Part 51

49 5 0
                                        

Dampak di Kantin: Patah Hati yang Tersembunyi


Di tengah riuhnya kantin, Nanon dan Ohm sedang diserbu pertanyaan bertubi-tubi dari Fiat dan AJ.

"Kalian harus cerita detailnya! Perjodohan ala CEO? Apakah ini seperti cerita di komik-komik? Sejak kapan orang tua kalian tahu kalian saling suka?" cecar Fiat, matanya berbinar-binar penuh drama.

"Tunggu, tunggu!" AJ mengangkat tangannya. "Berarti semua keraguan Nanon tentang perasaanmu di kemah itu palsu? Kalian hanya bermain drama karena tahu sudah dijodohkan?"

Ohm tertawa, merangkul bahu Nanon. "Tidak ada drama, AJ. Perasaan kami tulus. Kami benar-benar tidak tahu soal perjodohan sampai kami pulang dari kemah. Perasaan kami muncul lebih dulu dari pengumuman orang tua kami."

Nanon menyenggol pinggang Ohm pelan. "Kami baru tahu setelah kami berdua resmi jadian. Itu yang membuat ini gila, tahu? Semua perjuangan kami untuk saling jujur, ternyata sudah mendapat restu dari Takdir!"

Sementara tawa dan sorakan kembali meledak di meja mereka, di luar kantin, Chimon berjalan cepat, matanya buram. Ia bahkan tidak menyadari ke mana kakinya melangkah. Suara clinking garpu dan piring, serta tawa riang Nanon, berputar-putar menyakitkan di kepalanya.

Menikah. Nanon akan menikah.

Chimon sudah menyukai Nanon sejak lama. Ia ingat saat pertama kali melihat Nanon di aula orientasi. Nanon terlihat sangat ceria, tetapi memiliki aura misterius yang membuat Chimon tertarik. Ia selalu mencoba mencari cara untuk mendekat: ikut klub yang sama, sering duduk di cafetaria yang sama, dan bahkan mengikuti perkembangan cerita Wattpad Nanon. Namun, setiap kali ia ingin memulai pembicaraan serius, Nanon selalu terlihat sibuk, atau lebih sering, sedang bersama Ohm.

Chimon berhenti di koridor yang sepi. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dingin, memejamkan mata. Selama ini, ia pikir ia bersaing dengan Ohm sebagai teman. Ia berpikir, jika Ohm dan Nanon hanya berteman, ia masih punya kesempatan. Ternyata, persaingannya bukan dengan seorang teman, melainkan dengan seorang Tunangan yang Dijodohkan oleh Keluarga Kaya Raya.

"Bodohnya aku," gumam Chimon getir, menertawakan dirinya sendiri. "Selama ini aku memendam perasaan, dan mereka sudah merencanakan segalanya."

Ia membuka mata dan melihat buku yang ia bawa: sebuah buku tentang perencanaan acara. Ironis. Ia harus merencanakan perasaannya untuk move on. Ia memutuskan: Ia harus menghindari Nanon dan Ohm setidaknya sampai hatinya benar-benar membaik.


Persiapan Tunangan: Intervensi Keluarga


Beberapa hari setelah pengumuman itu, kehidupan Nanon dan Ohm di kampus tidak lagi tenang. Mereka menjadi sorotan. Namun, tantangan terbesar mereka datang dari rumah.

Tay, New, Mew, dan Gulf  The Four Generals  sudah bergerak cepat. Mereka mengadakan pertemuan keluarga intensif hampir setiap malam.

Di suatu sore, Nanon sedang mencoba memilih motif kain untuk gaun tunangannya, ditemani New dan Gulf yang sangat antusias. Ohm sendiri sedang di ruang tamu, sedang diwawancarai oleh ketiga abangnya.

"Nanon, kamu suka warna dusty pink atau champagne?" tanya New sambil menunjukkan dua sampel kain.

"Bunda, dusty pink terlalu manis. Champagne lebih elegan," sela Gulfcepat. "Nanon cocok dengan warna-warna netral yang mahal."

Nanon tersenyum tipis. "Aku sih terserah saja, Bunda. Asal nyaman dipakai."

"Tidak bisa begitu, Sayang," kata New. "Ini adalah hari besar! Ini adalah deklarasi resmi kita ke dunia. Semuanya harus sempurna!"

Di ruang sebelah, Ohm sedang diinterogasi oleh kakak-kakaknya.

"Aku dengar kamu mau full-time jadi driver pribadinya Nanon? Jangan sampai mengganggu kuliahmu, Bro. Nanon itu pintar, kamu nggak boleh kalah IPK dengannya."tanya nut

"Sudah siapkan hadiah tunangan yang pantas? Jangan sampai kalah keren dari cincin yang dibelikan Ayah. Cincin dari kamu harus punya makna personal."kata jimmy

"Latihan dance untuk resepsi nanti sudah dimulai? Jangan sampai kamu kaku di lantai dansa, itu memalukan!"kata win

Ohm menghela napas. "Kalian ini berlebihan. Kami bahkan belum resmi tunangan. Kami masih punya kuliah dan tugas!"

Pluem dan Frank muncul dari dapur, membawa camilan.

"Santai, Ohm. Ini sudah tradisi. Kami semua melewati ini. Tapi percayalah, ini menyenangkan. Kamu akan jadi bagian dari klan besar kami."kata franks

 "Kami hanya memastikan kamu tidak kabur. Nanon itu adik kami satu-satunya. Dia permata. Jadi jaga baik-baik."kata pleum

Ohm tersenyum, mengacungkan jempol. Meskipun sibuk dan sedikit stres, Ohm merasa sangat dicintai. Perjodohan ini bukan ikatan paksa, melainkan perayaan cinta yang sudah lama terpendam.


Momen Sunyi dan Janji di Taman


Malam semakin larut. Setelah para orang tua dan kakak mereka pulang, Ohm dan Nanon kembali menyelinap ke taman belakang.

"Aku merasa seperti boneka yang didandani," Nanon menyandarkan kepalanya di bahu Ohm.

Ohm mengusap lembut lengan Nanon. "Aku tahu. Aku juga merasa seperti sedang mengikuti audisi menantu terbaik."

"Bagaimana kalau nanti setelah kita menikah, mereka tetap mengatur hidup kita?" tanya Nanon, ada nada khawatir dalam suaranya.

Ohm memutar tubuhnya agar menghadap Nanon, memegang kedua tangannya.

"Dengarkan aku, Nan. Kita berdua sudah tahu kebenarannya: kita saling mencintai. Perjodohan ini hanya mempercepat prosesnya, bukan mendikte perasaannya. Kita akan menghormati orang tua kita, tapi kita juga harus membuat batasan."kata ohm

"Maksudmu?"tanya nanon

"Setelah tunangan, kita fokus pada kuliah, dan setelah menikah, kita akan membuat rumah kita sendiri, dengan aturan kita sendiri. Kita akan hadapi mereka bersama-sama, Nan. Kita adalah tim, ingat? Tim yang sukses melewati Jurit Malam di hutan, kita pasti bisa melewati rencana pernikahan yang heboh ini."kata ohm

Nanon tertawa pelan, merasa lega. "Tim yang sukses melewati hantu di hutan, tapi belum tentu sukses memilih warna table cloth."

Ohm mendekatkan wajahnya. "Kita akan sukses memilih semuanya. Asal kita tetap bersama, dan tetap jujur."

Di bawah sinar bulan, di taman yang hening, Ohm memberikan Nanon kecupan singkat dan manis.

"Aku mencintaimu, Nanon. Dan aku tidak sabar untuk bertunangan denganmu."

"Aku juga, Ohm," bisik Nanon. "Aku nggak sabar untuk jadi istrimu."

Mereka duduk berdekatan, hati mereka penuh kepastian. Di luar sana, kampus mungkin berbisik tentang perjodohan mereka. Di sudut lain, Chimon mungkin sedang patah hati. Tapi di taman itu, di tengah malam yang dingin, Nanon dan Ohm tahu, takdir mereka sudah menyatu, dan mereka siap menghadapinya bersama.






Jangan Lupa Like dan Komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang