senyuman di wajah Nanon yang berdiri di bawah lampu teras, dengan hati yang mulai percaya  bahwa mungkin, cinta bisa sesederhana ini.






















jangan lupa like dan komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang