Babak Terakhir: Menghitung Mundur Menuju Kebahagiaan
Tiga bulan setelah Nanon dan Ohm berhasil menyelesaikan Tugas Akhir mereka, suasana kembali riuh dengan persiapan pernikahan. Kali ini, tanpa beban skripsi, Nanon dan Ohm bisa menikmati setiap prosesnya, meskipun tetap terasa heboh karena campur tangan The Four Generals.
Wisuda menjadi momen yang sangat emosional. Saat nama Nanon dan Ohm dipanggil untuk menerima ijazah dengan predikat Cum Laude, seluruh keluarga termasuk para kakak yang selalu usil bersorak paling keras. Di belakang panggung, sebelum mereka berpisah untuk berfoto dengan keluarga masing-masing, Ohm menarik Nanon ke sudut yang sepi.
"Selamat, Tunanganku," bisik Ohm, menyentuh topi toga Nanon. "Kita berhasil melewati rintangan akademik terbesar. Tidak ada yang bisa menghentikan kita lagi."
Nanon tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Ohm. Tanpa kamu, aku pasti sudah menyerah di bab empat."
Ohm tidak menjawab, ia hanya mencium Nanon dengan lembut ciuman yang penuh janji dan rasa bangga.
Tiga Bulan Menuju Pernikahan: Pilihan dan Janji Baru
Setelah wisuda, fokus mereka sepenuhnya beralih ke pernikahan. Nanon dan Ohm kini bisa benar-benar menikmati test food, memilih dekorasi, dan yang paling penting, menulis janji pernikahan mereka.
Suatu sore, Nanon dan Ohm berada di venue pernikahan yang baru mereka pilih sebuah ballroom kaca dengan pemandangan taman luas. Mereka sedang duduk berdua di gazebo kecil, sambil memegang secarik kertas untuk menulis vow mereka.
"Aku masih tidak percaya kita bisa menunda ini dan akhirnya mendapatkan venue ini," gumam Nanon, melihat pemandangan.
"Aku juga. Berkat kegigihanmu, kita mendapatkan apa yang kita inginkan," Ohm membalas, menulis beberapa kata. "Aku ingin janji pernikahan kita tidak klise, Nanon. Harus ada tentang Jurit Malam."
Nanon tertawa. "Tentu saja. Janji pernikahan tanpa Jurit Malam itu seperti kopi tanpa kafein."
Nanon mulai membaca tulisannya, suaranya pelan dan penuh emosi:
"Ohm, kamu adalah kompas yang tidak pernah aku tahu aku butuhkan. Aku berjanji untuk tidak takut lagi. Aku berjanji untuk selalu jujur padamu, bahkan ketika aku merasa malu. Aku berjanji untuk tidak pernah melepaskan tanganmu, meskipun jalan di depan terasa gelap dan penuh rintangan tak terduga. Aku memilih kamu, bukan hanya karena takdir, tetapi karena setiap hari, kamu selalu memberiku alasan untuk mencintai hidup. Aku akan menjadi rumahmu, dan aku akan selalu menunggumu pulang, tanpa perlu kamu mencariku di tengah hutan."
Air mata Ohm menetes saat Nanon selesai. Ia segera mengambil tangan Nanon, mencium cincin tunangan itu lama sekali.
"Itu sempurna, Sayang," bisik Ohm. "Sekarang giliranmu mendengarkan janji yang lahir dari kepanikan seorang pengecut."
Ohm membersihkan tenggorokannya, lalu membaca:
"Nanon, aku berjanji akan menjadi alasan di balik tawamu yang paling jujur. Aku berjanji untuk selalu memberimu ruang untuk takut, tetapi tidak pernah membiarkanmu sendirian dalam ketakutan itu. Aku berjanji untuk selalu memegang tanganmu, bahkan ketika kamu tidak memintanya. Aku berjanji akan mengambil setiap risiko yang ada, demi cinta kita. Dan yang terpenting, aku berjanji, aku akan menjadi pria yang lebih baik, layak mendapatkan seorang wanita pemberani sepertimu. Aku adalah kompas yang menunjuk padamu. Selamanya."
Mereka berpelukan di gazebo itu. Janji itu terasa lebih nyata daripada semua gaun dan katering yang sudah dipesan.
Malam Sebelum Hari-H
Malam sebelum pernikahan, Nanon tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon kamarnya, ditemani Frank yang menemaninya.
"Kamu gugup?" tanya Frank, meminum kopinya.
"Sangat," Nanon mengakui. "Aku gugup karena ini terlalu sempurna. Aku takut besok aku terbangun dan ini hanya mimpi indah setelah Jurit Malam."
Frank tertawa, lalu menepuk punggung Nanon. "Tenang, Adikku. Ini bukan mimpi. Ini takdir yang memang direncanakan dengan baik. Kami semua melihat bagaimana kamu dan Ohm saling mencintai. Kalian berdua adalah satu-satunya pasangan yang kami kenal yang harus melewati jumpscare sebelum ciuman pertama. Itu unik."
Di rumah Ohm, dia juga tidak bisa tidur. Ia duduk di kamarnya, membuka kotak kayu berisi Kompas Kecil yang ia hadiahkan pada Nanon.
Tiba-tiba, ponsel Ohm berdering. Itu adalah Nanon.
"Halo?" sapa Ohm, suaranya serak.
"Ohm, kamu sudah tidur?" suara Nanon terdengar cemas.
"Belum. Aku sedang memikirkanmu. Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"
"Aku hanya ingin mendengar suaramu," bisik Nanon. "Aku takut."
"Takut apa, Sayang?"
"Takut kalau besok aku salah mengucapkan janji pernikahan. Atau kalau aku tiba-tiba hilang di tengah altar."
Ohm tertawa kecil. "Kalau kamu hilang, aku akan mencarimu, dan kali ini aku akan memegang tanganmu di depan ratusan tamu. Jangan takut. Aku akan berada di sana. Lihat cincinmu. Kita sudah terikat. Tidurlah. Besok adalah hari terbesar kita."
"Aku cinta kamu, Ohm."
"Aku lebih cinta kamu, Nanon. Sampai jumpa besok, Istriku."
Hari Pernikahan: Takdir yang Terwujud
Hari itu tiba. Segala sesuatu mulai dari dekorasi, catering, hingga kehadiran tamu berjalan sempurna. Nanon terlihat memukau dalam balutan gaun pengantinnya yang elegan.
Saat musik mengalun, dan Nanon berjalan diiringi Tay, pandangannya langsung tertuju pada Ohm yang sudah menunggunya di ujung altar. Ohm terlihat berkaca-kaca. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Saat mereka berdiri berdampingan, pendeta memulai upacara. Semua terasa seperti slow motion bagi Nanon.
Saatnya tiba untuk mengucapkan janji. Nanon dan Ohm saling menatap, mata mereka memancarkan semua kenangan mereka, dari cafetaria yang canggung, Jurit Malam yang menakutkan, hingga malam-malam di laboratorium.
Mereka mengucapkan janji mereka. Janji yang terasa lebih pribadi dan nyata daripada janji formal mana pun.
Setelah janji diucapkan, dan cincin disematkan, pendeta tersenyum. "Kini, kalian resmi menjadi suami istri. Silakan cium mempelai wanita."
Ohm menangkup wajah Nanon, senyumnya menyebar. "Akhirnya," bisik Ohm, lalu ia mencium Nanon dengan penuh kasih ciuman yang mengakhiri penantian, mengakhiri semua keraguan, dan meresmikan takdir yang telah tertulis.
Sorak-sorai meledak. Tay dan Mew berpelukan sambil menangis. Para kakak mereka bersorak heboh.
Nanon dan Ohm berjalan menyusuri lorong, kini sebagai suami istri. Nanon memegang kalung Kompas perak itu, tersenyum pada Ohm.
"Petualangan kita dimulai sekarang, Suamiku," bisik Nanon.
"Aku siap, Istriku," balas Ohm. "Ayo kita buat takdir baru, yang kita tulis sendiri."
Mereka melangkah keluar, menuju hidup yang bahagia, dengan janji yang lahir dari ketulusan dan Kompas yang selalu menunjuk pada cinta.
Jangan Lupa Like dan Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
