Sudah seminggu berlalu sejak ujian terakhir selesai. Hari-hari yang biasanya penuh dengan tekanan kini berubah menjadi masa tenang dan harap-harap cemas. Para siswa sudah memberikan yang terbaik, dan sekarang yang tersisa hanya menunggu pengumuman hasil kelulusan.
Di Sekolah
Sinar matahari menyinari halaman sekolah tempat beberapa siswa berkumpul. Meski ujian sudah usai, sekolah masih menjadi tempat mereka bertemu dan berbagi rasa.
Nanon duduk di bawah pohon besar bersama Fiat, Gemini, dan Fourt. Tawa mereka terdengar ringan.
"Rasanya masih nggak percaya deh kita udah lewatin semuanya," kata Fiat sambil melemparkan ranting kecil ke rumput.
"Iya, kayak baru kemarin kita belajar bareng di rumah kamu, Nanon," tambah Gemini, menoleh ke sahabatnya.
Nanon tersenyum lembut, mengangguk. "Seminggu ini kayak hibernasi. Tidur cukup, makan tenang, nggak dikejar soal."
Fourt, yang datang bersama Ohm, menambahkan, "Tapi sekarang ganti deg-degan. Deg-degan nunggu nilai."
Ohm tertawa pelan. “Kalau nggak lulus, paling juga kita belajar lagi. Tapi yakin kok, kita udah maksimal.”
“Paling nggak, habis ini kita bisa mikirin masa depan masing-masing,” ujar Gemini dengan mata berbinar.
Tak jauh dari mereka, beberapa guru berdiskusi santai di depan ruang guru. Suasana sekolah berubah tenang tapi tetap hangat. Tak ada tekanan lagi, hanya harapan.
Di Rumah Nanon
Sore itu, rumah keluarga TayNew dipenuhi aroma camilan hangat. New baru saja selesai membuat bolu kukus kesukaan anak-anaknya. Di ruang tengah, Nanon, Franks, Pluem, dan Peach duduk melingkar sambil menikmati teh manis dan potongan bolu.
Fiat, yang duduk paling muda di antara mereka, tersenyum cerah. “Aduh, enak banget ini. Tante New selalu berhasil bikin kue seenak ini.”
“Panggil Mama aja, Fiat. Sekarang kamu udah bagian dari keluarga kita,” sahut New sambil tertawa kecil.
Tay muncul dari balik pintu sambil membawa toples kue kering. “Kalau kamu doyan, bawa pulang sekotak ya. Buat papi dan mami juga.”
Fiat mengangguk senang. “Wah, makasih banyak, Papa Tay.”
Nanon menatap Fiat dengan kagum. “Fiat kelihatan cocok banget jadi bagian dari keluarga ini.”
New duduk di samping Nanon dan mengelus rambutnya. “Kalian juga akan sampai di titik itu. Tapi nikmati masa muda dulu. Belajar, bersenang-senang, dan membangun diri.”
Nanon menatap ibunya dan tersenyum kecil. Dalam hatinya, ia merasa bersyukur.
Di Rumah Ohm
Sementara itu di rumah MewGulf, suasana tak kalah hangat. Di ruang keluarga, Gulf dan Peach sedang mengatur album foto pernikahan Nut. Jimmy dan Nut duduk di lantai sambil memainkan kartu remi, sesekali tertawa.
Ohm masuk dari dapur membawa dua gelas jus. Ia menyerahkannya pada Gulf dan Peach.
“Thanks, Ohm,” ucap Gulf sambil tersenyum.
Peach menoleh ke Ohm. “Eh, jadi minggu depan mau ke mana setelah kelulusan diumumin?”
“Belum tahu sih. Tapi kayaknya pengen liburan sebentar sama teman-teman. Refreshing sebelum masuk ke dunia baru,” jawab Ohm.
Nut meletakkan kartunya dan berkata, “Kamu boleh santai, tapi jangan lupa juga nyiapin diri buat langkah berikutnya. Kuliah atau kerja, dua-duanya perlu persiapan.”
Mew yang baru turun dari lantai atas ikut duduk bersama mereka. “Bener kata Kak Nut. Sekarang waktu terbaik buat nyusun rencana masa depan.”
Jimmy mencolek Ohm dan berkata, “Kalau Kak Ohm sukses nanti, jangan lupa traktir ya!”
Semua tertawa. Malam itu penuh canda dan obrolan ringan. Tak ada tekanan, hanya semangat dan cinta.
Menjelang Hari Pengumuman
Malam menjelang, dan kedua rumah keluarga besar itu terasa penuh harapan. Di kamarnya masing-masing, Ohm dan Nanon memandangi ponsel mereka, menunggu notifikasi dari sekolah.
Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari grup sekolah:
“Hasil kelulusan akan diumumkan besok pagi pukul 08.00 di website sekolah dan papan pengumuman.”
Nanon menatap layar ponselnya, lalu menoleh ke arah jendela. Angin malam mengusap wajahnya, membawa rasa campur aduk.
Di rumah Ohm, suasana juga mulai hening. Gulf mematikan lampu ruang tamu, sementara Mew memeriksa kembali jam alarm Ohm.
“Besok hari besar ya, Nak. Semoga jadi awal baru yang indah,” ucap Mew pelan sebelum menutup pintu kamar Ohm.
Ohm menarik selimut dan menatap langit-langit.
Dalam hati, ia berkata:
"Apa pun hasilnya... aku udah berjuang. Dan aku nggak sendirian."
Begitu pula dengan Nanon, yang menatap foto keluarganya di samping meja belajar. Ia tersenyum kecil dan berkata dalam hati:
"Bukan soal siapa yang lulus paling tinggi. Tapi siapa yang tetap bersinar setelahnya."
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
