part 39

57 2 0
                                        

Bus melaju dengan tenang, meninggalkan hiruk pikuk kota yang perlahan berganti menjadi pemandangan pepohonan rindang dan sawah yang terhampar luas. Cahaya matahari pagi masuk lewat jendela, membentuk pola cahaya hangat di lantai bus. Suara mesin berpadu dengan desiran angin dari AC yang membuat suasana di dalam terasa nyaman.

Nanon duduk di samping jendela, bahunya hampir bersentuhan dengan Ohm. Sejak tadi, ia sibuk menatap pemandangan di luar sambil sesekali menguap kecil. Rasa lelah mulai menyelimuti tubuhnya wajar saja, semalam ia sibuk menyiapkan perlengkapan kemah hingga larut.

Ohm melirik dan tersenyum tipis. “Kamu ngantuk, ya?”

Nanon mengangguk pelan, matanya setengah terpejam. “Hmm… sedikit… nggak… ah… ya, ngantuk banget, ternyata.”

“Tidur aja kalau mau. Aku jagain,” ujar Ohm sambil sedikit memiringkan tubuhnya agar lebih nyaman jika Nanon mau bersandar.

Nanon sempat ragu, namun akhirnya ia menghela napas, lalu menutup mata. Perlahan, kepalanya miring hingga bersandar di bahu Ohm. Jaket Ohm yang lembut dan hangat membuatnya semakin betah.

Ohm menahan senyum, membiarkan Nanon terlelap. Sesekali ia mengintip wajah Nanon yang terlihat damai. “Tidur nyenyak, ya. Biar nanti pas sampai kamu semangat,” bisiknya nyaris tak terdengar.

Perjalanan berlangsung tenang. Beberapa mahasiswa lain tertawa pelan sambil bercerita, ada juga yang tertidur. Bus sesekali melewati jalan berliku, tapi Ohm menahan tubuhnya agar Nanon tetap nyaman di bahunya.

Satu jam pun berlalu, dan perlahan bus mulai melambat. Suara roda menggesek kerikil terdengar, menandakan mereka sudah hampir tiba di tujuan.

Ohm menepuk bahu Nanon pelan. “Nanon… bangun, kita udah sampai.”

Nanon bergumam pelan, membuka matanya sedikit. “Hmm… udah sampai?”

“Iya. Yuk, turun. Nanti keburu rame,” kata Ohm sambil tersenyum, membantu Nanon duduk tegak.

Begitu turun dari bus, udara segar pegunungan langsung menyapa. Aroma tanah basah dan daun pinus memenuhi udara. Di depan mereka terbentang lapangan luas yang dikelilingi hutan, dengan beberapa area datar yang sudah disiapkan untuk mendirikan tenda.

Panitia, dengan rompi oranye cerah, berdiri di tengah lapangan sambil membawa pengeras suara.
“Selamat datang di lokasi perkemahan! Silakan berkumpul sesuai kelompok masing-masing. Kami akan memberikan arahan singkat sebelum kalian mulai membangun tenda,” ujar salah satu panitia.

Kelompok Ohm dan Nanon pun berkumpul. Fiat berdiri sambil menahan topi yang hampir terbang tertiup angin. “Wah, udaranya segar banget di sini,” katanya.

AJ menambahkan, “Iya, kayaknya nanti malam bakal dingin banget. Untung bawa selimut tebal.”

Panitia melanjutkan arahan, “Setiap kelompok akan membangun dua tenda. Tenda pertama untuk cowok, tenda kedua untuk cewek. Gunakan peralatan yang sudah disediakan, dan pastikan tenda berdiri kokoh karena kita akan menginap di sini selama tiga malam.”

Setelah arahan selesai, mereka bergerak ke area yang sudah ditentukan. Dua gulungan tenda besar, tali, dan pasak sudah menunggu.

Fiat langsung membuka gulungan tenda cowok. “Oke, tenda ini buat kita, Ohm. AJ, JJ, bantuin pasang tiangnya, ya.”

Ohm mengangguk, lalu menoleh pada Nanon. “Non, kamu sama Dreka mulai pasang bagian cewek, ya. Tapi kalau susah, panggil aku.”

Nanon tersenyum. “Hehe, tenang aja. Aku kan udah latihan pas waktu ospek dulu.”

Saat membangun, suasana penuh tawa. AJ sempat salah pasang tali, membuat tendanya miring, dan Fiat langsung menegur sambil tertawa.
“Woy, itu bukan tiang jemuran, salah narik tali!”

Sementara di tenda cewek, Nanon mencoba mengikat tali ke pasak tanah. Ohm yang melihat dari kejauhan akhirnya menghampiri.
“Nih, aku bantu,” katanya sambil jongkok.

Nanon menggeleng pelan. “Nggak usah, Ohm. Aku bisa kok. Lihat nih…” Ia menarik tali dengan kuat, lalu memasang simpul yang cukup rapi. “Tadaaa! Bagus kan?”

Ohm tersenyum lebar. “Wah, bagus. Kamu lulus jadi tukang tenda.”

Tak butuh waktu lama, kedua tenda berdiri megah di bawah cahaya matahari siang. Lembutnya angin gunung membuat kain tenda sedikit bergoyang. Mereka semua berdiri di depannya sambil menghela napas puas.

“Besok pagi kita bisa lihat matahari terbit dari sini,” ujar Nanon sambil memandang pegunungan di kejauhan.

Ohm meliriknya, tersenyum hangat. “Kalau kamu bangun tepat waktu, ya.”

Nanon terkekeh. “Eh, itu tantangan, ya?”

Ohm mengangguk. “Tantangan manis.”

























Jangan lupa like dan komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang