Part 40

39 2 0
                                        

Sore mulai turun perlahan. Langit berubah warna menjadi jingga keemasan, menyelimuti area perkemahan dengan cahaya lembut yang menenangkan. Suara jangkrik mulai terdengar samar dari balik pepohonan, menandakan malam akan segera datang.

Nanon duduk di depan tenda sambil memegang mug cokelat hangat yang baru saja ia ambil dari dapur umum. Uap tipis mengepul dari permukaannya, menyatu dengan udara dingin pegunungan.

Ohm datang dari arah berlawanan sambil membawa dua batang kayu bakar. "Kita kumpulin kayu buat api unggun, katanya malam ini bakal ada kegiatan kelompok."

"Wah, seru dong," ujar Nanon sambil menepuk-nepuk tanah di sampingnya. "Taruh sini dulu, Ohm. Duduk, ah. Capek kan?"

Ohm menuruti, meletakkan kayu lalu duduk di sampingnya. "Lumayan. Tapi capeknya kebayar sih, lihat pemandangan kayak gini." Ia menatap langit yang kini dipenuhi semburat oranye.

Nanon ikut menatap langit. "Iya... cantik banget, ya. Rasanya tenang."

Ohm melirik sekilas ke arahnya. "Bukan cuma langitnya yang cantik."

Nanon menoleh cepat, pipinya langsung memerah. "Hah? Apa?"

Ohm terkekeh kecil, pura-pura sibuk meniup uap dari mug milik Nanon yang ia ambil sebentar. "Nggak, nggak. Cokelatnya ini enak juga ternyata."

Nanon memukul bahunya pelan. "Nggak usah ngelantur." Tapi senyum malu-malu tetap muncul di wajahnya.

Beberapa saat kemudian, panitia memanggil semua peserta untuk berkumpul di sekitar api unggun. Mereka duduk melingkar, sambil mendengarkan panitia menjelaskan kegiatan malam itu — perkenalan kelompok dan permainan ringan.

Saat giliran kelompok Ohm dan Nanon, suasana langsung ramai. Fiat memulai dengan penuh semangat, AJ menirukan gaya panitia yang lucu, membuat semua tertawa.

Tapi yang paling ditunggu justru bagian akhir permainan truth or dare.

Ketika botol diputar, ujungnya berhenti tepat di depan Nanon. Semua langsung bersorak. "Wah, Nanon! Pilih truth atau dare?"

Nanon menggigit bibir, lalu menatap Ohm yang duduk di seberang. "Hmm... truth deh."

Fiat tersenyum nakal. "Oke. Pertanyaannya... siapa orang yang kamu paling nyaman ajak ngobrol di sini?"

Suasana langsung berubah ramai. Beberapa teman bersiul menggoda.

Nanon tersenyum canggung, matanya secara refleks melirik ke arah Ohm yang sedang menatapnya sambil tersenyum lembut. "Hmm... kayaknya... Ohm, deh."

Sorak dan tepuk tangan langsung pecah. AJ berseru, "Wah, wah, pasangan tenda nih kayaknya!"

Ohm hanya tertawa kecil, sementara Nanon menunduk, mencoba menutupi wajahnya yang semakin merah.

Setelah permainan selesai, satu per satu peserta mulai kembali ke tenda. Udara malam semakin dingin, tapi suasana hati mereka hangat oleh tawa dan kebersamaan.

Di dalam tenda, Nanon berbaring sambil memeluk selimut tebal. Ia masih memikirkan kejadian tadi.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara pelan. "Nanon, udah tidur?"

Ia mengenali suara itu. "Belum, Ohm. Kenapa?"

"Oh, cuma mau bilang... makasih ya, udah jujur tadi." Suaranya terdengar lembut, agak ragu tapi tulus.

Nanon tersenyum dalam kegelapan. "Hehe... iya. Selamat malam, Ohm."

"Selamat malam, Nanon. Tidur yang nyenyak."

Angin malam berhembus lembut, menggoyangkan tenda perlahan. Nanon menutup matanya, masih dengan senyum kecil di bibirnya — malam itu terasa lebih hangat dari biasanya.






Jangan lupa like dan komen


Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang