Pagi hari yang cerah menyambut keluarga besar Mew dan Gulf di taman luas yang akan menjadi lokasi pernikahan Nut dan Peach. Langit tampak bersih tanpa awan, seolah tahu bahwa hari itu harus sempurna. Rumput hijau segar terbentang rapi, dihiasi deretan bangku putih, kelopak bunga di setiap sisi lorong tengah, dan panggung pelaminan yang masih dalam proses penataan.
Gulf berdiri sambil memegang clipboard, memeriksa satu per satu daftar kebutuhan. Di sampingnya, New membantu mengatur para vendor.
“Sound system udah dicek?” tanya Gulf pada salah satu kru.
“Sudah, Pak. Mic utama dan musik latarnya juga oke.”kata kru nya
“Good. Tay, kamu udah cek kursi untuk tamu VIP?” tanya Gulf lagi, kali ini kepada Tay yang sedang mengatur meja kecil untuk keluarga Peach.
“Udah. Semua sesuai permintaan. Termasuk tempat duduk keluarga besar Peach dari Chiang Mai.”kata Tay
Sementara itu, Nut tampak berdiri di tengah panggung kecil, mengenakan kemeja putih dan celana hitam, mencoba latihan proses masuk pelaminan. Di sampingnya, Peach mengenakan Baju semi-formal berwarna putih peach lembut. Wajahnya berbinar, tapi ada sedikit gugup di matanya.
“Aku takut jatuh pas jalan,” bisik Peach pelan.
Nut menggenggam tangannya, menatapnya lembut. “Kalau kamu jatuh, aku jatuh bareng. Nanti kita jatuh cinta lagi di pelaminan.”
Peach tertawa pelan. “Aduh, cheesy banget kamu.”
Di bangku penonton, Nanon duduk bersama Ohm, Pluem, Franks, Jimmy, dan Gemini. Mereka memerhatikan latihan dengan antusias.
“Duh, Kak Nut romantis banget. Gimana aku bisa dapet cowok kayak gitu?” kata Gemini dengan wajah iri.
Nanon langsung melirik Ohm dan menyenggolnya. “Tuh, dengerin. Contoh tuh Nut.”
Ohm mengangkat bahu santai. “Aku kan lebih ke tipe yang praktik langsung, bukan banyak omong.”
Pluem tertawa. “Yang penting jangan terlalu praktik di tempat umum aja, ya.”
Jimmy yang duduk di sebelah Franks ikut menyahut, “Aku suka konsep acaranya. Outdoor, elegan, tapi tetap simple.”
“Gue suka bagian makanan. Kateringnya gila sih. Tadi nyoba canape-nya satu, eh jadi makan tujuh,” tambah Franks sambil garuk kepala.
Win datang dari arah tenda kecil, diikuti Bright. Win membawa dua botol air mineral dan menyerahkannya ke Nanon dan Ohm.
“Nih, haus kan? Jangan cuma duduk jadi penonton, nanti kalian juga bantu jaga booth souvenir,” ujar Win.
Bright mengangguk setuju. “Kita semua punya peran, bro. Acaranya besar. Ini bukan cuma tentang Nut dan Peach, ini tentang kita semua sebagai keluarga.”
Tak lama kemudian, Tay memanggil semua untuk latihan prosesi masuk keluarga.
“Pluem, Franks, Jimmy, Win, kalian ikut rombongan keluarga pria ya. Nanon, Gemini, kamu nanti bagian pendamping tamu undangan.”
“Oke, noted!” sahut mereka bersamaan.
Saat latihan berlangsung, Ohm berdiri di sisi lorong sambil sesekali melihat ke arah Nanon yang sedang membagi brosur kecil. Wajah Nanon terlihat serius, tapi tetap manis. Ohm berjalan mendekat pelan.
“Nan,” bisiknya, “Kamu kelihatan cantik banget hari ini.”
Nanon melirik cepat, lalu pura-pura sibuk. “Nggak bisa gombal sekarang. Aku kerja.”
“Tapi nanti malem… kita jalan sebentar, yuk? Nggak jauh. Cuma pengen ngobrol berdua aja.”
Nanon tersenyum kecil, “Oke. Tapi jangan lama. Besok acara penting.”
Menjelang sore, semua latihan selesai. Gulf dan Mew mengumpulkan semua anggota keluarga.
“Besok kita mulai pukul sembilan pagi,” kata Mew. “Pastikan semua sudah siap jam delapan. Kita punya banyak hal untuk ditata.”
Gulf menambahkan, “Kalian semua udah bantu dengan luar biasa. Kami bangga punya keluarga kayak kalian. Yuk, sekarang istirahat. Besok kita rayakan hari bahagia bersama.”
Semua bertepuk tangan, tertawa, dan berpelukan ringan. Malam itu ditutup dengan makan malam santai bersama di taman, ditemani lampu gantung dan iringan musik akustik dari teman Nut.
Tak ada yang terburu-buru. Tak ada yang merasa asing. Semua terasa hangat. Esok adalah hari besar Nut dan Peach. Tapi malam ini, adalah bukti bahwa cinta, kebersamaan, dan keluarga adalah segalanya.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
