Malam itu datang membawa dingin yang lebih menusuk. Setelah makan malam dengan menu sederhana yang dimasak bersama, seluruh peserta berkumpul di area api unggun yang sudah menyala besar, menerangi panggung darurat yang dihiasi lampu-lampu kecil.
Suara riuh, tepuk tangan, dan sorakan menjadi latar belakang saat satu per satu kelompok menampilkan kebolehannya. Ada drama komedi yang mengocok perut, tarian energik, dan beberapa pertunjukan musik solo.
Kelompok Nanon mendapat giliran tampil menjelang akhir. Nanon merasakan lututnya lemas. Ia terus meremas tepi jaketnya, berusaha meredakan gugup.
"Hei," panggil Ohm pelan, menyadari kegelisahan Nanon. Ia berdiri di sebelah Nanon, di balik kerumunan penonton yang sedang menikmati penampilan kelompok lain. "Rileks. Ingat, anggap aja cuma ada kita berdua."
Nanon mendongak. Di bawah cahaya api unggun yang berkedip, mata Ohm tampak lebih intens dan menenangkan. "Tapi... banyak banget orang, Ohm."
"Justru itu. Anggap mereka semak-semak, dan kamu hanya fokus ke senar gitarku." Ohm menyentuh punggung tangan Nanon dengan ujung jarinya, sebentar, sebelum menariknya kembali. "Aku di sini."
Tiba-tiba, panitia memanggil nama kelompok mereka.
"Baik! Giliran berikutnya, kita sambut penampilan musik akustik dari Kelompok Tenda Biru! Dengan performer utama: Nanon dan Ohm!"
Sorak-sorai langsung terdengar. AJ, JJ, dan Fiat berteriak paling kencang di barisan depan.
Nanon menarik napas panjang. Ia dan Ohm berjalan menaiki panggung. Ohm duduk di kursi kecil, menata gitar akustiknya. Nanon berdiri di tengah, mengambil posisi di sampingnya. Ia melirik sekilas, dan Ohm memberinya senyum kecil yang berhasil meluluhkan setengah kegugupannya.
Petikan pertama gitar Ohm terdengar. Melodi yang mereka pilih sebuah lagu tentang harapan dan kebersamaan mulai mengalun, memenuhi udara malam yang dingin.
Nanon memejamkan mata sebentar, mengumpulkan keberanian. Ketika ia membuka mulut, suaranya keluar. Awalnya sedikit bergetar, tetapi seiring petikan gitar Ohm yang semakin mantap, suara Nanon mengalir, jernih dan hangat.
Ohm memainkan gitarnya dengan penuh perasaan. Ia sesekali melirik Nanon, bukan untuk memandu, melainkan untuk memberikan isyarat penyemangat. Suara Nanon ternyata jauh lebih indah di panggung. Ada kelembutan sekaligus kekuatan di setiap lirik yang ia sampaikan.
Saat lagu mencapai bagian chorus terakhir, Nanon membuka matanya, dan tanpa sadar, ia menatap lurus ke mata Ohm. Di sana, di tengah panggung yang remang-remang, seolah semua orang menghilang. Hanya ada Nanon, Ohm, suara gitar, dan lagu yang mereka bagi.
Lagu berakhir. Hening sejenak, lalu...
"BRAVOOOO!!!"
Tepuk tangan dan sorakan meledak. Fiat, AJ, dan JJ sampai melompat-lompat saking bangganya. Wajah Nanon memerah total, antara malu dan bahagia. Ia membungkuk dalam-dalam, sementara Ohm berdiri dan menepuk bahu Nanon, lalu membungkuk bersama.
Mereka turun dari panggung diiringi pujian.
"Gila, Nanon! Suara kamu tuh kayak suara malaikat!" puji AJ berlebihan.
"Aku nggak nyangka. Kalian harus duet lagi setelah ini!" timpal JJ.
Nanon hanya bisa tersenyum lebar. Ia menoleh ke Ohm. "Makasih. Kalau nggak ada kamu, aku nggak akan berani nyanyi."
"Sama-sama," jawab Ohm, suaranya sedikit serak. "Aku juga ngerasa vibe-nya pas banget. Gitaranku jadi lebih hidup."
Tak lama setelah pertunjukan selesai, suasana tiba-tiba berubah. Lampu-lampu panggung dimatikan. Hanya api unggun yang tersisa menyala, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan menakutkan.
Panitia kembali berdiri di depan.
"Baik, teman-teman," kata panitia dengan suara yang sengaja dibuat berat. "Tepat pukul 12 malam ini, kita akan memulai Jurit Malam!"
Semua peserta diminta merapikan diri dan bersiap. Aura ketegangan langsung menyelimuti perkemahan. Beberapa peserta mulai berbisik panik.
"Oke, game time," bisik Fiat, yang tiba-tiba terlihat tegang. "Nanon, kamu jangan jauh-jauh dari kita, ya."
Nanon mengangguk cepat. Jantungnya mulai berdebar kencang. Ia teringat janjinya dengan Ohm.
Panitia menjelaskan teknisnya: mereka akan berjalan berdua, memasuki jalur hutan yang sudah ditentukan, mencari 5 pos yang harus dilewati, dan menjawab teka-teki dari 'penjaga malam' di sana. Mereka akan dilepas setiap 5 menit.
"Pasangan pertama, silakan maju!"
Satu per satu, kelompok dilepas. Kelompok Nanon mendapat giliran agak di tengah. Fiat dipasangkan dengan AJ, dan JJ sendirian di barisan belakang mereka (aturan panitia mengharuskan mereka berpasangan kecuali jumlah kelompok ganjil).
"Oke, kita duluan," kata Fiat tegang. "Semoga kita nggak nyasar, guys. Doain!"
Nanon dan Ohm menunggu di belakang. Waktu terasa melambat. Angin malam membawa suara-suara aneh dari dalam hutan.
Nanon, yang benar-benar takut, tanpa sadar mencengkeram lengan Ohm. "Ohm... aku serius, aku nggak kuat."
Ohm menoleh, melihat wajah Nanon yang pucat di bawah sinar bulan. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya melepaskan genggaman Nanon dari lengannya, lalu menggenggam tangan Nanon.
"Janji," kata Ohm, suaranya rendah dan meyakinkan. "Aku nggak akan ninggalin kamu. Pegang erat."
Tangan Ohm terasa besar dan hangat, sedikit kasar karena sering memetik gitar. Kehangatan itu menjalar, menenangkan ketakutan Nanon.
"Kelompok terakhir!" teriak panitia. "Nanon dan Ohm, silakan masuk!"
Dengan senter di tangan, dan tangan Nanon erat dalam genggaman Ohm, mereka melangkah maju, menuju kegelapan pekat yang menelan pohon-pohon pinus. Suara api unggun perlahan meredup di belakang. Mereka memasuki hutan, di mana satu-satunya yang menemani mereka hanyalah suara jangkrik, hembusan angin, dan detak jantung yang berpacu.
Jangan Lupa Like dan Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Подростковая литератураNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
