part 32

43 3 0
                                        

Pagi itu, matahari bersinar lembut di atas langit kampus yang mulai dipadati mahasiswa. Suasana halaman utama tampak lebih ramai dari biasanya. Sebuah meja panjang telah dipasang dekat gazebo dengan spanduk bertuliskan:
“Pendaftaran Kemah Mahasiswa — Membangun Kebersamaan dan Kenangan”

Dari kejauhan, Nanon melangkah ringan di samping Ohm. Keduanya tampak santai, mengenakan pakaian kasual. Nanon dengan hoodie krem dan celana jeans, sementara Ohm memakai kaos polos dan jaket denim, langkahnya sedikit lebih panjang dari Nanon tapi selalu memperlambat diri agar tetap sejajar.

“Nanon!”
Teriakan kecil terdengar. Dari arah taman, Fiat, AJ, dan JJ melambai semangat, duduk di bangku taman sambil memegang brosur kemah.

Nanon segera berjalan menghampiri mereka, sementara Ohm tersenyum kecil lalu berdiri agak di belakang.

Fiat mengangkat alis, “Jadi ikut?”

Nanon mengangguk ceria. “Iya dong! Dan bukan cuma aku...”
Ia menoleh ke belakang, menunjuk Ohm yang sedang memainkan kunci mobilnya.
“Dia juga ikut.”

AJ langsung tertawa. “Wah, makin seru nih! Ada abang-abangan kampus yang ikut juga.”

JJ menimpali, “Kita tinggal bikin grup aja nih buat koordinasi tenda dan logistik.”

Nanon mengangguk sambil menepuk bahu Fiat, “Abis ini kita daftar bareng ya. Aku tinggal isi form-nya. Ohm juga mau daftar sekarang.”

Ohm hanya mengangguk singkat dengan senyum tipisnya, lalu mendekat ke Nanon dan membisik pelan, “Aku beli air dulu ya? Kamu pasti belum minum.”
Nanon hanya mengangguk kecil. “Makasih yaa...”

Ohm pun pergi menuju vending machine di sisi gedung kampus. Sementara itu, Nanon mulai mengisi formulir pendaftaran di meja registrasi bersama teman-temannya. Beberapa menit berlalu, udara terasa nyaman. Sesekali terdengar suara tawa mahasiswa yang datang dan pergi.

Saat sedang menunggu brosur panduan diberikan panitia, Nanon merasa ada seseorang berdiri di sampingnya. Ia menoleh… dan terdiam sejenak.

Seorang laki-laki tinggi, mengenakan kaos hitam polos dan celana kargo, menatapnya dengan senyum nostalgia.

“Nanon?”
Suara itu... sangat dikenalnya.

Chimon?!
Suara Nanon naik setengah oktaf karena kaget.

Chimon tertawa kecil. “Masih inget aku ternyata.”
Nanon tersenyum lebar. “Gila... udah lama banget, ya! Kita terakhir ketemu tuh pas kelulusan SMA.”

“Iya, udah tiga tahun, lebih malah. Aku gak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Kamu kuliah di sini juga?”kata chimon

“Iya. Aku baru semester dua, kamu?”kata nanon

“Semester empat. Aku transfer ke sini dari kampus lama. Baru mulai minggu lalu.”kata chimon

Nanon tersenyum kaku, lalu membenarkan tali tasnya. “Wah, keren ya. Kamu masih sama kayak dulu... tinggi banget.”

Chimon tertawa lagi, tapi kali ini tawanya terdengar agak pelan. “Kamu juga gak banyak berubah. Yang dulu kamu males sekarang dah ceria dan rajin... masih bikin suasana hangat.”

Nanon hendak menjawab, tapi langkah kaki menghentikannya.
Ohm datang dengan dua botol air di tangan.
Ia mendekat dan berdiri di samping Nanon, menyerahkan satu botol.

“Nih, air dingin. Tadi nyari yang rasa lemon kayak favorit kamu, tapi habis.”kata Ohm sambil menyodorkan minuman nya

“Ohm... makasih.”
Nanon mengambil botol itu, lalu sedikit menoleh ke arah Chimon.

“Oh ya, kenalin. Ini Ohm.” Nanon berbicara lebih tenang, namun senyum di wajahnya tak bisa disembunyikan. “Tunangan aku.”

Chimon sempat menoleh ke arah Ohm. Mereka saling menyapa dengan anggukan kepala.

“Oh...” Chimon mencoba tersenyum, tapi matanya memudar.
“Senang ketemu kamu lagi, Non. Dan... selamat ya buat pertunangannya.”
Suaranya terdengar tenang, tapi pelan, seperti mengusap luka lama yang belum sepenuhnya kering.

“Terima kasih, Mon... kita masih bisa ngobrol nanti ya? Kamu ikut kemah juga?”

Chimon mengangguk. “Iya. Tapi... kayaknya aku balik duluan. Masih ada urusan di fakultas.”

“Oh… oke.”

Chimon mengangguk singkat ke Ohm dan teman-teman Nanon, lalu berbalik. Langkahnya tidak tergesa, tapi ada sedikit jeda di setiap hentakan kaki seolah sedang menahan sesuatu.

Ohm memperhatikan punggung Chimon sesaat, lalu menatap Nanon. “Dia teman lama kamu?”

Nanon mengangguk pelan. “Iya... teman SMA. Dulu pernah deket, tapi nggak pernah bener-bener bareng.”

Ohm tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya meraih tangan Nanon dan menggenggamnya lembut, memberi kehangatan tanpa kata.

Nanon menatap genggaman itu, lalu tersenyum kecil.
“Thanks udah datang pas banget tadi.”

Ohm hanya tersenyum. “Kebetulan aja... atau mungkin semesta tahu kamu butuh botol air dan sedikit perlindungan.”

Nanon tertawa kecil. “Kamu selalu punya alasan aneh buat sok romantis.”

Dan di bawah langit kampus yang mulai cerah, mereka melanjutkan pendaftaran. Tak ada drama, hanya potongan kecil masa lalu yang muncul lalu pergi, tertinggal di antara tawa dan tangan yang saling menggenggam erat.
























Jangan lupa like dan komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang