Part 58

47 2 0
                                        

Sarapan dan Panggilan Telepon Wajib


Nanon sudah selesai menata meja makan saat Ohm turun. Suasana di dapur terasa sangat domestik hangat, penuh aroma kopi, dan dipenuhi senyum.

Ohm sudah berpakaian santai, kaus abu-abu dan celana training. Ia terlihat segar setelah mandi, namun matanya memancarkan kelelahan yang bahagia. Ia berjalan langsung ke Nanon, menarik Nanon ke pelukan singkat yang hangat.

"Aku mencium aroma masakan istriku," bisik Ohm, mencium rambut Nanon. "Ini jauh lebih baik dari kopi di kantin kampus."

"Duduklah, Tuan Manajer," Nanon tertawa kecil, membebaskan diri untuk menyajikan piring. "Kita harus sarapan dengan baik. Hari ini kita harus menelepon The Four Generals dan melaporkan 'keadaan'."

Mereka duduk berhadapan. Di tengah meja, cincin kawin mereka bersinar memantulkan cahaya matahari pagi yang masuk.

"Meskipun kita sudah lulus, aku merasa ujian terberat kita adalah panggilan telepon hari ini," ujar Ohm, mengoleskan mentega pada rotinya. "Aku yakin Daddy sudah menyiapkan seribu pertanyaan kode."

"Dan Bunda  pasti sudah menyiapkan timeline untuk kita mulai mencari desainer interior," timpal Nanon, menggigit rotinya. "Tapi aku lega, kita sekarang menghadapinya bersama-sama. Tidak ada lagi ketakutan sendirian."

Ohm mengulurkan tangannya di atas meja, meraih tangan Nanon. "Tidak akan pernah ada lagi ketakutan, Nan. Hanya ada kita."

Mereka sarapan dalam keheningan yang nyaman, menikmati makanan pertama mereka sebagai suami istri. Setelah selesai, Nanon mengambil dua cangkir kopi lagi, dan mereka pindah ke ruang tengah yang luas.

"Oke, siapa yang kita telepon duluan?" tanya Nanon, memegang ponselnya.

"Kita bagi tugas," usul Ohm. "Kamu telepon Ayah dan Bundamu. Aku telepon Ayah dan Bundaku. Lalu kita conference call untuk laporan akhirnya."

Nanon mengangguk setuju. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menekan nomor Tay.

(Panggilan Telepon Nanon - Tay & New)

Tay: "Halo, Sayang! Good morning! Wah, akhirnya kalian menelepon! Bagaimana? Apakah kamar pengantinnya nyaman? Apakah Ohm memperlakukanmu dengan baik?"

Nanon: (Tersipu malu, melirik Ohm) "Ayah! Kami baik-baik saja. Kamarnya sangat indah, terima kasih. Dan Ohm... dia memperlakukanku dengan sangat baik, Ayah. Kami baru selesai sarapan."

New: "Syukurlah! Oh, Nanon, Bunda sudah memikirkan! Kamu harus segera melihat rancangan kamar kerja di rumah baru kalian. Itu harus dipisahkan dari kamar tidur utama. Kalian berdua itu pekerja keras, butuh ruang fokus!"

Nanon: "Baik, Bunda. Kami akan lihat nanti. Kami harus menelepon Ayah dan Bunda Ohm dulu, ya? Sampai jumpa!"

(Panggilan Telepon Ohm - Mew & Gulf)

Ohm menekan loudspeaker karena tahu percakapan ini akan intens.

Mew: "Ohm! Anak Ayah! Gimana? Semalam menyenangkan? Ayah dengar dari Pluem, dia bilang kamu kelihatan gugup di altar, tapi tatapanmu sudah seperti harimau siap menerkam!"

Ohm: (Menghela napas, Nanon menahan tawa) "Ayah! Tolong! Kami baik-baik saja. Kami baru selesai sarapan. Kopinya buatan Nanon, enak sekali."

Gulf: "Syukurlah, Nak. Bunda lega. Oh, ya! Ayahmu sudah bicara dengan HRD perusahaan. Posisi manajer kamu sudah aktif mulai minggu depan. Tapi sebelum itu, kamu harus ajak Nanon berlibur. Honeymoon tidak bisa ditunda!"

Ohm: "Kami tahu, Bunda. Kami akan merencanakan liburan kami. Tapi kami ingin menikmati rumah baru ini dulu. Dan terima kasih banyak untuk rumah dan posisinya, Ayah."

Mew: "Tentu, Nak. Kalian pantas mendapatkannya. Tapi jangan lupakan janji kalian untuk segera memberi kami cucu. Kalian sudah menunda pernikahan, kami tidak mau menunda itu!"

Ohm mematikan telepon dengan cepat, wajahnya memerah.

"Astaga!" seru Nanon, tertawa terbahak-bahak. "Cucu? Mereka benar-benar tidak sabar!"

Ohm menjatuhkan dirinya di sofa, memeluk Nanon erat-erat. "Aku sudah bilang, ujian terberat kita ada pada mereka! Tapi setidaknya, semuanya sudah jelas. Kita punya rumah, pekerjaan, dan yang paling penting, kita punya satu sama lain."

"Jadi, Tuan Manajer," Nanon menyentuh kerah kaus Ohm. "Apa rencana kita hari ini? Berkemas? Merencanakan honeymoon? Atau..." Nanon memiringkan kepalanya, matanya dipenuhi godaan.

Ohm tersenyum nakal. Ia mendorong Nanon hingga Nanon terbaring di sofa besar itu. Ia mencondongkan tubuhnya, menyandarkan berat badannya pada Nanon.

"Aku rasa, hari ini kita harus merayakan deadline Tugas Akhir kita yang sukses, merayakan pernikahan kita yang sempurna, dan merayakan janji untuk tidak meninggalkan satu sama lain," bisik Ohm

hm, suaranya kembali serak.

"Bagaimana cara kita merayakannya?" tanya Nanon, suaranya tercekat.

Ohm mencium Nanon dengan lembut. "Kita akan menghabiskan hari ini dengan hanya fokus pada kita. Tidak ada telepon, tidak ada skripsi, tidak ada Wedding Organizer. Hanya kita, di rumah baru kita."

Ciuman itu semakin dalam, membawa semua kehangatan dan gairah pagi itu. Di ruang tengah yang cerah, di sofa baru mereka, Ohm dan Nanon memulai hari pertama mereka sebagai pasangan yang sah.

Mereka menyadari, meskipun takdir telah menuliskan kisah mereka sejak lama, babak yang paling indah dan paling mereka inginkan adalah babak yang baru saja mereka mulai tulis, bersama-sama.

Rumah baru, cinta baru, dan janji yang abadi.









Jangan Lupa Like dan Komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang