Pos 2: Ujian Kebenaran
Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di Pos 2. Pos ini berada di area terbuka kecil, di mana sebuah lentera minyak diletakkan di atas tunggul pohon, memberikan cahaya kekuningan yang remang-remang. Panitia di pos ini mengenakan jubah putih, memberikan kesan misterius.
"Kalian berdua," kata panitia dengan suara mendesis. "Ujian di pos ini adalah Ujian Kebenaran."
Nanon mengeratkan genggamannya pada Ohm.
"Satu pertanyaan untuk masing-masing. Kalian harus menjawab jujur. Tidak boleh berbohong, atau kalian harus mengulang dari awal."
Panitia menatap Nanon. "Pertanyaan untukmu: Apa hal paling menakutkan yang kamu sadari tentang dirimu akhir-akhir ini?"
Nanon terdiam. Matanya bergetar. Ia menatap Ohm sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke lentera.
"Hal paling menakutkan..." Nanon menarik napas. "Adalah... aku mulai merasa nyaman dan terlalu bergantung pada kehadiran seseorang. Dan kalau dia hilang atau pergi, aku takut aku tidak tahu bagaimana cara berdiri lagi."
Panitia itu hanya mengangguk, tanpa ekspresi.
Kini giliran Ohm. "Pertanyaan untukmu: Jika kamu diberikan pilihan, tetap menjadi teman baik, atau mengambil risiko kehilangan segalanya demi sebuah perasaan yang lebih dalam, mana yang kamu pilih?"
Ohm tidak ragu. Ia menatap lurus ke mata panitia, dan genggamannya pada tangan Nanon semakin erat, hampir protektif.
"Aku akan mengambil risiko kehilangan segalanya. Karena hidup tanpanya yang jujur, jauh lebih tidak berarti daripada mencoba bersamanya dengan sepenuh hati."
Panitia itu terdiam sejenak. Lalu, ia tersenyum tipis. "Jawaban yang jujur, dan berani. Lanjut ke Pos 3. Ikuti jalur di sebelah kanan."
Pos 3: Jalan Memutar
Perjalanan ke Pos 3 terasa lebih sepi. Mereka harus menuruni lereng kecil yang licin. Karena tanahnya becek, Ohm berjalan di depan, memastikan setiap langkah Nanon aman.
"Aku nggak nyangka kamu seberani itu jawabnya," bisik Nanon.
"Kamu juga," balas Ohm. "Jawabanmu yang tentang ketergantungan... itu berarti banyak hal."
"Itu... hanya perasaanku saat kamu hilang tadi," elak Nanon pelan, meski ia tahu itu lebih dari sekadar ketakutan di hutan.
"Aku tahu," kata Ohm lembut. "Dan jawabanku di Pos 2 tadi... itu juga bukan cuma karena aku nggak mau kamu hilang di hutan. Itu..." Ohm terdiam sejenak, mencari kata yang tepat. "Itu untuk segalanya. Aku nggak akan tega melihatmu menjauh."
Mereka tiba di sebuah jembatan kayu kecil yang bergoyang saat diinjak. Di tengah jembatan, berdiri panitia ketiga dengan masker hitam, memegang gulungan kertas.
"Pos 3: Jalur Memutar," kata panitia itu. "Jalur utama ke Pos 4 sudah diblokir. Kalian harus menyelesaikan teka-teki ini untuk mendapatkan peta jalur alternatif."
Teka-teki itu cukup sulit dan membutuhkan waktu lama, melibatkan perhitungan waktu dan arah kompas. Setelah 15 menit berkutat, mereka berhasil menjawabnya dan mendapatkan peta buram.
"Hanya ada satu senter," kata Nanon khawatir sambil menunjuk peta. "Gimana kalau kita salah baca arah?"
"Kita harus percaya satu sama lain," kata Ohm. "Kamu lihat angkanya, aku lihat pohonnya. Jangan panik. Kita pasti sampai."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
