Part 53

23 1 0
                                        

Babak Baru: Mempersiapkan Pernikahan di Tengah Penelitian Akhir


Setelah upacara tunangan yang sukses, suasana di antara kedua keluarga bukannya mereda, malah semakin intens. Tay dan Mew, didukung oleh istri dan anak-anak mereka, bergerak cepat. Mereka menjadwalkan pertemuan mingguan dengan Wedding Organizer (WO) terkenal, memilih katering kelas atas, dan bahkan sudah melihat beberapa venue mewah.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan The Royal Wedding tersebut, Nanon dan Ohm justru sedang menghadapi tantangan terberat mereka di kampus: Penelitian dan Skripsi Akhir.

Mereka berdua berada di semester akhir dan mengambil mata kuliah Tugas Akhir yang sangat menyita waktu. Beruntung, proyek penelitian mereka saling berkaitan, membuat mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama di perpustakaan atau laboratorium.

Suatu malam, Ohm dan Nanon sedang duduk berdua di perpustakaan yang hampir kosong. Di depan mereka terhampar peta pikiran, timeline skripsi, dan tumpukan buku referensi. Nanon menyandarkan kepalanya ke bahu Ohm, tampak lelah.

"Ohm," gumam Nanon, suaranya pelan dan serius. "Aku harus bicara serius denganmu tentang pernikahan."

Ohm segera menghentikan ketikannya, menoleh, dan mencium puncak kepala Nanon. "Ada apa, Sayang? Apa ada baju yang tidak kamu suka?"

"Bukan baju," Nanon menegakkan tubuhnya, menatap mata Ohm. "Aku tahu keluarga kita sudah sepakat menikah setahun dari sekarang. Tapi, Ayah dan Bunda sudah memesan venue musim panas depan. Itu berarti, kita harus menikah sebelum kita benar-benar lulus."

Ohm mengerutkan kening, menyadari maksud Nanon. Mereka berdua harus menyelesaikan penelitian ini, wisuda, dan baru benar-benar bebas dari beban akademis.

"Aku... aku takut, Ohm," Nanon melanjutkan, suaranya sarat kecemasan. "Aku sangat mencintaimu, dan aku ingin menikah denganmu lebih dari apa pun. Tapi aku tidak mau pernikahan kita mengganggu fokus kita di tugas akhir. Aku ingin kita lulus dengan predikat terbaik. Aku ingin kita benar-benar fokus dan merayakan kelulusan kita dulu, baru merayakan pernikahan kita."

Ohm merenung sejenak. Ia melihat mata Nanon yang memancarkan ketulusan dan ambisi. Ia sangat menghargai Nanon yang memprioritaskan pendidikan mereka.

"Aku mengerti, Nanon," kata Ohm, menggenggam tangan Nanon erat. "Aku juga merasa tertekan dengan timeline ini. Semua orang tua kita sangat bersemangat, sampai lupa bahwa kita masih mahasiswa. Kita hampir tidak punya waktu untuk kencan karena harus menguji sampel ini." Ohm menunjuk ke alat-alat penelitian mereka.

"Jadi, kamu setuju?" tanya Nanon penuh harap.

"Tentu saja aku setuju," jawab Ohm mantap. "Pernikahan haruslah saat kita paling siap, bukan saat WO paling siap. Aku akan mendukungmu seratus persen. Kita harus lulus dulu, Nan. Kita akan bicara dengan orang tua kita, bersama-sama."

Nanon tersenyum lega, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Ohm. Kamu benar-benar pasangan yang sempurna."

"Sama-sama, Sayang. Ayo, kita selesaikan bab terakhir ini. Lalu, kita hadapi 'bos terakhir'," Ohm tersenyum, merujuk pada orang tua mereka.


Menghadap 'The Four Generals'


Keesokan harinya, Nanon dan Ohm memberanikan diri. Mereka meminta pertemuan khusus dengan kedua orang tua mereka: Tay, New, Mew, dan Gulf. Suasana di ruang tengah rumah Tay terasa formal, tidak seperti pertemuan keluarga biasa.

"Jadi, ada apa, Nak? Kenapa mendadak sekali?" tanya Tay, pandangannya lurus.

New menyahut, "Apakah ada masalah dengan daftar tamu? Atau kamu tidak suka dengan dekorasi bunganya, Sayang?"

Nanon mengambil napas dalam-dalam. Ia melirik Ohm, yang memberinya anggukan penyemangat.

"Ayah, Bunda, Om mew, Tante Gulf," Nanon memulai dengan suara tegas. "Kami berdua sudah sepakat. Kami ingin meminta waktu. Kami ingin menunda pernikahan kami hingga tiga bulan setelah wisuda kami."

Seketika, suasana di ruang tengah membeku. Ekspresi terkejut terlihat jelas di wajah keempat orang tua itu.

"Menunda? Kenapa mendadak, Nanon?" tanya Mew, nada suaranya berubah khawatir. "Apakah kamu merasa tidak yakin?"

"Bukan, pa," Ohm menyela, suaranya tenang. Ia menggenggam tangan Nanon. "Kami sangat yakin. Justru karena kami yakin, kami ingin semuanya sempurna."

"Kami sekarang ada di titik krusial Tugas Akhir," Ohm menjelaskan. "Tanggung jawab ini sangat besar, dan kami ingin fokus total untuk lulus dengan hasil terbaik. Kalau kami harus disibukkan dengan fitting baju, test food katering, dan undangan, kami takut fokus kami terpecah."

Gulf menanggapi dengan nada pengertian. "Kami mengerti kalian berdua sangat serius dengan pendidikan. Tapi, Nak, semua persiapan itu sudah kami urus. Kalian hanya perlu datang. Kalian tidak perlu khawatir."

"Justru itu masalahnya, Om," Nanon memotong dengan lembut. "Kami ingin terlibat. Pernikahan ini adalah milik kami, bukan hanya milik WO. Kami ingin memberikan perhatian penuh pada setiap detailnya, karena ini adalah janji suci kami. Tapi kami tidak bisa melakukannya sekarang."

Nanon menatap New. "Bunda, aku ingin aku dan Ohm meluangkan waktu untuk menulis janji pernikahan kami, bukan janji yang terburu-buru. Kami ingin merayakannya saat kami sudah resmi menjadi sarjana, saat kami sudah bebas dari beban akademik."

Keheningan melanda lagi. Tay dan Mew saling pandang, tampak berdiskusi lewat mata.

Akhirnya, Tay menghela napas, melembutkan ekspresinya. "Kami mengerti, Sayang. Kami bangga kalian memprioritaskan pendidikan. Tapi kami sudah booking venue untuk musim panas. Jika ditunda, kita harus mencari venue baru lagi."

"Kami bersedia menunggu, om," kata Ohm dengan yakin. "Kami akan membantu mencari venue yang lebih tepat. Yang penting, biarkan kami fokus menyelesaikan babak ini."

Mew, yang dikenal paling emosional, akhirnya angkat bicara. Ia berjalan mendekati Nanon dan Ohm, duduk di samping mereka, dan memeluk keduanya.

"Baiklah, Sayang," kata Mew dengan nada pasrah namun penuh cinta. "Kami mengerti. Kalian benar. Pernikahan harus terjadi di waktu terbaik kalian. Kami sangat bangga kalian tetap fokus pada tujuan kalian."

New tersenyum lega. "Kami akan bicara dengan WO dan menata ulang timeline. Tapi ini ada syaratnya: kalian harus tetap datang setiap kali kami butuh kalian untuk mencicipi kue atau memilih warna taplak meja!"

Nanon dan Ohm langsung tersenyum lebar.

"Siap, Bunda!" jawab Nanon serempak dengan Ohm.

"Terima kasih banyak, Ayah, Bunda, Om Gulf, Tante Mew," kata Ohm, merasa sangat lega. "Kami janji, ini akan menjadi pernikahan yang layak ditunggu."

Kini, dengan restu orang tua dan beban di pundak yang sedikit terangkat, Nanon dan Ohm bisa kembali fokus pada Tugas Akhir mereka. Mereka tahu, di ujung lorong penelitian yang gelap ini, bukan hanya kelulusan yang menanti, tetapi juga pernikahan impian yang mereka yakini akan menjadi babak paling indah dalam takdir mereka. Mereka kembali ke perpustakaan malam itu, tidak lagi hanya memikirkan sampel dan data, tetapi juga masa depan yang semakin jelas dan indah.






Jnagan Lups  Like dan Komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang