Hari Senin pagi datang dengan lembut. Udara belum terlalu panas. Di sekolah, murid-murid berjalan memasuki kelas dengan energi baru setelah akhir pekan. Di kelas 12 IPA 3, Nanon dan Fiat duduk berdampingan seperti biasa.
Fiat melirik Nanon yang sedang sibuk mengatur spidol warna di mejanya.
“Eh, kamu serius banget. Mau jadi guru pengganti, Non?”Cetus Fiat
Nanon menoleh dan tertawa kecil. “Buat bikin catatan biar lebih enak dibaca. Aku belajar semalam sama Ohm, banyak yang aku baru paham.”
Fiat mengangguk. “Wah, ternyata cinta juga bisa jadi motivasi ya.”
Nanon menyikut Fiat pelan. “Cinta apaan, fokus dulu sama ujian. Minggu depan lho!”
“Tenang,” Fiat mengangkat tangan seperti menyerah, “aku juga udah belajar. Tapi kalau belajar sambil ditemani senyuman kayak Ohm, mungkin aku juga rajin.”
Mereka tertawa bersama. Tak lama guru Biologi masuk, dan suasana kelas mulai tenang. Pelajaran berlangsung lancar, dan waktu terasa cepat berlalu.
Bel istirahat pun berbunyi.
Fiat berdiri lebih dulu. “Ayo kantin? Tapi jangan lihat Ohm berantem lagi ya kayak kemarin, capek gue ngelihat cowok ganteng ribut!”
Nanon tertawa kecil. “Iya, iya. Kali ini kita cari tempat yang tenang aja.”
Mereka menuju kantin, duduk di bangku pojok sambil menikmati risol dan teh manis. Tak lama, Ohm datang menghampiri dengan Win.
“Nanon, kamu udah makan?” tanya Ohm sambil duduk di sebelahnya.
“Udah, ini baru nyemil aja,” jawab Nanon.
Fiat langsung berdiri sambil membawa nampan. “Oke deh, aku pamit dulu ya, kalian pasti mau ngobrol. Jangan lama-lama, istirahat cuma 20 menit!”
Setelah Fiat pergi, Ohm menatap Nanon dengan senyum hangat.
“Oh iya, kamu ingat kan rencana hari ini?Kata ohm
Nanon mengangguk. “Iya, kamu udah ngomong ke papa-mama aku, kan?”
“Udah. Katanya mereka siap jam 6. Papa dan mamaku juga senang banget mau ketemu keluarga kamu.”saut ohm
Nanon menghela napas pelan. “Aku agak grogi. Tapi semoga aja semua lancar ya.”
Ohm menyentuh tangan Nanon singkat di bawah meja, sekadar menenangkan. “Tenang. Keluarga kita udah cocok dari dulu, cuma belum pernah duduk satu meja.”
Sore Hari Di Rumah Keluarga Nanon
Tepat pukul 6 sore, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah keluarga Tay dan New. Dari dalam, Ohm keluar sambil membantu Gulf dan Mew turun dari mobil. Win juga ikut malam ini.
Tay yang sedang merapikan dasi di ruang tamu langsung berjalan ke pintu bersama New. Pintu dibuka lebar dengan senyuman hangat.
“Selamat malam! Wah, akhirnya kita bisa kumpul juga,” sapa Tay dengan ramah.
“Selamat malam, Kak Tay. Lama nggak ketemu,” jawab Mew sambil tersenyum.
New memeluk Gulf hangat. “Terima kasih udah mau datang. Rumah kami sederhana, tapi penuh cinta.”
“Ohh, ini sih rumah yang hangat,” sahut Gulf. “Pas banget buat ngobrol dari hati ke hati.”
Pluem dan Franks juga muncul dari dalam, menyambut Win dan Ohm dengan pelukan ringan.
Meja makan sudah ditata rapi. Makanan khas rumahan seperti sop ayam, tumis buncis, tahu goreng, dan sambal buatan New menghiasi meja.
“Silakan duduk,” ucap New sambil menuang air putih ke gelas-gelas.
Saat semua duduk, suasana langsung cair.
Mew membuka pembicaraan. “Ohm cerita banyak soal Nanon. Kami senang dia bisa ketemu seseorang yang bikin dia tenang dan lebih fokus.”
Tay tersenyum. “Nanon juga berubah. Dia jauh lebih terbuka sekarang. Kami juga berterima kasih Ohm bisa jadi bagian dari perjalanan hidup Nanon.”
Gulf menimpali. “Anak-anak sekarang memang luar biasa. Kadang kita cuma perlu jadi pendengar yang baik untuk mereka.”
“Betul,” sambung New.
“Kami tidak membatasi, tapi mendampingi. Supaya mereka tetap tahu arah.”saut New
Percakapan mengalir begitu alami. Sesekali tawa pecah saat Franks mengeluarkan candaan khasnya, atau saat Pluem mengungkap masa kecil Nanon yang lucu.
Nanon dan Ohm hanya bisa saling pandang dari ujung meja, merasa hangat dalam hati mereka masing-masing. Dua keluarga, satu meja, dan satu harapan: anak-anak mereka bisa saling mendukung, bertumbuh, dan tetap menjaga nilai-nilai yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Malam Menjelang Momen Setelah Makan
Setelah makan malam, semua berpindah ke ruang tamu. Win dan Franks ngobrol soal musik. Pluem dan Gulf membahas tempat kopi baru. Tay dan Mew bicara tentang dunia kerja. Sementara itu, Nanon dan Ohm duduk di teras depan, ditemani secangkir cokelat panas.
“Gimana menurut kamu?” tanya Ohm pelan.
Nanon tersenyum lembut. “Aku nggak nyangka semuanya bisa sesantai ini.”
“Aku juga. Aku kira bakal tegang,” Ohm tertawa kecil.
Nanon menyandarkan kepalanya ke bahu Ohm sejenak. “Kalau semua kayak gini terus, aku pengen hari-hari kita tenang aja.”
Ohm mengangguk. “Kita jaga bareng-bareng ya. Apapun nanti, aku nggak akan pergi.”
Nanon mengangkat wajahnya menatap Ohm. “Kamu serius?”
“Lebih serius dari ujian minggu depan.”kata ohm
Dengan canda kecil
Nanon tertawa kecil. “Oke. Tapi kalau kamu lupa rumus fisika, jangan salahin aku ya.”
Mereka tertawa bersama. Di bawah cahaya lampu teras yang hangat, diiringi suara jangkrik dan semilir angin, dua hati muda itu perlahan menyatu tanpa perlu terburu-buru, tanpa konflik, hanya tenang dan saling percaya.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
