Setelah makan malam yang hangat, suasana rumah Ohm tetap terasa akrab dan penuh tawa. Mama Gulf, Mama New, dan Peach dengan sigap membereskan meja makan. Mereka bercakap pelan sambil menumpuk piring dan gelas kotor, lalu membawanya ke dapur untuk dicuci bersama. Sesekali terdengar suara tawa kecil mereka saat membicarakan hal-hal ringan, seperti rencana memasak menu baru atau kenangan acara keluarga sebelumnya.
Gulf tersenyum sambil meraih beberapa piring kotor.
"Yaudah, kita rapihin meja dulu, biar rapi malam ini."
New mengangguk pelan.
"Iya, nanti kalau dibiarkan, malah males nyucinya besok pagi."
Peach sudah mengambil lap untuk membersihkan meja.
"Aku beresin gelas-gelasnya ya, kalian cuci piringnya."
Gulf menoleh sebentar sambil menaruh piring ke bak cuci.
"Boleh, tapi jangan lupa keset meja sekalian. Soalnya tadi ada kuah yang netes tuh."
New tertawa kecil.
"Iya, iya, rapi banget ya kamu, Gulf."
Peach ikut tersenyum.
"Namanya juga rumah besar, kalau berantakan sedikit aja, langsung kerasa."
Di ruang tamu, Nut, Pluem, dan Jimmy duduk melingkar di sofa besar, membicarakan perkembangan perusahaan masing-masing. Suara mereka terdengar mantap namun santai, membahas ide kerja sama baru sambil sesekali tersenyum dan mengangguk. Di sudut lain, Franks dan Win tetap fokus pada layar televisi, stik game di tangan, bersaing sengit namun penuh canda dalam permainan PS mereka.
Nut membuka salah satu dokumen di tabletnya.
"Jadi, minggu depan kita fix meeting sama investor, kan?"
Pleum mengangguk mantap.
"Iya, aku udah follow up semua data keuangan. Tinggal presentasi aja."
Jimmy menimpali sambil memutar-mutar pulpen di tangannya.
"Kalau bisa, kita bawa contoh produk yang udah jadi. Biar mereka bisa lihat langsung."
Nut menghela napas ringan.
"Bener juga. Aku coba atur schedule produksi, biar bisa selesai tepat waktu."
Pleum tersenyum tipis.
"Kalau semua lancar, kita bisa mulai ekspansi tahun depan."
Jimmy mengangguk.
"Aku udah nggak sabar sih lihat perusahaan kita maju bareng."
Sementara itu, di ruang keluarga, Win dan Franks duduk bersandar di sofa sambil fokus ke layar TV.
Win tertawa kecil sambil menekan tombol kontroler.
"Kamu tuh mainnya kasar banget, pantes kalah mulu."
Franks pura-pura kesal.
"Eh, ini cuma pemanasan. Liat aja nanti aku balikin skornya."
Win menggeleng sambil tersenyum.
"Yaelah, dari tadi bilang gitu tapi nyatanya kalah terus."
Franks menatap layar dengan mata semangat.
"Oke, oke, satu ronde lagi. Kali ini serius."
Win tertawa keras.
"Siap, aku tunggu pembalasanmu, juara bertahan."
Di ruang kerja kecil yang berada dekat taman belakang, Ayah Tay dan Daddy Mew tengah mengobrol santai seperti bapak-bapak pada umumnya. Obrolan mereka mengalir dari rencana perjalanan bisnis ke luar negeri hingga cerita lama semasa kuliah dulu. Sesekali terdengar suara gelak tawa saat salah satu dari mereka mengingat kejadian lucu yang pernah dialami.
Di teras belakang, Tay dan Mew duduk santai di kursi rotan sambil memegang cangkir teh hangat.
Tay menatap ke arah halaman.
"Rumah ini nggak pernah sepi ya, tiap hari selalu rame."
Mew tersenyum.
"Iya, dan rasanya hangat aja lihat semua anak bisa kumpul."
Tay mengangguk pelan.
"Oh iya, soal bisnis luar negeri itu, aku udah kontak partner di Singapura. Mereka minat banget."
Mew terlihat antusias.
"Bagus. Kalau gitu, kita bisa mulai kerja sama di kuartal pertama tahun depan."
Tay menyeruput tehnya pelan.
"Semoga semua lancar. Aku suka kalau rencana bisa jalan mulus."
Mew tersenyum hangat.
"Santai aja, kita udah pengalaman kok."
Sementara itu, Ohm menggandeng tangan Nanon dan membawanya naik ke lantai atas. Mereka menuju balkon luas yang menghadap ke taman belakang. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga dari kebun kecil di bawah sana. Langit malam tampak begitu jernih, dihiasi bintang-bintang yang berkelip seolah menyapa, dan bulan bundar memancarkan cahaya lembutnya.
Nanon menatap ke atas, matanya memantulkan cahaya bintang. “Langitnya indah sekali malam ini,” ucapnya pelan, hampir seperti berbisik.
Ohm tersenyum, menatap Nanon lebih lama daripada menatap bintang. “Iya, indah… tapi masih kalah indah dibanding kamu,” katanya lirih.
Nanon tertawa kecil, menunduk sedikit, namun tak bisa menyembunyikan rona hangat di wajahnya. “Kamu bisa aja, Ohm,” balasnya, mencoba terdengar biasa saja, meski jantungnya berdetak lebih cepat.
Tanpa sadar, Ohm melangkah sedikit lebih dekat. Mereka saling memandang, membiarkan keheningan malam menjadi saksi. Dalam jarak sedekat itu, suara napas keduanya terdengar jelas. Ohm mengangkat tangannya, menyentuh lembut pipi Nanon, lalu tanpa banyak kata, ia maju dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Nanon.
Awalnya lembut, ragu, namun hangat. Nanon membalas dengan perasaan yang sama, mata terpejam, menikmati setiap detiknya. Ciuman itu semakin dalam, namun tetap penuh kelembutan, seperti ingin menyimpan momen itu dalam ingatan selamanya.
Ketika mereka akhirnya melepaskan diri, Ohm tersenyum kecil. “Kalau setiap malam seperti ini, aku nggak akan pernah bosan,” ucapnya.
Nanon hanya tersenyum, menatap Ohm dengan tatapan yang penuh arti, sebelum kembali memandang langit, seolah berbagi rahasia dengan bintang-bintang di atas sana.
Jangan lupa follow dan like
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
